Bon Taksi

 Jakarta, 10 February 2012

Tengah malam

Sebuah perspektif dan lingkungan akan mengarahkan kita melihat sebuah pernyataan. Ketika banyak orang yang idealis, jujur, soleh dan “rajin menabung”, maka istilah idealis tetap menjadi kata yang terdengar baik. Sedangkan, ketika Anda berada di lingkungan yang sebaliknya yang penuh dengan “realistis” dan “adaptif”, maka kata naïf yang sering keluar. Sejujurnya, saya tidak terlalu paham makna naïf sebenarnya (selain keterkaitannya dengan grup band ibukota). Tetapi, terdengar mendekati kata “munafik” (coba Anda lafazkan munaif dan munafik secara bergantian, sepertinya mereka bersaudara ya?). Yah, intinya, terkesan jelek-lah.

Kenapa saya membahas istilah naïf dan idealis di awal? Karena tulisan ini akan membuat Anda men-judge saya dengan satu kata di antara dua kata tersebut. Tergantung dimana hati Anda kini berada.

Taxi berwarna hitam (yang entah kenapa diberi nama “silver”) bermerk Camry atau Mercy sering saya gunakan jasanya sebagai alat transportasi kosan-airport dan sebaliknya untuk penerbangan yang bertujuan untuk keperluan perusahaan tempat saya bekerja. Taxi ini memang berkesan high class dan memang memberikan service sesuai dengan ekspektasi dan harganya. Jika Anda duduk di kursi belakang, Anda akan merasakan betapa leluasanya kaki Anda terletak dan posisi jok mobil yang ergonomis membuat sebuah kenyaman tertentu di punggung Anda. Selain itu, suara mesin yang halus dan sirkulasi udara yang terencana akan membuat kesan yang berbeda, seakan-akan membuat Anda terhipnotis dan kembali ke haribaan pulau kapuk. Apalagi kalau Anda harus berangkat ke bandara sebelum Shubuh (Wajar!!!).

Jadi, buat para pihak yang meng-claim mampu merancang dan membuat mobil, Anda sebaiknya berfikir untuk membuat standard yang menunjukkan kualitas produk Anda. Kalau cuma sekedar membuat “mesin bubut” yang mampu menggerakkan 4 roda, sebaiknya Anda mempertimbangkan ulang claim Anda.

Kembali ke Taxi. Berhubung tujuan penggunaan Taxi ini untuk keperluan kantor, maka kantor berkewajiban mengembalikan uang yang saya keluarkan untuk biaya taxi ini. Buktinya apa? Tentu saja kuitansi atau sebut saja bon.

Saya berkali-kali bertransaksi dalam pembayaran ongkos taxi sejenis ini setahun belakangan ini. Tapi, ketika Saya hanya memulai percakapan:

“Pak, tolong bon-nya”.

Maka, jawaban sang sopir: “Ini pak bon-nya” (dengan nominal uang yang kosong setelah ditandatangani)

Saya tanya: “Kok kosong, Pak. Tolong isikan dulu nominalnya”

Sang Sopir: “Mau diisi berapa, Pak?”

Saya jawab: “Lah, itukan ada bilangannya di argo, jangan lupa tambahkan ongkos tol-nya ya, Pak. Oiya, tambahkan juga uang capek bapak udah jemput saya pagi buta gini. Nanti saya bayar segitu”

Sang Sopir: — melongok atau bengong

Dialog seperti itu berulang-ulang dengan gaya yang berbeda-beda apabila saya memulai dengan “Pak, tolong bon-nya”.

Sampai akhirnya, saya bosan dengan dialog seperti dan keluar pernyataan singkat yang selalu saya gunakan beberapa bulan belakangan ini.

“Pak, tolong bon-nya, gak pake korupsi, saya gak mau masuk neraka!” (sambil tertawa kecil)

Pernyataan ini ternyata memberikan beberapa jenis reaksi dari beberapa sopir taksi.

  1. Tertawa kecil dan senyum
  2. Berkata: “wah, ternyata, masih ada ya, pak”.. sambil tersenyum
  3. Diam dan jengkel. Mungkin merasa tidak dapat jatah ya? Hehe..

Akan tetapi, yang menggelitik rasa ingin tahu saya adalah jenis reaksi nomor 2; “wah, ternyata, masih ada ya, pak”.. Betapa adalah menjadi sebuah kebiasaan mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Sebenarnya, sudah ada beberapa instansi atau perusahaan yang membuat strategi baru untuk menutup kemungkinan “main” ini. Kalau tidak salah, namanya sejenis voucher. Pada dasarnya, si penumpang membawa sebuah voucher atau semacam kertas berkode dari perusahaan dari tempat ia bekerja. Nah, dengan kode tersebut, sang perusahaan taxi tinggal hanya perlu meng-invoice atau menagih nilai service yang taxi lakukan langsung pada perusahaan yang bersangkutan secara elektronis.

Solusi kedua adalah “Ingat mati, hidup hanya sementara”..

Salam

Risvan Dirza

(catatan kaki pengelana tanpa pendengar)

  1. me
    February 17, 2012 at 9:31 pm

    like this…: )

  2. January 26, 2013 at 11:34 pm

    artikel yg paling ringan di sini hehehe…

    • January 26, 2013 at 11:51 pm

      isinya berat, penyampaiannya yg ringan hehehe…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: