Home > Thought > Belajar Memandang Dengan Hati (1)

Belajar Memandang Dengan Hati (1)

Shofu Dormitory, 02.58, 11 Januari 2010

Baru saja saya membaca berbagai artikel dari setidaknya dua sudut pandang manusia dengan komunitas yang berbeda. Beberapa artikel itu misalnya tentang konflik Palestina-Israel, Negara Maju-Negara Berkembang dan sebagainya. Sangat banyak, selain karena memang mau tidak mau waktu tidur saya selalu terganggu dengan keadaan yang sebenarnya tidak saya harapakan. Tapi, saya yakin selalu ada alasan kenapa semua itu terjadi. Mungkin salah satunya adalah saya dituntut untuk kembali konsisten melakukan qiyamu lail dan tentu saja mengurangi waktu tidur dengan lebih banyak merenung dan belajar terhadap kejadian-kejadian yang saya alami dan berusaha kembali merestart ulang makna kehadiran saya di dunia, menangis, tumbuh, berfikir dan berbuat. Kembali merendahkan diri dan hati, dan menciumi bumi-Nya. Lalu, kembali melangkah di jalur itu.

Salah satu perhatian saya dalam menjalani hidup ini adalah sebuah perdebatan. Perdebatan muncul dari setidaknya dua sudut pandang yang berbeda. Dalam definisi tulisan ini, perdebatan akan selalu menghasil satu pendapat yang paling benar menurut salah satu sudut pandang dengan “mematikan” pendapat lain.

“Di awal puber saya, memenangkan perdebatan mungkin secara tidak sadar menjadi sesuatu yang penting saat itu. Lalu, pendapat yang lain, saya matikan.”

“Sejalan dengan waktu, saya mulai ogah dengan perdebatan. Mungkin karena belakangan saya sadar bahwa setiap orang bebas berpendapat dan berjalan di jalur yang dia pilih.”

“Sekarang,  saya menjadikan perdebatan sebagai salah satu lelucon/jokes mungkin karena figur-figur pendebat ulung yang jago bersilat lidah itu menurut saya sebagai salah satu pelawak cerdas =D”

Saya akan memaparkan satu contoh kasus. (Sekali lagi saya tekankan, ini hanya contoh ya!)

Kasus :

Sudut Pandang A

Mahasiswi Barat diperbolehkan ke kampus dengan berbagai atribut hiasan dan pakaian yang disukainya, dengan alasan hak asasi dan kemerdekaan mengekpresikan diri. Lalu, menganggap mahasiswi muslimah berkerudung dan bercadar sebagai orang eksklusif dan berpikiran sempit dan tidak sesuai dengan peraturan.

Susut Pandang B

Muslimah menganggap berpakaian menutup aurat adalah sebuah keindahan dan kewajiban untuk melindungi diri dari kemungkinan buruk. Lalu, menganggap mahasiswi barat sebagai manusia vulgar yang tidak mampu menghargai dirinya dengan membuka aurat seenaknya.

Jika kedua sudut pandang ini diadu, tentu saja pada akhirnya adalah perdebatan tiada akhir dan ujungnya adalah perselisihan. Diri sisi saya, mungkin cara memandang yang cukup universal adalah “Mahasiswi barat indah dengan pakaian pilihannya dan wanita muslimah anggun dengan pakaiannya karena setiap pakaian adalah aksesoris bagi wanita dan hak dia menentukan jenis pakaiannya berdasarkan landasan apapun dengan catatan selama tidak merugikan orang secara langsung atau pasti” .

Kalau kita breakdown ke dalam langkah-langkah, maka

1) Hapus pendapat negatif dan pendapat merendahkan pihak lain.

2)Ambil semua pendapat positif, lalu tarik konsep awalnya.

Oiya, menurut saya pribadi perdebatan ‘mematikan’ (keras kepala) akan tetap saya lakukan jika sudut pandang itu merugikan saya secara langsung. Misal : “Seorang muslim adalah teroris”. Maka, saya akan meluruskan dengan, “ada sebagian muslim yang teroris, dan ada sebagian teroris yang bukan muslim” =)

*Susahnya, semuanya itu berawal dari hati. Sayangnya, variabel hati itu lebih kompleks dari bilangan kompleks sekalipun. Oiya, satu lagi, isi hati bisa berbeda ternyata dengan perawakan, tampilan dan omongan =D serem yah!?? (*maklum sering jadi korban juga.. hehe..)

Categories: Thought
  1. me
    January 10, 2010 at 10:40 pm

    bener banget tuh van…
    melakukan sesuatu harus pakai hati dan memandang setiap hal nggak boleh subjektif,,, selalu berpikir positif bisa mencairkan suasana, tapi kalau sampai tauhid kita yang dihujat, perang sekalipun no problem…(Allahu Akbar!!!)
    jadi teringat artikel yang baru dibaca di sebuah majalah Islam ternama di Indonesia, yang ditulis oleh DR. Ali Al Hammadi. begini kata beliau melalui tulisannya :
    ” dialog atau debat. dua titik sikap ini, meski hampir bertolak belakang artinya, tapi dalam beberapa hal memiliki tujuan yang sama. dialog secara umum, lebih mempunyai etika ketimbang debat. dialog juga lebih bisa sampai ke hati pihak lain. meski penting diingat, bahwa dialog pun menyimpan obsesi sendiri untuk bisa mencapai suatu kebenaran dan kemenangan pihak tertentu. tapi kebenaran dan kemenangan dalam dialog, tidak dilakukan untuk kebenaran dan kemenangan yang bersifat individu, menampilkan kekuatan otot, dan menjatuhkan pihak lain.”
    Alloh SWT juga tidak memuji sikap debat (QS AL Ankabut : 46)
    so, tetap istiqomah n trus semangat ya akhi!!!

    • January 11, 2010 at 7:47 am

      wah, terima kasih atas beberapa masukkan dan kommennya ya.. =)

      • me
        January 11, 2010 at 10:07 pm

        usruriy…: )

  2. aku
    January 26, 2010 at 12:31 am

    Perdebatan atau dialog sangat dibutuhkan untuk mencari simpul dari benang kusut, bukan untuk mencari siapa benar dan siapa yang salah (debat kusir). Sebagai seorang muslim kita wajib berpikir dengan sudut pandang Islam untuk setiap masalah dalam hidup kita. Jangan jadi orang sekuler or Islam tapi sekuler yang seenaknya memisahkan agama dari kehidupan. Agama lain iya, tapi Islam jelas gak bisa dipisahkan dari kehidupan, kenapa??? Karena seorang muslim itu harus terus terikat dengan syariahNya fullday. Setiap perbuatan ada hukumnya, wajib, sunnah, mubah, makruh, haram. Dan setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban.

    • January 31, 2010 at 2:05 am

      coba bayangkan apa yang terjadi kalau simpul benang kusut itu sedang dicari oleh beberapa orang dengan latar belakang yang berbeda.. =) Apa yang terjadi?..

      Saya rasa akan tambah kusut..hehe..

      Jadi, serahkan permasalahan benang itu pada tukang jahit. Dan tukang jahit itu juga harus profesional dan cerdas sehingga dia dapat selesaikan kekusutan itu lebih cepat. =)

      Ketika kita mulai berfikir untuk mengelompokkan suatu komunitas, maka kemudian kita akan terus mengelompokkan lagi kelompok yang kita buat. Kenapa?

      Karena Manusia itu diciptakanNya dengan berbeda (bahkan si kembar sekalipun) =)

      Hindarilah perpecahan, tapi carilah persamaan sehingga kita bisa merasakan kebersamaan =)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: