Home > Academic & Technology > Kendali Optimal Penyimpanan Energi Baterai untuk Penyaluran Sumber Daya Angin (Bag. I)

Kendali Optimal Penyimpanan Energi Baterai untuk Penyaluran Sumber Daya Angin (Bag. I)

Posted by : Risvan Dirza

Pembangkit listrik tenaga angin (selanjutnya akan disebut PLTAn) sebenarnya cukup umum digunakan di negara-negara yang memiliki potensi angin yang besar seperti Belanda, Jerman, Inggris dan lain-lain. Sejujurnya saya berpendapat bahwa negara kepulauan dan yang memiliki garis pantai yang panjang memiliki potensi angin yang lumayan besar.

Terkait dengan keberadaan PLTAn ini, pada paper yang saya baca ini, diberitahukan bahwa dengan meng-integrasikan Battery Energy Storage System (Sistem Penyimpanan Energi Baterai-selanjutnya akan disingkat BESS) pada ladang angin yang besar akan membuat sebuah ladang angin lebih dapat mengirimkan. (Kemungkinan, makna ladang angin disini adalah daerah sumber daya angin). Jadi, goal paper ini adalah untuk membuat sebuah strategi kendali optimal pada penggunaan BESS ini.

Sebuah kendali optimal open loop dipertimbangkan untuk menggabungkan batasan operasi dari BESS seperti charge limits, charge/discharge limit arus dan lifetime. Goal dari pengendalian yang dilakukan adalah agar BESS mampu menyediakan daya se-smooth mungkin sehingga ladang angin dapat dikirim setiap jamnya berdasarkan perakiraan kondisi angin. (Efektifitas strategi kendali ini sudah dibuktikan berdasarkan data lapangan). Selanjutnya, strategi implementasi real dengan menggunakan Model Predictive Control juga akan didiskusikan.

Angin merupakan salah satu energi terbaharukan yang banyak memberikan konstribusi pada manusia akan kebutuhan energi. Akan tetapi, layaknya energi matahari (solar energy), energi angin cenderung tidak stabil karena dipengaruhi oleh kecepatan angin yang bergantung pada kondisi alam. Keadaan ini akan mengakibatkan fluktuasi, yang berujung pada penyimpangan tegangan, frekuensi jaringan, kualitas energi, proteksi, ketahanan, dan sebagainya.

*Artikel ini akan saya update untuk memperlihatkan contoh keluaran energi PLTAn (Kapasitas 50 MW). Lihat Bawah

Contoh Keluaran

Dengan kondisi daya se-fluktuatif itu, maka dibutuhkan kondisi dimana ladang angin mampu dikirimkan layaknya sebuah unit pembangkit konvensional.

BESS skala besar sangatlah mahal. Oleh karena itu, mengoptimasi pengunaan BESS dengan strategi kendali akan sangat menguntungkan. Urutan pembahasannya akan dimulai dari investigasi pada hal desain kendali dasar seperti batasan operasi BESS, kapasitas converter dan penyimpanan yang dibutuhkan untuk memperhalus daya keluaran yang berselang dari turbin angin, sehingga ladang angin dapat dikirimkan per jam. Lalu, akan diperkenalkan skema kendalinya. Di akhir, akan ditunjukkan hasil test penelitian di paper ini.

Untuk hari ini, ulasan saya sampai di sini dulu. Besok, saya memiliki satu jam untuk mengulas paper ini. Mudah-mudahan sempat untuk sembari menuliskannya di blog ini.

Mohon doanya.

Wassalam.

RvD

Kendali Optimal Penyimpanan Energi Baterai untuk Penyaluran Sumber Daya Angin (Bag. II)

Categories: Academic & Technology
  1. eng
    May 9, 2010 at 9:02 am

    van, di lab akagi itu BESS sedang hangat2nya dikembangkan.. coba kau tanya ipul, trus plt angin biasanya disebut PLTB (bayu)😛.. tetap semangat…, (btw ini untuk yang ke jerman itu>?? )

    • May 9, 2010 at 9:15 am

      Wuiss.. mantab sekali.. haha.. Iya, kemaren juga tanya2 dia dikit.
      Oiya, lupa awak, PLTB lebih enak ditulis ya..😛. Daripada PLTAn atau PLTngin apalagi PLTengil😀.
      Iya mas, niat awalnya begitu, tapi awak gali ilmu dululah😀. Kalau sempat ya dicoba, kalau gak sempat ya itung2 tambah ilmu :p.
      Gimana? Udah mulai hunting ya?😀

  2. eng
    May 9, 2010 at 9:26 am

    saya mah masih sibuk kuliah nih T_T beresin ujian dulu…

    • May 9, 2010 at 1:35 pm

      sambilan aja :p..
      sang master, masak nyerah ama kuliah😛
      hehe.. peace mas..
      sukses dengan kuliahnya🙂

  3. May 9, 2010 at 12:24 pm

    “Sejujurnya saya berpendapat bahwa negara kepulauan dan yang memiliki garis pantai yang panjang memiliki potensi angin yang lumayan besar.”

    Ummm, sepertinya tidak bisa digeneralisasi seperti itu, Van. Faktanya, Indonesia yang merupakan negera kepulauan dan garis pantai yang panjang ‘hanya’ memiliki potensi angin untuk PLT(B/An/ngin/engil)di kawasan Nusa Tenggara…

    *disclaimer: pendapatku di atas keluar dari pengetahuan saya yang tidak seberapa, malah cenderung sok tahu. Mohon dikoreksi kalau salah. Terima kasih.

    • May 9, 2010 at 1:14 pm

      Wah, makasih mas atas masukkannya..
      Penting ini, setidaknya, daerah sunda kecil bisa buat pembangkit lokal dengan potensi lokal.😀

      Aku rasa dengan “pembangkit lokal dengan potensi lokal” ini bisa mengurangi losses ketika distribusi dan pemborosan biaya transportasi sumber daya (maksudnya, kalau pakai potensi lokal gak perlu “import” sumber daya dari daerah lain🙂 )

      Hmm.. aku juga belum tau nih, kecepatan minimal angin yang harus ada agar mampu jadi potensi sumber daya angin🙂
      Tau mas?
      Terima Kasih.

      • May 9, 2010 at 1:25 pm

        Setuju. aku rasa seribu pembangkit lokal akan lebih baik daripada satu pembangkit super dengan jalur distribusi yang banyak loss-nya (mulai dari loss karena korupsi, sampai dengan loss yang terjadi karena hukum fisika :D)…

        Wah, dulu sih tahu (karena punya ketertarikan pada Renewable Energy termasuk PLT-Angin juga, dari sisi Mechanical Engineering tapinya)… tapi sekarang lupa (gak hafal), jadi daripada salah ngomong, lebih baik cari2 info lagi dulu deh hehehe…

        btw, seinget saya, parameternya bukan hanya kecepatan angin, tapi juga density, debit, dan selang waktu aliran. kasarnya, potensi angin rendah tapi stabil lebih baik daripada potensi tinggi (misalnya topan badai :D) tapi tidak stabil.

        Yah, gitu deh. i

      • eng
        May 9, 2010 at 1:27 pm

        tergantung turbin angin yang digunakan van, bisa baca2 blog kami (konversi.wordpress) untuk yang umum biasanya minimal cut off nya 7 m/s sementara di indonesia rata2 sekitar 4 m/s, dan itupun tidak kontinu, hanya di Nusa tenggara saja yang masih mendingan

  4. May 9, 2010 at 4:32 pm

    @Mas Goyo aka [GM]
    haha..😀
    Ketemu judul penelitian baru mas “Hubungan antara jarak sumber daya energi dengan losses non-fisik”. :p *mulai ngaco saya😀

    wah, terima kasih mas atas info parameternya, pada artikel lanjutannya informasinya akan diperbaharui dan diturutsertakan😀

    Kalau ada tabel keterkaitan antara parameter di atas dengan material turbin anginnya mungkin bisa dibuat turbin angin yang sesuai dengan kondisi alam di Indonesia. Mungkin gak ya? Ini cuma hipotesis aja hehe..

    Anyway, Makasih banyak atas masukannya mas.. d^^b

    @Mas Firman aka Eeng
    sip akan meluncur ke TKP gan😀
    Judul artikelnya apa? hehe..

  5. November 22, 2010 at 4:14 am

    Risvan -先輩は、あなたが実際には持って非常に日記に興味深い🙂

    • January 15, 2011 at 11:57 pm

      thanks Tejo..🙂

  1. May 9, 2010 at 4:21 am
  2. May 10, 2010 at 1:47 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: