Home > Japan, Thought > Jepang, Menurut Saya..

Jepang, Menurut Saya..

Mungkin tidak ada judul yang lebih tepat daripada “Jepang, Menurut Saya..”, karena artikel ini adalah pandangan subjektif saya terhadap negeri matahari terbit ini. Secara tidak saya sadari, tampaknya artikel ini akan lebih banyak mengarah pada stereotipe orang Jepang-nya sendiri. Dengan harapan, ada korelasi dengan kondisi terkini negara asia timur ini.

1. Orang Jepang itu.. LEBBAYY!!. Kata bakunya adalah “berlebihan”. Maksudnya adalah mereka berlebihan dalam berekspresi, berbicara dan bergaya. Walaupun mereka pada awalnya terlihat calm, ternyata kalau anda sudah “find their bottom and push it very hard”, maka, bersiap sajalah dengan ekspresi yang berlebihan untuk hal yang menurut kebanyakan orang tidak seberapa. Dalam hal, bercuap-cuap (berbeda dengan berjanji), tampaknya orang asia cukup lihai membuat sebuah cerita menjadi menarik. Setidaknya, itulah yang hendak mereka coba sampaikan walaupun terkadang terkendala dengan masalah bahasa (i.e. English, katanya mereka malu berbicara dengan bahasa asing, kurang percaya diri). Kalau bergaya, anda boleh lihat harajuku, shibuya dan tempat-tempat LEBBAY😉.

Apakah orang-orang Indonesia yang sekembali dari Jepang akan menjadi LEBBAYY juga? Kalau memang mereka berbaur dengan warga Jepang, maka kemungkinan mereka akan “LEBAY” juga. Kalau tidak berbaur, tentu saja seperti orang Indonesia pada umunya karena kemungkinan besar mereka bergaul dengan sesama orang Indonesia. Yang aneh itu adalah “tidak berbaur, tapi pulang-pulang LEBAY“. Biar keliatan Jepang-nya gethoo..!! ^_^! (haddooohhh!! :D)

2. Orang Jepang itu, “SHY. Kata bakunya adalah pemalu. Tapi, sebenarnya itu hanya berlaku di awal saja. Setelah itu.. tampaknya urat malu mereka akan hilang. Mungkin, tepatnya, mereka jarang memulai untuk menyapa dalam sebuah komunitas yang plural. Entah karena kendala bahasa atau masalah “kekurangan” lainnya .. ^_^V. Masalah inisiatif ini tampaknya disebabkan oleh pola sosial budaya yang berlaku di negeri ini. Sudah jadi rahasia umum bahwa prinsip “Kohai-Senpai” atau “Senior-Junior” masih sangat kental di sini. Masih ingat prinsip perploncoan? “1. Senior tidak pernah salah 2. Jika senior salah, lihat pasal satu!!” . Nah, kalau di sini, menurut saya pelaksanaan prinsip itu benar-benar berlaku di berbagai sektor kehidupan. (i.e. Lab, kampus, kantor dll). Jadi, tidak aneh, kalau mereka bakal ngomong jika diizinkan “senior”nya dulu.😀..

Apakah orang-orang Indonesia yang sekembali dari Jepang akan menjadi SHY juga? Menurut saya, tidak akan demikian, kan senior-nya tinggal di Jepang😀.. Yang saya takutkan adalah bagaimana jika mereka mengadopsi prilaku senior-Jepang-nya terhadap junior-Indo-nya dengan alasan “Iniloh sistem yang diterapkan di Jepang, si negara maju” . Kalau ada yang begitu, bunuh aja! >.<!. “Setiap daerah di Indonesia kan punya budaya sendiri, tentu saja daerah tersebut punya aturan sendiri dong. Enaknya, ngubah kultur orang semena-mena!!” (Sambil marah nih..!)

3. Orang Jepang tidak mandi pagi, ceweknya hobi dandan. Mereka mandi hanya malam hari sebelum tidur. >.<!. Kalau untuk hal ini, mungkin mereka memang merasa lebih nyaman kalau “bersih-bersih” malam. Mungkin sekalian persiapan, “bersih-bersih” yang lain :p. Biar tidak tergesa-gesa mungkin ya? hmm..

Nah, coba imajinasikan diri anda yang mempunyai pacar seorang gadis jepang yang “bening”, cakep dengan dandanan yang selalu direhabilitasi, dan mirip Maria Ozawa atau Rin Sakuragi atau Leah Dizon atau.. (eh, kok artis JAV semua, ya? :p). Yah, apapunlah yang sesuai selera anda. Gadis itu bernama Bella. Lalu, anda memanggilnya dari kejauhan ketika kencan malam jum’at di musim panas : “Bella-chan, I miss you.. udah mandi sore belum?”. Lalu, dia menjawab singkat, “Belum”. Anda bayangkan betapa “bersihnya” ia, terakhir kali mandi adalah ketika malam kamis. Menurut saya, pada akhirnya Bella-chan tidak akan jauh berbeda dengan belacan. >.<!

Apakah orang-orang Indonesia yang sekembali dari Jepang akan mandi malam juga? Kalau dia “cerdas”, sebaiknya tidak. Kan kelembaban udara Indonesia dan Jepang berbeda.. Betul tidak? Yah, tapi, biar terkesan “kejepang-jepangan”, beberapa orang tentu saja meniru itu tanpa “ba-bi-bu”. Saya sih mengizinkan saja. Karena, saya merestui manusia-manusia seperti musnah dari permukaan bumi😀.. ^_^V.

4. Banyak orang bilang, mereka bermuka dua. Menurut saya, ada beberapa yang begitu dan wajar. Alasannya, mereka adalah orang timur juga. Fenomena ini juga gampang ditemui di salah satu “komunitas” yang cukup berpengaruh Indonesia. Saya rasa anda tahu rahasia umum itu. Tapi, kalau belum tahu japri aja ya.. :p.. Baiklah, sekarang kita akan tuliskan dengan pernyataan yang ber”energi positif” ^_^. “Mereka ingin menjaga perasaan orang lain atau lawan bicara dengan menyusun perkataan yang berenergi “positif”. Walaupun, agak diragukan kebenarannya”

Apakah orang-orang Indonesia yang sekembali dari Jepang akan “bermuka dua” juga? Wah, kalau yang ini tidak perlu diragukan, kan komunitas muka dua sudah merajalela hampir di seluruh plosok Indonesia berkat berbagai dukungan ^_^V. Salahkah? Menurut saya tidak salah. Kan, karakter ini diperlukan di beberapa sektor pekerjaan di Indonesia😀. Betul tidak?

5. Orang Jepang itu punya integritas yang tinggi. Yup, beda dengan sebagian mahasiswa ITB atau PTN lainnya yang hobi jadi “kutu loncat” beberapa perusahaan. ^_^V.  Mungkin, disinilah kunci keberhasilan Jepang sekarang. Walaupun mereka berdemokrasi, integritas mereka sebagai suatu bangsa, atau contoh yang tidak muluk-muluk-perusahaan Jepang-katakan , setiap orang yang tergabung di dalamnya benar-benar bekerja keras untuk kesuksesan bersama. Ntah itu karena faktor senior-junior atau memang karakter mereka pada umumnya demikian.

Apakah orang-orang Indonesia yang sekembali dari Jepang akan “berintegritas” juga? Saya harap demikian😀. Tapi, bukan tidak mungkin ada saja yang memanfaatkan kondisi ini untuk kepentingan diri pribadi. Maksudnya, memakai orang-orang yang berintegritas-seperti orang jepang untuk dirinya sendiri.

Jadi, pandai-pandai lah. Pulang dari negara maju belum tentu membuat mereka berfikir lebih maju. Tetap saja, penilaian objektif diperlukan dengan menghindari bias latar belakang pendidikan dan sebagainya kawan!! ^_^!

*Dikerjakan sembari bersimulasi ria di Lab!! ^_^!

Fujita Lab, RvD

Categories: Japan, Thought
  1. June 18, 2010 at 1:46 am

    hehehe….

    yang paling bahaw ngena banget tuh…

    mungkin nyari gaji yang gede kali ya…

    salam hangat…

    • June 18, 2010 at 8:25 am

      wah.. mungkin ada yang demikian, mungkin juga punya tujuan lain🙂

      Salam anget juga..

  2. June 18, 2010 at 2:33 am

    La Vita Bela!! Hayoo ambil fositipnya😀

    • June 18, 2010 at 2:57 am

      sabar tuan.. ntar lagi bakal ada update-an buat yang positifnya.. :p
      biar kayak pelm-pelm..
      yang baik belakangan munculnya :p

  3. June 19, 2010 at 12:30 am

    Wah, kalo lebay bisa dilihat di banyak manga…😆

    Iya nih, kutu loncat udah jadi sebutan biasa untuk mahasiswa ITB…😦

    • June 19, 2010 at 3:10 am

      haha.. betul..
      dan kehidupan nyatanya lebih tidak wajar kesannya😀
      yah, bijimana.. udah begitu pengennya kebanyakan orang😀

  4. mahasiswa
    June 25, 2010 at 2:48 pm

    itu menurut risvan, tapi kalau menurut saya, saya tidak bisa mengatakan orang jepang lebay atau gimana, kaena mereka hidup dengan budaya mereka sendiri dan itu sangat wajar dan normal bagi mereka. malah mereka justru menilai saudara risvan sangat tidak ekspresif, pemalu, dan introvert. ya itu, melihat dari sisi lain saja. kalau soal pemalu, kayaknya orang indo juga sama-sama gak tau malunya, banyak contohnya misalnya artis peterporn yangs edang hangat. dan terakhir soal tidak mandi pagi, saya pernah bertanya ini kepada orang asia timur, dan penjelasan mereka adalah setelah mereka beraktivitas sepanjang hari dan setelah mandi malam mereka umumnya tidak melakukan pekerjaan berarti dan umumnya segera tidur. kalau saudara risvan bayangkan, mereka pagi tidak mandi lagi dan itu wjaar, karena mereka masih bersih. coba saudara bandingkan dengan seseorang yang tidak mandi malam, dan mereka tidur dalam keadaan “kotor”.
    saya hanya memberikan pendapat dari sudut pandang yang lain saja. terima kasih.

    • June 25, 2010 at 5:20 pm

      Sudut pandang anda tidak salah. Memang begitulah budaya, berbeda dan tidak jelek. Dan dalam tulisan ini, parameter pembandingnya adalah tolak ukur dan budaya saya (atau mungkin sebagian besar orang asing di sini. Kalau orang barat yang begitu ekspresif saja dianggap pemalu, maka?😉 ). Hmm.. mungkin setidaknya kami jujur dan tidak berusaha memanis-maniskan. he.. he..

      Tapi, apapun budaya mereka. Biarlah, yang paling penting itu bagaimana setiap manusia mengambil makna dari perbedaan yang ada untuk kepentingan orang banyak. (bukan untuk kepentingan pribadi, seperti pamor atau pengaruh jelek lainnya)

  5. fakhria
    June 25, 2010 at 8:55 pm

    hahahahahha…
    No 1. aku setuju, Lebbay!

  6. blackboxworshipper
    February 16, 2011 at 2:54 am

    よし! 行きましょう!

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: