17 Desember 2009
Kamis, 17 Desember 2009
Fujita Lab, TokyoTech
Sekarang aku sedang berusaha mengulas ulang 2 paper yang sempat terhenti (fokusnya). Paper tersebut berjudul Coverage Control for Mobile Networks with Limited-Range Anisotropic Sensors dan Energy-Balancing Cooperative Strategies for Sensor Deployment.
Aku kembali ke rutinitas ini, setelah 2 minggu sebelumnya mengerjakan Final Report dari kuliah Physic-Based Control System and Integrated Sensor Replacement. Sebuah kuliah intensive dari dosen tamu Prof. Robert D. Lorentz (University Wisconsin) selama setengah semester dengan durasi total 46.5 jam. Saya berniat untuk berbagi tentang ilmu ini pada kesempatan berikutnya.
Sore ini atau malam ini pukul 17.00 waktu setempat, aku akan meninggalkan lab dan menunaikan kewajibanku sebagai pekerja paruh waktu hingga pukul 18.30. Lalu, dilanjut dengan memenuhi undangan dari hostfamily-ku Fujiko Chan untuk menonton konser di Todoroki. Kemudian dilanjutkan dengan acara makan malam hingga pukul 21.30 rencananya. Setelah itu saya akan kembali ke rutinitas awal sesuai kebutuhan.
RvD
Last Event di Rabu Malam
Alhamdulilah..
Saya baru saja belajar banyak. Baik tersurat maupun tersirat di hati yang selalu gundah. =) *plaak
Terima kasih pada mereka yang menjadi tokoh utama dari skenario Tuhan-ku;
Mas Farid, Bahar, Mas Kunta, Mbak Bat, Isa, Mas Topan, Dita, dan Laras. Terlepas posisinya sebagai protagonis atau antagonis dalam catatan hatiku. Tapi, kedua golongan ini memberikan kombinasi cerita yang sangat bermakna dalam moment itu ataupun ke depannya. =D
Anyway, you choose your role, dude!
That`s why we call it, Life is a choice. *halah. Lah, kalau gak ada protagonis, mana ada antagonis =D
Yes, we can! =)
Dan pelajaran itu baru saja kutuliskan, walau saya berfikir untuk menjadikan private catatan harian dulu =). Tunggu tanggal lirisnya.. haha
RvD
I wish I was a Kid
Ketika itu aku berusaha jalan,
Walau tergopoh, jatuh dan menangis.
Aku bangkit dan mencoba lagi.
Aku tidak takut gagal
Walau daku harus terpuruk dan tersudut.
Aku pasti bisa bangkit dan mencoba lagi.
Ketika itu aku dengan mudahnya berkata
“Aku sayang kamu”
Walau aku tak tahu apa alasannya.
Apalagi makna cinta?
Lalu, mengapa kini harus punya alasan
untuk berkata, “Aku sayang kamu”.
Mengapa harus ada batas fisik, harta
otak atau apapun bentuknya.?
Mengapa harus mencari cinta sejati nan tulus?
Bukankah itu sudah ada pada dirimu sejak dulu?
Ketika itu aku bebas memilih,
Walau terkadang berakhir pada luka ataupun tangis.
Aku tetap berani memilih menurut nuraniku.
Aku akan tetap merasakan kebebasan itu.
Walau terkadang orang akan menganggap itu bodoh.
Kan kubiarkan nuraniku bebas terbang
Dari sangkar gengsi, ambisi, harga diri,
status sosial atau apapun bentuknya
Risvan. D
Dengan ‘Baito’ Hidup Anda Terjamin
“Baito atau arbaito adalah sebuah kata yang bermakna kerja paruh waktu. Kata ini tentu saja berasal dari bahasa Jepang.”**
Sebuah fakta yang cukup mencengangkan adalah seseorang yang cukup bekerja baito saja dapat hidup dengan nyaman di Tokyo. Anda mungkin meragukan pernyataan ini. Berikut saya paparkan sedikit perhitungan kasarnya.
Biaya hidup yang dibutuhkan dalam sebulan.
Rumah, Listrik, Air dan Perawatannya : sekitar 60.000 yen
Konsumsi : sekitar 35.000 yen
Transportasi (relative sih) : sekitar 10.000 yen
Kebutuhan lainnya : sekitar 10.000 yen
Saving (kita asumsikan) : sekitar 10.000 yen
Total : 125.000 yen
Sekarang kita menghitung pemasukan yang memungkin sebagai pekerja baito.
Standar yang berlaku di Tokyo, untuk 1 jam biasanya seorang pekerja baito standar dibayar 700-1000 yen (kita ambil angka 800 yen).
Dengan bekerja sebanyak 157 jam, mereka mampu memperoleh 125.600 yen.
Sekarang kita lihat sumber daya waktu mereka dalam sebulan.
1 bulan = 22 hari kerja = 176 jam kerja
Artinya dalam satu minggu cukup bekerja 40 jam saja, maka mereka sudah dapat menghasilkan uang sebanyak 125.X00 yen/bulan.
Begitulah salah contoh kehidupan di Tokyo ini. Tapi, untuk memperoleh baito bukanlah hal yang mudah. Dan bekerja sebagai pekerja baito tentu saja tidak terkesan “keren”. Jadi, bagi anda-anda yang merasa ‘berharga diri tinggi’, maka baito tidak tepat bagi anda =)
Walaupun demikian, ada sebuah baito yang lebih mengagumkan lagi. Sebagian besar teman di laboratorium saya memiliki baito. Salah seorang diantaranya dibayar 3500 yen/jam. Hmm…
Anda tentu ingin tahu bukan, jenis pekerjaan apa itu?
Dia bekerja sebagai guru privat anak SMP. (“Bayangkan, betapa berharganya sebuah ilmu di negeri ini mmm…”)
Anyway, saat ini saya juga termasuk seorang pekerja baito. Hal ini saya lakukan karena sebenarnya saya sudah kehilangan banyak uang secara tidak wajar. Salah satunya adalah bantuan dari ITB yang tidak turun karena saya diharapkan untuk memberikan tanda tangan (tanpa boleh diwakilkan) pada beberapa berkas. Sementara saya sudah terlanjur berada di Tokyo. Selain itu, saya akan kehilangan 1 juta rupiah setiap semester saya jika status cuti saya belum terurus juga. Tapi, apa daya? Terus menerus bergantung dan berharap pada kebaikan orang di jaman sekarang itu layaknya mencari jarum di tumpukan jerami. Sebuah cara yang paling memungkinkan adalah dengan menyingsingkan lengan baju saya sendiri.
Baiklah, sampai saat ini, baru 2 jenis baito yang saya lakoni.
Pertama, sebagai SPB (Sales Promotion Boy). Untuk SPB kali ini, saya memperoleh 12600 yen dalam 3 jam. Wah, sangat menggiurkan. Tapi, sayangnya untuk baito jenis ini sifatnya tidak rutin. Oleh karena itu, anda harus cukup membuka diri untuk mencari kesempatan seperti ini.
Kedua sebagai pengajar privat Bahasa Indonesia. Untuk baito jenis ini, saya dibayar 2500 yen/ jam. Sifat dari jenis baito ini adalah kontrak dari beberapa kali pertemuan (sifatnya tergantung kesepakatan dengan calon murid tepatnya =). Untuk memperoleh Baito ini, anda juga harus membuka diri dan pandai melihat peluang. =D
Memperoleh sejumlah uang memang menyenangkan, tetapi salah satu point yang paling penting adalah apakah anda akan terus diperbudak uang? =D
*Teman saya juga mengatakan bahwa salah satu penyebab goyangnya perekonomian Jepang adalah jumlah pekerja Baito yang meledak.
**Arbaito=arubaito merupakan kata serapan dari `arbeit`.
Waktu-ku Hanya 13 Hari
Waktuku tidak lebih dari 13 hari, saat tulisan ini kubuat. Biasa, deadline final report kuliah-lah, apalagi coba??
Sederhana saja, yang buat kepalaku puyeng itu cuma 2 pertanyaan :
“Mau diapain nih system (objek) ? “
dan
“Mau mulai dari mana?”.
Sebenarnya, pertanyaan-pertanyaan begini sering terjadi dalam hidup setiap orang. Ada beberapa kemungkinan penyebabnya. Bisa karena ragu, kurang informasi, panik, tidak punya waktu, malas dan bosan.
Untuk kasus saya, tampaknya hanya disebabkan 3 diantaranya, yakni malas, bosan dan kurang informasi.
Sekarang kita uraikan :
- Malas karena cuacanya enak untuk tidur <halah..>
- Bosan karena kepalaku udah panas dan mengembang rambutnya.
- Kurang informasi karena aku sering falling in love.. eh falling in sleep (*maksa) ketika kuliah.
Dan aku belum bisa menjawabnya sekarang, karena aku harus melewati 13 hari itu terlebih dahulu.
Doakan aku ketemu cara mengatasinya.. =D
NB : Bocoran nih, ada niat mau nulis tentang, Jepang, Tokyo, Baito, Konser, Perform Tari, Riset, Ujian, PPI-an, TISA dan lain-lain. Tapi, gak tau kapan? Taunya keburu lupa aja. *plaak.. =D.Niatnya juga mau di-inggris-in, tapi ntah kapan? =D
Risvan D.
Rapuhnya Sang Pemimpi
Malam itu..
Benar aku..
Menikmati indahnya karya manusia ini..
Menghiasi indahnya ukiran alam sang pencipta..
Cahaya lampu itu..
Menghias indah gedung-gedung yang menjulang tinggi dengan gagahnya..
Sebuah jembatan membentang lantang..
Layaknya gapaian tangan masiv yang menyatukan dua daratan..
Tapi,
Semangatku runtuh..
Persis bersamaan dengan titik statis keindahan yang kurasa..
Pecah berserakan..
Tubuh letih yang selama ini tak terasa berkat topangan semangat yang menggebu..
Lunglai..
Rasa yakin,
Rasa percaya,
Rasa nyaman,
Yang selama ini abu-abu..
Menjadi hitam kelam..
Rasanya, tak pantas aku menyalahkan Tuhan-ku dan Rasul-ku..
Tapi manusia bodoh dan penuh keterbatasan ini tidak berdaya.
Sudah kucoba untuk terus belajar.
Sudah kucoba tuk menembus limitku.
Tiada kenyamanan yang kurasakan.
Bahkan aku semakin ragu dengan keadilan-Mu.
Bahkan aku semakin ragu dengan kedigdayaan-Mu.
Perlahan kurasakan pelukan-Mu semakin dingin.
Perlahan kau padamkan api semangat untuk mewujudkan visi-ku
Visi yang kulandaskan pada keinginan-Mu.
Tapi, hanya Engkau Tuhan-ku.
Tempat aku mengadu dan menangis dalam kesunyian malam-Mu.
Pada titik ini aku menyerah.
RvD
Bridgestone Co, – FST2
Kodaira, Tokyo would be our destination for the second factory study tour. There are various companies center such as Toyota, Honda, NEC, Bridgestone etc.
After about 1.5 hours trip, finally, we arrived in the Bridgestone`s Offices. This area consists of some offices and factories. The welcome was simple and effective. We arrived in front of the main office and an officer leads us to a big meeting room or it could be a hall. The Bridgestone`s staff explained about the schedule, the procedure and the regulations that we had to know and obey.
Based on the schedule, the first thing that we had to do was the introduction`s presentation. This presentation told us many information. According to this presentation, Bridgestone was found by Shojira Ishibashi on March 1, 1931. What unique is Ishibashi means Bridgestone. So, the founder named his company by its surename. This presentation also informed us that there are at least 3 big companies which hold most of tire`s market in the world. They are Bridgestone, Michelin and Goodyear. And the biggest one is Bridgestone with 16.7% of world`s market.
Bridgestone provides various type of tire based on the function. It provides tires for Cars, Trucks, Bus, Airplane, Motorcycles, Race, and also Construction. In order to provides that various tires, Bridgestone should produce all of the tires. Producing tires needs many kind of materials such as Rubber, Carbon, Tire Cord, Bead Wire, Compounding etc.
After Production process, the tires will be tested by CT Scan, FEM Simulation and Snow Surface. This test is held in order to control the quality of production.
Instead of tires, Bridgestone also produce divers production (19%, 81% is tires) which are consists of rubber inside. For example, Conveyor Belt, Rubber Track, Bath Tub, Seat Pads, Seismic Isolation Rubber, Rubber House etc. The newest invention of Bridgestone in Divers Production is Electronic Paper which will be used in Electronic Sheet Tags. This product has more advantage in Energy Saving and Excellent Visibility.
In the end of this presentation, the HR Manager of Bridgestone also gave us some information about the human resources condition in this company. There are 137.000 employees in this company and not so many foreigner in that number.
After the presentation, there was a video shown to us. The video describes about the production line and process in Bridgestone and also the main function of a tires.
There are at least four main function of a tire;
- Supporting Vehicle Weight. In this case, a tire should strong enough to support the weight of vehicle and any possibilities which increase the total weight. Instead of that, the tires should soft enough to keep the vehicle to be comfort enough.
- Transmitting Driving and Breaking Forces. In this case, any shock movement which produce heat because of opposite force of original movement, will be reduced by the tire.
- Steering Function (Maintaining and Changing Direction). In this case, the changing of direction has to be well controlled because it is crucial for stability and controllability of the vehicle.
- Absorbing Shock from road surface. In this case, absorbing shock will reduce any vibration. The exact material`s composition of tires is needed.
By the factory tour, we can found at least 6 process of production in Bridgestone. There are Providing material, Mixing Process, Parallel Process (consist of Treading Extruding Process, Carcass Ply Manufacturing Process, Belt Manufacturing Process and Bead Manufacturing Process), Building Process, Vulcanizing Process and Final Check. Most of factory`s process use the temperature, pressure, and physical changes.
In the museum, It is prohibited to take a picture. So, there were no documentation about it. Despite that, we can found a lot of information about the technology that this company use. For example, Eco Product Simulation, Seismic Isolation Rubber Simulation, Type of tires based on road condition, Raw material mapping, etc.
As a worldwide company, Bridgestone has fulfilled its goal to become a truly global enterprise and to establish the Bridgestone brand as the undisputed world No. 1 brand in both name and substance. And right now, this company is producing another product (human need) and also considering the ecological & environment aspects.
Risvan D.
Life Safety Learning Center-FST1
This first factory study tour was held in Honjo Bosai-kan, one of the largest life safety learning center presented by Tokyo Fire Department in Japan. As we know, Japan is a country which is attacked by various enough natural disaster. A geographic position of this country which is located on the pacific circle of sea mountain, placing this country as easy attacked country by natural disaster. Earthquake attacks Japan frequently and Typhoon is easily coming from the pacific ocean. But, in fact, Japan is one of the safest place to live in the world. Furthermore, as a countermeasure of that natural disaster, Japan, in this case Tokyo Fire Department, provide a life safety learning center for the citizens.
We began the visit by the presentation of the company which is presented in Japanese language. This learning center provides various simulation in order to share information to the visitor about life safety whether any disaster is happened at the time.
The first facility presented is 3-D Theater which is located in the fourth floor of the building. A 3-D movie which is shown described the panic situation that could be happened whether a disaster is happened, in this case an earthquake. An earthquake could make people panic. In panic situation, fire, collision etc can be happened and make everything worse. This panic situation can be avoided, if everybody knows what to do when an earthquake is happened. That`s why everybody should knows what to do before, after and when a disaster is happening.
After enjoying the movie, all the YSEP`s students, as visitors, divided into many groups. Every group consists of approximately 15 persons. Each groups has different route to experiencing the disaster simulation.
The first disaster simulation which my group is visiting was Fire Fighting Training Section. There was a screen which show us the situation when a fire is happening. The guide told us the procedure to do if there is any fire. We should prepare a fire extinguisher in every room, pull the cover off, hold the pipe, control it into the target and use it until it`s empty when a fire shows up.
The second disaster simulation was Rainstorm Simulation. In this section, everybody should use rain jackets to avoid water through our clothes. All of the member of the group went inside the simulation room. An simulation storm was operated. This situation should make people hard to move. Each motion which we want to do is disturbed by the wind, water and the storm. A few days before this factory study tour, there was a thypoon came to Tokyo. This rain storm simulation section actually gave the same experience just like the real one. In order to protect ourselves against this storm, we should hold on something which guarantee us to have the best position. The best position means that we will save from any stuff that can hit us and strong enough in order not to be carried by the storm.
Back to the second floor, we went to Smoke Maze Section. This simulation is presented to teach people how to do when a fire is happening in a building. As we know, in Japan or maybe many countries in the world, there will be a sign for emergency exit. If there is a smoke in the building, the sign will be on. Even there is smoke, people still can see the sign and follow the sign to go out of the building. Everybody should bent when they are following the sign and of course cover their mouth and nose. As an addition information, if there is an fire and smoke are spreading a room, then that doors which are connected to the other room will be closed automatically. This strategy will hold the smoke`s movement to the other room.
The last simulation which we visited was earthquake simulation section. Before doing the simulation, an film was shown to inform us the prevention action to avoid an earthquake. Some of them are, locating the furniture in the fix and save position, providing water in the bathtub, pulling off all of electronic equipment if they are not used, creating the best strategy to escape from the dangerous location, knowing the neighborhood area well, planning to help the other people, etc. In this section, there would be 7 S.R earthquake is simulated in the simulation stated. The guide informed us that we have turn off all of the electrical equipment, pull the plug off, take the pillow to cover your head, and hide under the table but hold the table until the earthquake is finished. After that, we should open the door and go out of the house.
We will never know when a disaster come, may be we can detect earlier but we will never know the exact time and how it moves. So, providing ourselves to face a disaster and providing any prevention action are the best way to escape and save ourselves from a disaster, especially a natural disaster.
Regrads,
Risvan D.

FST1's Participants
They said “You’re a YSEP Student and you should experience long term research!”
September 25th 2009, I had arrived in Narita International Airport, Tokyo. I will be living in this city for 1 year as an ordinary YSEP (Young Scientist Exchange Program) Student in Tokyo Institute of Technology (Tokodai). This program will provide each overseas student with the first opportunity to experience long term research in the SOTSURON (Research Project) as well as related subjects and courses of Japanese language and society. Anyway, next time, I’ll write about this program specifically.
I would like to share my experience as YSEP-TokyoTech student in this blog. But, before the story ‘roll on’, I prefer to introduce myself first.
Name :
Risvan Dirza ( and you should accept that I have no family name =) )
NIM :
132 06 096
Deparment :
Electrical Engineering,
(has special interest in control Engineering & Industrial Engineering)
School of Electrical Engineering and Informatics (SEEI)
Home University :
Bandung Institute of Technology (ITB)
In YSEP Program,
Sometimes, Nihon-jin calls me Ri-su-ban (cause of katakana)
ID Student :
09R12111
( 09 means entering TokyoTech in 2009)
(R means research student )
(12111 means, .. I think just a number )
Laboratory :
Research Topic :
Specifically, hasn’t been discussed yet. (My professor is in Germany right now)
But, general topic is about Cooperative Control & Mobile Sensor Network.
Department :
Department of Mechanical & Control Engineering.
University :
Tokyo Institute of Technology (Tokyo Kogyo Daigaku)
The reason of joining YSEP Program : LUCK & ACCIDENT!!
Thanks..
Risvan D.

“Lamaranmu Kutolak!!!”
Mereka, lelaki dan perempuan yang begitu berkomitmen dengan agamanya.
Melalui ta’aruf yang singkat dan hikmat, mereka memutuskan untuk
melanjutkannya menuju khitbah.
Sang lelaki, sendiri, harus maju menghadapi lelaki lain: ayah sang perempuan.
Dan ini, tantangan yang sesungguhnya. Ia telah melewati deru
pertempuran semasa aktivitasnya di kampus, tetapi pertempuran yang
sekarang amatlah berbeda.
Sang perempuan, tentu saja siap membantunya. Memuluskan langkah mereka
menggenapkan agamanya.
Maka, di suatu pagi, di sebuah rumah, di sebuah ruang tamu, seorang
lelaki muda menghadapi seorang lelaki setengah baya, untuk ‘merebut’
sang perempuan muda, dari sisinya.
“Oh, jadi engkau yang akan melamar itu?” tanya sang setengah baya.
“Iya, Pak,” jawab sang muda.
“Engkau telah mengenalnya dalam-dalam? ” tanya sang setengah baya
sambil menunjuk si perempuan.
“Ya Pak, sangat mengenalnya, ” jawab sang muda, mencoba meyakinkan.
“Lamaranmu kutolak. Berarti engkau telah memacarinya sebelumnya? Tidak
bisa. Aku tidak bisa mengijinkan pernikahan yang diawali dengan model
seperti itu!” balas sang setengah baya.
Si pemuda tergagap, “Enggak kok pak, sebenarnya saya hanya kenal
sekedarnya saja, ketemu saja baru sebulan lalu.”
“Lamaranmu kutolak. Itu serasa ‘membeli kucing dalam karung’ kan, aku
takmau kau akan gampang menceraikannya karena kau tak mengenalnya.
Jangan-jangan kau nggak tahu aku ini siapa?” balas sang setengah baya,
keras.
Ini situasi yang sulit. Sang perempuan muda mencoba membantu sang
lelaki muda. Bisiknya, “Ayah, dia dulu aktivis lho.”
“Kamu dulu aktivis ya?” tanya sang setengah baya.
“Ya Pak, saya dulu sering memimpin aksi demonstrasi anti Orba di
Kampus,” jawab sang muda, percaya diri.
“Lamaranmu kutolak. Nanti kalau kamu lagi kecewa dan marah sama
istrimu, kamu bakal mengerahkan rombongan teman-temanmu untuk mendemo
rumahku ini kan?”
“Anu Pak, nggak kok. Wong dulu demonya juga cuma kecil-kecilan. Banyak
yang nggak datang kalau saya suruh berangkat.”
“Lamaranmu kutolak. Lha wong kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok
mau ngatur keluargamu?”
Sang perempuan membisik lagi, membantu, “Ayah, dia pinter lho.”
“Kamu lulusan mana?”
“Saya lulusan Teknik Elektro UGM Pak. UGM itu salah satu kampus
terbaik di Indonesia lho Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kamu sedang menghina saya yang cuma lulusan STM
ini tho? Menganggap saya bodoh kan?”
“Enggak kok Pak. Wong saya juga nggak pinter-pinter amat Pak. Lulusnya
saja tujuh tahun, IPnya juga cuma dua koma Pak.”
“Lha lamaranmu ya kutolak. Kamu saja bego gitu gimana bisa mendidik
anak-anakmu kelak?”
Bisikan itu datang lagi, “Ayah dia sudah bekerja lho.”
“Jadi kamu sudah bekerja?”
“Iya Pak. Saya bekerja sebagai marketing. Keliling Jawa dan Sumatera
jualan produk saya Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kalau kamu keliling dan jalan-jalan begitu, kamu
nggak bakal sempat memperhatikan keluargamu.”
“Anu kok Pak. Kelilingnya jarang-jarang. Wong produknya saja nggak
terlalu laku.”
“Lamaranmu tetap kutolak. Lha kamu mau kasih makan apa keluargamu,
kalau kerja saja nggak becus begitu?”
Bisikan kembali, “Ayah, yang penting kan ia bisa membayar maharnya.”
“Rencananya maharmu apa?”
“Seperangkat alat shalat Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kami sudah punya banyak. Maaf.”
“Tapi saya siapkan juga emas satu kilogram dan uang limapuluh juta Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kau pikir aku itu matre, dan menukar anakku dengan
uang dan emas begitu? Maaf anak muda, itu bukan caraku.”
Bisikan, “Dia jago IT lho Pak”
“Kamu bisa apa itu, internet?”
“Oh iya Pak. Saya rutin pakai internet, hampir setiap hari lho Pak
saya nge-net.”
“Lamaranmu kutolak. Nanti kamu cuma nge-net thok. Menghabiskan
anggaran untuk internet dan nggak ngurus anak istrimu di dunia nyata.”
“Tapi saya ngenet cuma ngecek imel saja kok Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Jadi kamu nggak ngerti Facebook, Blog, Twitter,
Youtube? Aku nggak mau punya mantu gaptek gitu.”
Bisikan, “Tapi Ayah…”
“Kamu kesini tadi naik apa?”
“Mobil Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kamu mau pamer tho kalau kamu kaya. Itu namanya
Riya’. Nanti hidupmu juga bakal boros. Harga BBM kan makin naik.”
“Anu saya cuma mbonceng mobilnya teman kok Pak. Saya nggak bisa nyetir”
“Lamaranmu kutolak. Lha nanti kamu minta diboncengin istrimu juga? Ini
namanya payah. Memangnya anakku supir?”
Bisikan, “Ayahh..”
“Kamu merasa ganteng ya?”
“Nggak Pak. Biasa saja kok”
“Lamaranmu kutolak. Mbok kamu ngaca dulu sebelum melamar anakku yang
cantik ini.”
“Tapi pak, di kampung, sebenarnya banyak pula yang naksir kok Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kamu berpotensi playboy. Nanti kamu bakal selingkuh!”
Sang perempuan kini berkaca-kaca, “Ayah, tak bisakah engkau tanyakan
soal agamanya, selain tentang harta dan fisiknya?”
Sang setengah baya menatap wajah sang anak, dan berganti menatap sang
muda yang sudah menyerah pasrah.
“Nak, apa adakah yang engkau hapal dari Al Qur’an dan Hadits?”
Si pemuda telah putus asa, tak lagi merasa punya sesuatu yang berharga.
Pun pada pokok soal ini ia menyerah, jawabnya, “Pak, dari tiga puluh
juz saya cuma hapal juz ke tiga puluh, itupun yang pendek-pendek saja.
Hadits-pun cuma dari Arba’in yang terpendek pula.”
Sang setengah baya tersenyum, “Lamaranmu kuterima anak muda. Itu
cukup. Kau lebih hebat dariku. Agar kau tahu saja, membacanya saja
pun, aku masih tertatih.”
Mata sang muda ikut berkaca-kaca.
Ini harus happy ending, bukan?
-
Archives
- December 2009 (6)
- November 2009 (2)
- October 2009 (1)
- August 2009 (3)
- June 2009 (4)
- May 2009 (3)
- April 2009 (5)
- March 2009 (14)
- February 2009 (8)
- May 2008 (2)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS