Home > Japan, Thought > Pertanyaan Klise : “Selesai S1 ngapain??”

Pertanyaan Klise : “Selesai S1 ngapain??”

Selasa siang minggu ini, aku beranikan diri untuk menghadap Prof. Fujita secara langsung. Sebelum-sebelumnya saya cenderung enggan untuk menghadap sang sensei. Alasannya sederhana, “saya mau ngebahas apa?”. Mau nanya tentang topic riset, dari awal sang sensei sudah meminta saya untuk lebih banyak berinteraksi dengan Assitant Professor atau Tutor. Maka, lebih banyaklah saya berinteraksi dengan mereka. Jujur, saya agak kewalahan berinteraksi dengan mereka. Klise, masalah bahasa!. Yang pada akhirnya, lebih banyak terjadi “kesalahpahaman”. Untuk mengurangi kondisi itu, aku lebih banyak bekerja sendiri dan mengumpulkan laporan saja ke assistant professor. Walaupun pada akhirnya, ternyata, nggak dibaca. Kecewa sih iya.. Tapi, bagi saya itu tidak merugikan, toch yang belajar kan saya😉.

Setelah timbul tenggelam berjuang “sendirian”, walaupun kadang-kadang ada yang diperjuangkan tidak dipakai, karena tiba-tiba Assistant Professor berubah pendirian (atau mungkin karena salah paham sebelumnya). Lagi-lagi, tidak apa apa, ini hanya masalah proses. Dan setiap proses yang saya lewati bagi saya tidak sia-sia, pasti ada hikmah di dalamnya. Paling nggak, nambah wawasan.🙂.

Yup, setelah hampir kelelep, akhirnya, report dan paper saya selesai juga. Jangankan orang hebat di bidang control, saya yang masih cupu saja sadar, kalau report research saya tidaklah hebat-hebat amat. Biasa saja, dan banyak sekali yang harus diperbaiki. Bahkan, mungkin validitasnya diragukan. Entah mengapa saya tidak kecewa, dan tidak pula berbangga. Tapi, saya terima semua kesalahan dan kekurangan yang saya perbuat selama proses penulisannya. Dan tentu saja, untuk bahan pengingat untuk kegiatan serupa berikutnya.

Dengan keadaan legowo dan siap terima segala konsekuensinya, akhirnya aku menghadap Prof. Fujita. Kenapa saya berani menghadap? Karena, hari itu laporan riset saya sudah dibaca oleh Prof. Fujita dan menurut pendapatnya tidak perlu ada yang direvisi. Sebelumnya, saya juga sudah mengumpulkan laporan riset itu ke Assistant Professor, tapi tidak juga kunjung memberikan feedback. Mungkin dia terlalu sibuk (atau entahlah).

Seperti yang selalu diajarkan papa, “give, give, give, give, give…. and take”, artinya kalau udah bener-bener mepet baru minta bantuan. Selama masih bisa memberi, maka memberilah. Dan, pada hari selasa itu aku benar-benar mepet karena masih “bias” mengenai masa depanku selesai S1 nanti. Padahal jalannya sudah harus dirancang sejak dini.

Nah, berhubung saya sudah “give” report saya. Maka, saya pikir, saya sudah punya alasan dan tidak melanggar prinsip yang ditanamkan ke saya.

Pembicaraan siang ini diawali dengan pertanyaan sederhana,

“Sensei, saya minta saran Anda mengenai pendidikan ke depan saya, boleh?”

Sensei pun dengan tenangnya mempersilahkan saya untuk duduk berdiskusi lebih detail.

Awalnya, sensei merekomendasikan saya untuk melanjutkan studi ke US atau Eropa. Karena, ada alumni Fujita laboratory dari Indonesia yang melanjutkan studi di sana

Selain itu, menurut pandangannya, U.S merupakan tempat yang tepat untuk berkompetisi bagi orang-orang dari berbagai negara seperti yang dilakukan warga RRC dan India yang survive di sana. Pertimbangan lainnya adalah karena saya pernah punya pengalaman di Eropa 1 tahun, lalu sekarang 1 tahun di Jepang, maka berikutnya adalah memperluas wawasan dan jaringan internasional di belahan dunia lain yaitu U.S. Sensei berpendapat bahwa kerja sama international antar bangsa sangat penting juga di dunia akademisi (misalnya dalam kolaborasi menulis paper kelas wahid yang langsung ditunjukkannya di situs CDC).

Jujur, saya tidak menyangka beliau malah menyarankan demikian. Padahal, saya sadar dan merasa saya bahkan mungkin tidak mampu mencapai posisi pada level itu. Sekarang saja saya kewalahan setengah mati, terlepas dari kondisi “negative-nya”. Pernah terpikir, kalau dunia research bukanlah hal yang cocok bagi saya.

Setelah panjang berbincang, akhirnya tibalah pembahasan kerja sama antar negara Asia. Mungkin, kita semua sadar bahwa poros kemajuan teknologi dunia sekarang mulai bergeser ke timur yaitu China, India dan Jepang. Di sini sensei menyarankan bahwa bangsa Asia harus maju bersama-sama. Lalu, ia menyarankan saya untuk memajukan negara saya (Wah, orang Jepang saja bisa merasakan betapa pentingnya memajukan negara saya. Saya paham ada beberapa orang yang keluar negeri karena kesulitan  berbuat sesuatu untuk Indonesia, walaupun sebenarnya mereka ingin. Tapi, kalau masih ada orang yang keluar negeri untuk tujuan pribadi tanpa sempat berniat untuk berbuat buat negara. Itu sih keterlaluan hehe..).

Cerita punya cerita, sensei menganjurkan saya untuk melanjutkan studi ke negara-negara Asia seperti China, Korea dan Jepang. Mendengar kata Jepang, saya langsung “to the point”, mengenai kemungkinan  “jika” memang saya harus kembali ke Jepang, tepatnya di Fujita Laboratory. Singkat kata, jawabannya ia akan menerima kedatangan saya.

Wah, gawat, saya salah ngomong! Soalnya, saya berniat kalaupun mau lanjut studi S2, saya memilih TU Delft (Belanda), ETS Zurich (Swiss), atau U.S.

Tapi, saya sadar, dengan track record dan kemampuan saya sekarang, maka jawaban sensei hanyalah basa basi.🙂. Tidak ada yang pasti,kan di dunia ini.??

Untungnya, sensei tampaknya cukup terbuka melihat dunia. Dia tidak “mengikat” saya, beliau tetap memberikan kemungkinan terburuk andai saja ada kondisi dimana Lab tidak mampu lagi menerima mahasiswa asing. Dari sini beliau merekomendasikan saya untuk maju menggali pengalaman berbeda yaitu U.S atau Eropa dan tetap membawa tanggung jawab sebagai mantan visiting student di Fujita Laboratory. (Wah ini yang susah.. T_T, kapabilitas saya belum cukup untuk menanggung hal yang begitu.. Capek.. T_T)

*Jujur, saya hanya ingin menikmati proses memahami sesuatu tanpa harus dikejar gelar, ujian, laporan atau apapun. Saya hanya ingin menikmati “rasa haus” ini tanpa terikat “system” yang membelit semacam pencapaian gelar atau apapun namanya”.

Categories: Japan, Thought
  1. July 23, 2010 at 10:35 pm

    “Jujur, saya hanya ingin menikmati proses memahami sesuatu tanpa harus dikejar gelar, ujian, laporan atau apapun. Saya hanya ingin menikmati “rasa haus” ini tanpa terikat “system” yang membelit semacam pencapaian gelar atau apapun namanya

    kayaknya untuk zaman kek gini agak susahla…. ntar malah ditanya..” eh kok lama bener tamatnya, adik kelasmu dah tamat tuh setahun lalu “….

    (EGP…. emangnya kuliah = SMA???…picik bener pikirannya…)

    • July 23, 2010 at 11:50 pm

      hahaha.. emang EGP :p
      Tapi, memang harus tarik ulur bang,,😉

      Mending kuliah menghasilkan sesuatu, daripada lulus, tapi malas2an dan beratin orang tua :p *ups..

      • olicomting
        July 24, 2010 at 1:39 am

        kalo pikiran semua org sepertimu…. alangkah indahnya karena setiap hari gak kan ke dengar kata-kata nyinyir seperti di atas…. sayangnya, kuliah itu = ijazah = kerja enak…. kenyataannya kulaih = ijazah = skill tak ada = ke laut…. eh ke biro statistik dgn status. P.E.N.G.A.N.G.G.u.R.A.N .😦

  2. Poetri
    August 1, 2010 at 5:22 pm

    i feel the same too *your last note*

  3. August 2, 2010 at 4:13 pm

    @Bang Oli
    gak indah bang..
    gak dinamis dunia..
    bayangin kalau semua orang sama.. pasti membosankan😉

    @Poetri🙂 mudah-mudahan bermanfaat yah..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: