Home > Academic & Technology, Informasi > Produksi Minyak dan Gas Bumi

Produksi Minyak dan Gas Bumi

Pada pertengahan tahun 1980-an, masyarakat dunia meyakini bahwa akan datang masanya dimana dunia akan kekurangan ketersediaan minyak bumi. Bahkan, dalam kondisi produksi terbaik sekalipun, dimana timur tengah berhasil menggandakan produksinya, dunia masih akan berada pada krisis pasokan minyak pada pertengahan 1990-an.

Tetapi, sejalan dengan waktu yang berlalu, ternyata skenario di atas tidak pernah terjadi. Kegagalan munculnya skenario terburuk tersebut bukan berarti bahwa minyak bumi adalah sumber energi terbarukan. Melainkan ini adalah buah keberhasilan dari usaha – usaha yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun industri swasta dalam meneliti dan memaksimalkan sumber daya energi yang terdapat di Bumi ini.

Dalam memproduksi atau mengambil minyak bumi dari sumbernya, dikenal dua istilah utama, yakni “primary recovery” dan “secondary recovery”. Istilah ini dibedakan berdasarkan masa dan kondisi sumber minyak bumi yang dioperasikan.

Istilah “primary recovery” ditujukan pada minyak bumi yang dapat diproduksi dalam kondisi alam yang normal. Pada masa-masa awal industri, produksi minyak bumi dibatasi sepenuhnya oleh kondisi dimana proses hanya bergantung pada mekanisme pemulihan alamiah atau normal. Oleh karena keterbatasan ini, sebuah sistem pengangkatan buatan atau artificial lift dikembangkan untuk mengambil minyak bumi dari sumbernya (reservoir). Kemampuan reservoir tersebut untuk mendorong minyak bumi hingga ke permukaan sudah menurun.

Teknik-teknik yang kemudian dikembangkan untuk mendorong minyak bumi keluar dari pori-pori batuan reservoir adalah dengan menggunakan fluida lainnya. Minyak bumi yang diperoleh dengan metode ini disebut sebagai “secondary recovery”. Metode “secondary recovery” yang banyak digunakan adalah waterflooding dan gas injection, yang mencontoh atau menganalogikan mekanisme produksi “primary recovery” dari dorongan air dan gas yang terjebak bersama minyak bumi.

Untuk mengambil minyak bumi dari sumbernya, banyak sekali faktor yang harus dipertimbangkan, misalnya tekanan reservoir, porositas, permeabilitas, kekentalan minyak dan sebagainya. Faktor-faktor kompleks ini membuat metode waterflooding maupun gas injection tidak bekerja secara maksimal. Peningkatan produksi minyak bumi yang diproduksi dengan metode-metode tersebut hanya 10-20 % dari minyak bumi yang terdapat di sumbernya.

Sementara proses pengambilan yang lebih canggih yang menjadi rujukan banyak professional di perminyakan adalah EOR (Enhanced Oil Recovery). Beberapa orang menyebut teknik ini sebagai “tertiary recovery”. Beberapa contoh metode ini adalah injeksi air berkarbonasi (mengandung CO2), alkaline dan polimer. Walaupun metode EOR ini memiliki efesiensi pengangkatan yang lebih baik, ternyata masih ada lebih dari setengah minyak bumi yang terkandung tertinggal di dalam tanah. Dengan metode EOR ini, hanya sekitar 30 – 60% kandungan minyak bumi yang dapat diambil dari sumbernya.

Mengingat begitu signifikannya metode EOR dalam peningkatan produksi minyak bumi, berikut penulis sajikan beberapa teknik yang umum digunakan dalam metode EOR ini.

Teknik termal merupakan salah satu pendekatan yang signifikan. Pada pendekatan ini dilakukan pemanasan terhadap minyak bumi yang terkandung untuk mengurangi viskositasnya sehingga minyak bumi tersebut memiliki kemampuan mobilisasi/bergerak yang lebih baik. Peningkatan panas ini akan menurunkan tegangan permukaan minyak bumi dan meningkatkan permeabilitasnya. Minyak bumi yang dipanaskan ini juga akan menguap dan terkondensasi dengan kualitas yang lebih baik. Beberapa metode pemanasan yang biasa dilakukan adalah injeksi uap secara terskilus ke dalam sumur minyak dan steam drive.

Selain teknik termal, juga dikenal teknik chemical. Pada metode ini diinjeksikan bahan kimia berupa surfactant atau bahan polimer untuk mengubah properti fisika (misalnya, tegangan permukaan dan tegangan kapiler) dari minyak ataupun fluida yang dipindahkan. Hasilnya, minyak dapat lebih mudah mengalir. Akan tetapi, penggunaan metode ini sangatlah terbatas dengan dana yang dibutuhkan untuk membeli bahan kimia yang diinjeksikan.

Teknik EOR yang biasa digunakan adalah Teknik miscible. Teknik miscible merupakan sebuah proses menginjeksikan fluida pendorong ke dalam sumur minyak yang kemudian akan bercampur dengan minyak tersebut. Fluida yang digunakan misalnya larutan hidrokarbon, gas hidrokarbon, CO2 ataupun gas nitrogen. Ketika fluida ini bercampur dengan minyak, maka tekanan pada reservoir dapat terjaga dan akan meningkatkan kemampuan mobilitas minyak karena tegangan antara air dan minyak akan berkurang. Gas yang umum diinjeksikan biasanya karbondioksida karena gas ini dapat menurunkan viskositas minyak dan harganya relatif lebih murah daripada LPG.

Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya persediaan cadangan minyak dan gas bumi sangat banyak. Sumber permasalahan keterbatasan minyak terletak pada dua faktor utama, yakni keterbatasan teknologi untuk memaksimalkan produksi dari cadangan yang ada, serta pola konsumsi energi berlebihan dari penduduk bumi. 

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: