Home > General Knowledge, Thought > Penggelap Pajak yang Baik Hati

Penggelap Pajak yang Baik Hati

Banyak berita tentang Gayus dan keterkaitannya dengan pajak penghasilan dari sebuah badan usaha, menstimulasi rasa ingin tahu saya mengenai bagaimana sih sebenarnya sistem pengenaan pajak bagi badan usaha?

Semuanya berawal dari “googling” dan melihat-lihat situs-situs perpajakan ataupun situs yang membahas tentang pajak. Pertama saya “nyangkut” ketika menemukan P21. Bisa dilihat di sini (http://www.pajak.go.id/index.php?view=article&catid=100%3Apph&id=147%3Apph-21&option=com_content&Itemid=171).

Yup, negara kita memang menggunakan pajak progresif agar mereka yang berpenghasilan tinggi dapat “menshare” harta ke mereka yang kurang beruntung. Niat yang mulia ya🙂 (Objektif). Tp, sayangnya, niat tidak sejalan dengan tindakan. Fasilitas-fasilitas sosial yang dijanjikan itu tinggallah niat dan janji (Fakta)

Lalu, saya sadar bahwa saya menelaah aturan yang bukan saya cari. Saya mencari aturan perpajakan yang berkenaan dengan badan usaha (karena ulah Om Gayus, saya jadi sedikit banyak mau tahu tentang sistem perpajakan di negara ini. Makasih Om!!). Yap, saya akui aturan perpajakan yang berbelit-belit dan angka persentase yang entah bagaimana itu bisa muncul membuat saya “puyeng”. Saya tidak tahu, ntah karena memang saya nggak memahami pajak, atau memang saya orangnya tidak mau mempersulit masalah, atau memang kapasitas otak saya yang terus berkurang? Hahaha.. Intinya mah, mengapa aturannya dibuat ribet ya (Keknya, memang hobi bangsa ini membelit-belitkan benang :D). Kalau boleh berfikir negatif, bentuk yang begini akan mempermudah mereka untuk membohongi masyarakat.

Lalu, saya membaca sebuah blog. Yah, tampak lebih mudah dipahamilah. Intinya,” Dengan berlakunya Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 yang merupakan rangkaian perubahan terhadap Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983, maka mulai tahun 2009 nanti tarif Pajak Penghasilan untuk Wajib Pajak Badan akan menggunakan tarif tunggal yaitu 28% pada tahun 2009 dan 25% mulai tahun 2010”(Source : http://dudiwahyudi.com/pajak/pajak-penghasilan/tarif-pajak-penghasilan-untuk-usaha-kecil-dan-menengah-umkm.html?nomo=true). Sebenarnya, ada lagi embel embel lain di bawahnya untuk jenis-jenis usaha yang berbeda. Tapi, ya sudahlah.. Ambil saja angka 25% saja dulu.

Sekarang kita asumsikan sebuah perusahaan yang mampu menghasilkan keuntungan bersih sebesar. Rp 2.000.000.000,-/tahun. Secara sekilas, kita dapat ambil angka kasar bahwa akan ada potongan pajak sebesar Rp 500.000.000,- (besar ya…!!). Yah, sistem perpajakan pasti memberikan berbagai jenis keringanan ini dan itulah. Ambil saja angka Rp 400.000.000,- sebagai besar pajak yang harus di bayar si perusahaan. Sepertinya, masih besar ya..?🙂.

Sekarang kita coba berfikir positif pada para pemilik perusahaan yang  melakukan penggelapan pajak. Pertimbangan yang dia ambil adalah :

  1. Sistem perpajakan berniat mulia untuk membagikan hartanya ke mereka yang membutuhkan (Objektif)
  2. Fasilitas-fasilitas yang diharapkan tidak terwujud (Fakta)

Dengan sekilas saja terlihat ada gap antar fakta dan objektif. Kalau dijadikan angka, anggap sajalah ada sekitar Rp 300.000.000,- yang lenyap tanpa bekas (Rp.100.000.000,- dipakai untuk mewujudkan fasilitas social seadanya)

Sekali lagi, kita asumsikan sang pengusaha adalah orang yang berfikir positif ya..!!

Lalu, tercetuslah sebuah solusi sederhana (tapi kalau menurut aturan negara ini criminal). Dengan rincian sebagai berikut:

Perencanaan keuangan sang pengusaha…

===PENGUSAHA BERFIKIR-START===

Rp 100.000.000,- adalah uang pajak yang saya setor ke perpajakan (dipakai untuk mewujudkan fasilitas social seadanya.)

Rp 100.000.000,- adalah uang suap untuk orang-orang seperti Om Gayus agar mau mengubah angka Rp 400 juta menjadi Rp 100 juta saja.

Rp 200.000.000,- adalah uang yang saya kantongi lagi untuk mengembangkan usaha saya atau membangun usaha lainnya. Buat 40 rumah makan padang misalnya😀. Setidaknya, saya bisa beri makan 80 orang calon pengangguran di negara ini..😀

===PENGUSAHA BERFIKIR-END===

Nah, sekarang bisa kita lihatkan alasan “positif” mereka menggelapkan pajak🙂.

Sebenarnya, kondisi ini sudah seperti rantai besi yang berbelit (*bayangkan besi aja bisa berbelit-belit di negara ini hahaha..).  Tapi, biar bagaimanapun semua solusi berawal dari pemimpin, dalam hal ini pemerintah. Sekali lagi, definisi pemimpin bukan hanya mereka yang “berseru kosong”. Selain mencetuskan solusi, pemerintah juga harus memperbaiki diri. Disini, ada 5 pihak, yakni para pengusaha, orang pajak, orang dinas social atau sejenisnya, pemerintah dan rakyat jelata seperti saya hehehe…

  1. Pemerintah harus menjamin bahwa dana hasil pajak nyampek tuh ke dinas social dan terimplementasilah sesuai objektif yang diidam2kan (bukan hanya ada ya, tapi juga harus terukur).
  2. Orang pajak, ya sabar2lah karena menjadi imbasnya. Tp, tetap harus professional. Jangan kayak Om Gayus ya.. Oiya, lain kali aturan pajaknya dibikin mudah dipahami yah.. hehe..
  3. Dinas Sosial dkk. Ya, ingat Tuhan ya.. Kalau bikin program social itu sebaiknya terukur kualitasnya. Jangan asal jadi.
  4. Pengusaha. Sebenarnya, kasian sih kalau liat pengusaha2 yang jujur. Hikss.. Tp, saya juga paham betapa susahnya pemimpin2 di negeri ini untuk dipercaya. Yah, selama niatnya positif dan pemimpin di negara ini tidak amanah. Menurut saya, lanjutkan saja. Tp, ingat!!  Selama niatnya positif dan pemimpin di negara ini tidak amanah!!!
  5. Rakyat jelata seperti saya. Hikss..  Tawakal dan berdoa saja. Mudah2an para “penjahat” diberi petunjuk oleh Nya. Tapi, kalau para “penjahat” berkedok pemimpin itu gak mempan dikasi hidayah. Yah.. doain cepat mati aja dan masuk neraka.. Biar muncul orang-orang yang lebih baik😀.

Ya sudahlah.. Moga2 aja orang-orang pada berfikir kearah yg lebih baik untuk kepentingan bersama. Sekali lagi, bersama ya.. bukan untuk golongan tertentu hehehe…

Categories: General Knowledge, Thought
  1. me
    January 29, 2011 at 10:16 pm

    s7 bgt ma kata2 trakhir…
    “bersama” bukan “golongan tertentu” ^^

    emank yang berbau ‘mafia’ ga’ enak y (apalagi dimakan,,hehe)
    mafia pajak,mafia dagang (mank ada y???),n mafia2 yg lain…

    sbg warga negara yg baik, harus ‘down to earth’ alias hidup membumi (y, ga??)
    bayar pajak, slh 1 bentuk ‘membumi’ td…
    ‘gelap2in’ kwajiban gapapa,asal untuk kebaikan, kebaikn ummat (maksudnya)..tp smw kembali ke niat awal…
    “amal perbuatan tergantung niat”
    ^^
    so,,mari hidup membumi (?)

    • February 14, 2011 at 4:17 pm

      nice.. thanks ya..🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: