Home > Thought > “Di atas” Surga dan Neraka

“Di atas” Surga dan Neraka

Kalau boleh menebak, mungkin jawaban Anda adalah “Tuhan”.

Baiklah, mungkin saatnya kita melihat kalimat di atas dari sudut pandang yang berbeda.

Apakah di balik proses terbentuknya istilah “surga” dan “neraka”? Tidak lain dan tidak bukan adalah penggolongan atau pengelompokkan dengan tujuan positif. Sehingga, tersebarlah statement sebagai berikut : “Semua orang baik dan patuh pada Tuhan akan dimasukkan ke tempat orang-orang baik (Surga). Sedangkan, semua orang jahat dan membangkang Tuhan akan dimasukkan ke tempat orang-orang jahat (Neraka).”

Sekarang, kita coba memandang lebih universal lagi. Tidak seluruh manusia di muka bumi mempercayai Tuhan, bahkan Tuhan pun beragam jika kita lihat realitanya lebih luas. Jadi, coba kita lihat konteks “penggolongan” surga-neraka lebih luas sebagai bentuk filosofi yang anggaplah hidayah yang diberikan “sang Maha Pemberi Hidayah”.

(konteks “sang Maha Pemberi Hidayah” harap dilihat lebih luas, tidak harus Tuhan)

Dengan demikian statement di paragraph sebelumnya menjadi : “Semua orang baik dan patuh pada Tuhan akan dimasukkan ke tempat orang-orang baik (Surga). Sedangkan, semua orang jahat dan membangkang Tuhan akan dimasukkan ke tempat orang-orang jahat (neraka).”.

Berkaitan dengan implementasi statement di atas, tentu saja orang beragama akan beranggapan bahwa statement itu ditujukan untuk kehidupan abadi kelak. Tapi, apakah semua orang beragama?. Mungkin, sebaiknya kita melihat kesamaan yang jelas untuk umat manusia yang ada di dunia, yakni “kita semua hidup di dunia pada jangka waktu tertentu”. Jadi, dengan demikian statement itu lebih universal jika diterjemahkan untuk dilaksanakan setidaknya selama hidup di dunia (bagi yang mempercayai kehidupan akhirat).

Jadi, kesimpulannya, petunjuk pengelompokkan positif itu merupakan sifat alami yang terjadi secara natural, layaknya air yang mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah tanpa manipulasi apapun. Dengan demikian, dengan menghindari hal-hal yang bersifat manipulatif (misal harta, popularitas, atau apapun), maka sudah dapat dipastikan bahwa jika kita berlaku baik maka kita bermuara pada kelompok orang-orang baik begitu juga sebaliknya.

Akhir kata, semua itu kembali pada pribadi masing-masing dalam memposisikan diri. Apakah Anda ingin berkumpul dengan orang baik atau sebaliknya, itu tergantung kualitas yang ingin Anda capai. Dan saya yakin, Tuhan pasti akan menjaga hukum alam itu, sehingga suatu hal yang wajar, jika suatu saat kita harus menerima kekecewaan. Setidaknya, kita sudah diberi petunjuk untuk tidak menjadi golongan orang yang mengecewakan orang lain😉. Bagi yang tidak percaya Tuhan, Anda mungkin merasakan bahwa alam akan selalu kembali ke titik keseimbangannya, bukan?

Categories: Thought
  1. Kadek 'kadokura' Fendy
    August 3, 2010 at 7:00 pm

    yaaaa intinya mengalir aja bersama kehidupan,,
    selalu lakukan yang terbaik yang kita bisa dan selalu berbuat baik..
    kalo hari ini gk dapet hasil terbaik , pasti itu baik untuk selanjutnya, atau baik untuk kehidupan selanjutnya.. semua perbuatan ada hasil, semua karma ada pahalanya..
    disana tersembunyi rahasia keindahan kehidupan,, ^_^

    • August 3, 2010 at 7:46 pm

      mantap🙂

      perlu dinotice lebih detail pada maksud “pengelompokkan positif”.😉

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: