Archive

Archive for the ‘General Knowledge’ Category

Berencana Memulai Hidup di Jakarta?

November 27, 2013 Leave a comment

Banyak orang berfikir bahwa dengan datang ke Jakarta, maka kehidupan yang lebih baik akan segera datang. Saya tidak termasuk dalam golongan orang tersebut. Tapi, entah mengapa saya harus menjalani mimpi mereka, memulai hidup di “kejamnya” ibu kota, Jakarta.

Agar survive atau bertahan, ada beberapa komponen utama pengeluaran yang harus dipenuhi. Lebih jauh lagi, ketika kita menginginkan gaya hidup yang lebih “wah”, ada komponen tertier yang juga harus dipenuhi. Berikut beberapa komponen pengeluaran yang perlu diperhitungkan bagi para pejuang di labirin ibukota.

1. Pengeluaran yang tidak dapat dielakkan

Bagi para keluarga muda, biaya akomodasi atau Biaya sewa tempat tinggal dapat mencapai 2 juta hingga 4 juta per bulan. Angka 4 juta per bulan ini berasal dari biaya akomodasi di salah satu apartment tipe 2BR di Jakarta Selatan. Biaya ini dapat ditekan menjadi 2 jt per bulan jika Anda menyewa kontrakan.

Dengan asumsi bahwa setiap orang akan mengeluarkan 20 rb rupiah untuk sekali makan dan sehari makan tiga kali, maka biaya konsumsi ini akan mencapai 3,6 juta per bulan bagi pasangan muda.

Bagi Anda yang belum berfikir untuk membeli kendaraan, KRL dapat menjadi transportasi andalan. Pendekatan yang saya ambil adalah 20 rb per hari. Jadi, untuk sebulan, biaya transportasi ini dapat mencapai sekitar 600 rb rupiah.

Keluarga besar saya berada di Sumatera Utara. Jadi, bagi Anda yang juga para perantau, mungkin mempertimbangkan hal ini pada golongan pengeluaran yang tidak dapat dielakkan. Perhitungan saya, dalam setahun, saya perlu setidaknya dua kali pulang kampung. Ongkos PP sekali pulang kampung mencapai 3 jt per orang. Jadi, kita perlu menyimpan dana sebesar 500 rb per bulan.

Dengan demikian, pengeluaran utama untuk golongan tipe I ini adalah 6,7 juta. Bagi yang tinggal di apartement, pengeluaran tersebut dapat mencapai 8,7 juta.

Anggap saja biaya tak terduga yang harus di-keep dengan gaya hidup ini adalah 2 jt rupiah.

Sehingga untuk mereka yang memiliki gaya hidup tipe di atas, potensi pengeluaran dapat mencapai angka 10 jt/bulan

2. Ditambah Pengeluaran dengan gaya hidup dalam negri.

Beberapa dari kita tentu mulai berfikir mengenai investasi dan bisnis kecil-kecilan. Anggap saja, untuk komponen ini, dibutuhkan biaya sekitar 1 jt per bulan. Sedangkan, tabungan jangka panjang untuk pendidikan anak diperkirakan dapat mencapai 2 jt per bulan.

Mungkin beberapa dari kita sudah mulai memikirkan hiburan bulanan, sebut saja, 500 rb per bulan.

Dengan demikian, dibutuhkan dana tambahan sekitar 3,5 juta per bulan. Sehingga untuk mereka yang memiliki gaya hidup tipe dua ini, potensi pengeluaran dapat mencapai 14 jt per bulan.

3. Ditambah dengan liburan dan cicilan asset.

Menurut saya, golongan ketiga ini adalah golongan yang dapat dikatakan mapan untuk time frame sekarang dan yang akan datang.

Untuk cicilan rumah dan kendaraan, kita dapat ambil angka 4 juta per bulan untuk masing-masing komponen tersebut.

Liburan dapat dibagi menjadi liburan domestik ataupun liburan luar negeri. Setidaknya sekali dalam setahun, sebuah keluarga menikmati liburan. Biaya liburan ini dapat mencapai 9,6 juta untuk domestik atau 18 jt untuk travelling ke luar negri. Sehingga, diperlukan saving sebanyak 800 ribu hingga 1,5 jt setiap bulannya.

Dengan demikian, dibutuhkan dana tambahan sekitar 8,8 juta – 9,5 juta per bulan.

Jadi, jika ditotalkan, pengeluaran untuk golongan yang mapan di atas rata-rata ini mencapai 22 hingga 24 juta per bulan.

Bagaimana? Masih tertantang dengan gaya hidup masyarakat Ibukota?

Perhitungan di atas dipakai dengan asumsi tahun 2013. Jika Anda ingin melakukan pendekatan di tahun-tahun berikutnya, silahkan disesuaikan dengan inflasi yang terjadi setiap tahunnya. Hint: anggap saja 8% per tahunnya.

Categories: General Knowledge, Informasi Tags:

Menuntut Kesempurnaan atau Menerima Kekurangan yang Dapat Ditolerir?

June 20, 2013 2 comments

Hari ini saya belajar mengenai pengelolaan paradigma. Sebenarnya, hal ini sudah saya terapkan secara tidak langsung. Tetapi, pidato yang disampaikan Rudi Rubiandini, Kepala SKK Migas, pagi tadi menstimulasi saya untuk menuliskan pengalaman saya dalam menerapkan pengelolaan paradigma atau sudut pandang.

Biasanya, engineer di perusahaan migas selalu mempraktekan cara pandang bahwa segala sesuatu yang dilakukan harus sesuai dengan prosedur yang tertulis, telah di-review dan disetujui oleh manajemen. Hal ini mungkin didorong oleh kenyataan bahwasannya pekerjaan di sektor migas memiliki resiko yang tinggi.

Pak Rudi Rubiandini menawarkan paradigma yang unik tadi pagi. Kira-kira bunyinya “Lakukan apapun selama hal itu jelas-jelas tidak dilarang”. Jika ditelaah lebih dalam, paradigma ini mendukung pengembangan inovasi. Jadi, setiap engineer bebas berinovasi dan berkreasi selama inovasi tersebut tidak jelas-jelas terlarang. Konsekuensinya, setiap inovasi tersebut harus memiliki landasan berfikir dan teknis yang jelas dan bertanggung jawab. Saya rasa inilah tantangan yang diharapkan engineer-engineer yang haus akan ide terobosan baru, tapi bukan untuk engineer yang bermain aman dan bukan juga untuk engineer yang kurang cerdas dalam menelurkan ide baru.

Kembali pada apa yang telah saya terapkan mengenai pengelolaan paradigma. Beberapa orang berfikir untuk mengejar kesempurnaan. Menempuh pendidikan setinggi-tingginya di institusi dengan reputasi yang sehebat-hebatnya. Ada juga yang berfikir untuk memperoleh kehidupan yang sesempurna-sempurnanya dengan pendamping yang seindah-indahnya serta pendapatan yang setinggi-tingginya di sebuah badan yang sehebat-hebatnya serta menempati posisi yang setinggi-tingginya untuk memberikan pengaruh yang seluas-luasnya dalam rangka bermanfaat bagi orang sebanyak-banyaknya. Banyak sekali kesempurnaan yang mungkin dapat memacu kita untuk mengerjanya.

Akan tetapi, kalau kita berfikir dari paradigma “cara bersyukur”, mungkin ceritanya akan berbeda. Kita akan dihadapkan pada istilah kepasrahan dalam menerima kenyataan. Tentu saja, maksudnya adalah menerima kenyataan yang bersyarat. Atau dengan kata lain, menerima kekurangan yang dapat ditolerir. Kita tidak dapat mengharapkan kesempurnaan yang instan. Banyak sekali variabel kehidupan yang memaksa kita untuk “menerima kekurangan yang dapat ditolerir terlebih dahulu. Lantas kemudian, dengan rasa syukur tersebut, silahkan berlari kencang mengejar kesempurnaan (-bukan menuntut kesempurnaan).

Saya rasa, inilah yang disebut dengan realistis berprinsip.

Salam,

RvD

Smile!! (Senyuman)

January 27, 2013 Leave a comment

Kecemasan saya bahwa saya akan menghadap ketidakkompetenan professional dalam sebuah organisasi pemerintahan terjadi. Saya mulai mencatat dan melist kebobrokan sistem manajemen dan kontrol dalam sebuah badan usaha milik negara induk tempat kini saya berkarya. Apalagi begitu banyak hasil kegagalan tersebut yang berdampak langsung ke saya dengan kondisi dimana saya tidak bisa berbuat apa-apa karena keterbatasan lingkungan otoritas.

Rasanya ingin cepat mengubah sistem yang bobrok ini dengan mensapu bersih dedengkot-dedengkot konservatif yang masih merasa telah berhasil membangun sebuah sistem yang efisien. Saya masih belum paham tolak ukur keberhasilan mereka. Apakah hanya angka dan grafik indah tak bermakna  (data palsu) atau memang mereka gagal menurunkan sebuah tolak ukur keberhasilan dengan benar. Tidakkah mereka pernah membandingkan diri dengan perusahaan swasta nasional atau asing yang tumbuh berkembang secara progressive?. Berapa banyak manusia yang harusnya tersenyum menjadi bersedih karena ketidakkompetenan ini?

Hari ini, kedongkolan itu sedikit berkurang. Setidaknya, saya membuat seorang anak jalanan tersenyum hari ini. Saya hanya memberikan dua (2) voucher puzzle Doraemon yang tersisa sehingga peluang anak itu untuk mendapatkan puzzle Doraemon yang ia inginkan (berasal dari hatinya) dan ia butuhkan (untuk menikmati masa kecilnya) semakin besar. Saya juga tersenyum. Sharing Happiness.

Ternyata, untuk membuat seorang manusia tersenyum itu sederhana. Anda tidak harus membangun sistem yang canggih. Anda tidak harus membuat “jokes” yang unik. Anda tidak harus memperolok orang lain agar orang yang lainnya tertawa. Anda tidak harus berbohong dan memberikan informasi palsu hanya demi kesenangan orang lain.

Yang perlu Anda lakukan hanyalah tersenyum dan berikan apa yang sangat Ia inginkan dan juga Ia butuhkan.

Tantangannya adalah kebanyakan hanya anak kecil yang polos yang mau mengungkapkan apa yang benar-benar ia inginkan dan butuhkan. Semakin matang seseorang, semakin kesulitan ia mengidentifikasi apa yang sebenarnya ia inginkan dan butuhkan (Pengalaman membuat manusia banyak menimbang).

Salam,

Risvan Dirza

(karena senyuman adalah anugerah)

Retreat, Back to Real Corporate and Evaluate (“Mundur, Kembali ke Korporasi dan Evaluasi”)

December 25, 2012 2 comments

Kalau Anda melihat judul tulisan di atas, apa yang ada dipikiran Anda? Seorang pecundang? Seorang yang gagal? Yap, dugaan Anda benar. Saya memang gagal mengimplementasikan impian dan rencana saya di awal tahun lalu (yang berimpact pada kondisi saat ini). Dalam tulisan ini, saya tuliskan beberapa alasan dan analisa atas kegagalan tersebut.

Belum juga saya wisuda pada awal 2011, saya sudah aktif bekerja di salah satu MNC (Multi National Company) di bidang migas di Indonesia. Awalnya, saya berfikir saat itu adalah jalan yang baik. Hingga akhirnya, saya memutuskan untuk resign pada awal 2012. Adapun keputusan tersebut sudah saya pertimbangkan sejak pertengahan 2011 dengan menganalisa faktor internal (ketidakpuasaan) dan external (tawaran dan peluang lain) yang muncul hingga awal 2012.

Sejak pertengahan 2011, angin segar proyek-proyek properti sudah berhembus, begitu juga dengan sistem bagi hasil di sebuah perkebunan. Belum lagi niat untuk melanjutkan S2 dan tawaran menulis buku. Pada saat itu saya sudah merancang langkah-langkah strategis di tahun 2012.

Awal 2012, saya resign dari MNC Migas tersebut. Kemudian, masuk ke start up company dengan tawaran posisi yang lebih baik dan bayaran yang “sedikit” lebih baik. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan fleksibilitas waktu, mengasah insting bisnis dan menambah network. Flexibilitas waktu dan network diharapkan dapat membantuku untuk membangun mesin uang lain yang cukup signifikan, setidaknya sekitar bulan Oktober 2012. Bersamaan dengan itu, aku terus menerus mencari beasiswa untuk melanjutkan master di luar negeri yang tahun ajarannya dimulai pada  pertengahan tahun 2013. Sedangkan, target pernikahan adalah sebelum keberangkatan studi. Dengan kata lain, saya ingin menyiapkan stabilitas spiritual dan material sebelum melanjutkan studi di tahun 2013. Itulah cerita idealnya. Ibarat perusahaan, itulah misi yang harus saya lakukan di tahun 2012-2013.

Namun sekarang apa yang terjadi? Ternyata, misi itu gagal. Saya tidak menyebutnya tertunda, karena ketepatan waktu adalah tolak ukur kesuksesan sebuah misi. Sekali lagi saya tekankan saya gagal. Tetapi, bukan kegagalan yang harus disesali. Disini saya berbagi mengenai potensi-potensi di luar perhitungan yang membuat saya gagal dan mengakibatkan saya harus kembali merangkak.

  1. Internal reason yang di luar kontrol (kehendak Tuhan), sebuah perencanaan akan gagal total jika orang-orang terpercaya yang seharusnya mendukung Anda berbalik dan malah menjadi sesuatu yang “menjadi tanggung jawab” Anda dalam proses pencapaian misi. Ini berdampak pada perhitungan finansial yang hancur lebur yang saya secara pribadi gelagapan dalam menutupi dan memutar modal yang terbatas.
  2. Negosiasi dan komunikasi, beberapa tim projek untuk membangun mesin uang menjadi mandek karena kehilangan semangat mengingat tantangan nyata yang ternyata tidak sebatas teori di sebuah buku. Hal in terjadi pada sistem marketing projek properti, bisnis online dan pengadaan sodium sulphate dll.
  3. Skill, ada saatnya saya harus turun tangan sendiri dalam menjalankan mesin uang. Beberapa skill/keterampilan yang dibutuhkan untuk menjalankan mesin tersebut tidak saya kuasai secara penuh. Inilah yang menyebabkan saya menjadi terlalu bergantung ke orang lain. Hal ini terjadi pada kegagalan agreement dan pemeliharaan website.

Sekarang, apakah bentuk kegagalan yang real yang saya alami? Sekitar Agustus 2012, saya masuk sebagai finalis Panasonic Scholarship dan gagal meraih beasiswa. Sekitar Oktober 2012, saya menerima bahwa saya gagal membangun mesin uang baik itu export batik, pengembangan artikel ke negara lain, bisnis online ataupun projek properti. Keuangan hancur lebur karena banyak modal yang sudah terpakai. Sebenarnya, loss yang paling besar adalah waktu. Sehingga, dengan demikian, harapan saya untuk melanjutkan studi di 2013 pupus sudah.

Akan tetapi, kini saya bergabung dengan sebuah perusahaan migas nasional, PT. Pertamina Hulu Energy Offshore Northwest Java dengan potensi ikatan dinas 4 tahun. Mungkin pendapatan saya tidak sebesar dahulu (ini pendapatan terkecil semenjak saya bekerja), tapi setidaknya saya bersyukur bahwa saya diberikan kesempatan kedua untuk kembali membangun pondasi.

Lalu, langkah strategis apa yang harus saya lakukan? Tindakan antisipatif apa yang harus saya lakukan agar tidak terjadi kesalahan yang sama?

  1. Bekerjasama dengan Tuhan (Allooh SWT). Mungkin saya terlalu sombong dengan logika dan angka. Dan Dia adalah Yang Maha Berkehendak untuk memutarbalikkan estimasi, logika dan angka-ku.
  2. Belajar berbicara sesuai tempat, waktu dan kondisi.
  3. Mengembangkan kemampuan teknis detail yang dibutuhkan di dunia komersil
  4. Membangun pemahaman fundamental yang solid mengenai bagaimana membangun perusahaan.
  5. Menjadi halfboss/halfemployee.
  6. Be myself, melakukan sesuatu yang sesuai dengan prinsip kebenaran dan professionalisme. Saya tidak akan pernah mampu menyenangkan 10 dari 10 orang yang ada di sekitar saya.
  7. Lebih bersabar, jangan terburu-buru, analisa resiko yang lebih lean, dan sistem kontrol yang tepat terhadap partner-partner baru.

Melanjutkan studi? Saya rasa saya harus mengulur waktu lebih lama, setidaknya saya memikirkan itu setelah 4 tahun dari sekarang. Tetapi, yang pasti, saya akan tetap mengulik angka, rumus dan merekayasa formula dan persamaan dalam keseharian saya (baik tertulis ataupun tidak). Karena bentuk manfaat dari ilmu itu bukan gelar akademis.

Nikah? Yang pasti, secara resmi, tidak di 2013, mungkin 2014..

2012 memang tahun yang berat dan penuh dengan “kegagalan” dengan impact jangka panjang yang berselemak (kemana-mana).

Frustasi? Yes,

Minder? Yes,

Sedih? Yes,

Pesimis? Yes,

Marah? Yes,

Malu? Yes,

Tapi, itulah pengalaman saya.. dan saya memutuskan untuk bangkit dan merangkak kembali dengan cara yang mudah-mudahan lebih baik..

Salam perjuangan,

Risvan Dirza

Apakah Anda Pemimpin yang “Lengkap”?

October 7, 2012 Leave a comment

Ilmu kepemimpinan itu susah sekali. Mungkin itu pula mengapa belum ada jurusan kepemimpinan sempurna di daftar-daftar jurusan perguruan tinggi. Mungkin Anda merasa lengkap dengan mengetahui berbagai teori mengenai bagaimana membaca psikologi manusia, psikologi sosial, struktur sosial dan lain sebagainya. Tapi, secara praktis, apakah Anda menjamin bahwa Anda tidak mengalami banyak kegagalan dalam memenuhi teori yang Anda (katanya) kuasai (- diindikasikan dengan tumpukan buku manajemen dan kepemimpinan di perpustakaan pribadi Anda).

Jika saya harus melompat dan mengambil kesimpulan, teori kepemimpinan itu terdengar terlalu indah dibanding kenyataan praktisnya. Tetapi, yang jelas ada beberapa komponen kepemimpinan yang harus kita punyai untuk mendekati kata “lengkap”. Berdasarkan, diskusi, coaching dan pengalaman yang saya peroleh dalam beberapa tahun belakangan ini (sejak kata-kata pemimpin menganggu gendang telinga saya – Saya sebut mengganggu karena banyaknya orang-orang yang memakai istilah memimpin untuk tujuan pribadi atau golongan), saya menemukan komponen penguji kelengkapan kepemimpinan Anda. Jika satu saja Anda tidak penuhi, sebaiknya Anda instropeksi diri untuk mengkultuskan diri sebagai pemimpin yang lengkap.

Pertama, “Tahu arah”bahasa kerennya punya visi. Siapa sih yang bersedia ikut kalau Anda tidak tahu apa yang menjadi tujuan bersama? Tuna netra (-maaf) masih membutuhkan tongkat untuk memandu jalannya. Kalau Anda tidak tahu arah, komponen kepemimpinan Anda untuk hal ini tidak lebih baik dari pada tongkat tersebut.

Kedua, “Tahu cara”Anda bangga bahwa Anda punya ide keren, unik, beda dengan yang lain, sangat futuristic dan menguntungkan? Yuk, cari kasur, bantal dan guling kalau Anda tidak tahu langkah-langkah yang harus Anda penuhi untuk mencapai visi bersama.

Ketiga, “Sadar diri”Anda merasa keren dengan status sebagai pucuk pimpinan organisasi? Kepemimpinan bukan soal pengakuan individual bung. Jika Anda belum mampu membentuk visi bersama yang memfasilitasi kepentingan positif setiap pihak, sebaiknya Anda mundur.

Keempat, “Memahami situasi”. Anda belum lengkap jika Anda belum mampu memainkan dan mengendalikan konflik.

Kelima, “Punya target dan timeline”, Anda belum lengkap jika Anda belum membangun, memahami, meng-adjust dan mengoptimalkan plan Anda.

Keenam, “Punya pengaruh dan karisma”,  Anda merasa sudah menjadi pemimpin ketika jabatan Anda tinggi? Bagaimana jika orang yang Anda pimpin memiliki idealisme, harga diri tinggi (yang jelas lebih tinggi dari posisi dan bayaran-nya) dan pengalaman? Mereka, dalam hitungan jam, bisa saja meninggalkan dan mengibuli Anda.

Ketujuh, “Menghargai kolega dan orang yang Anda pimpin”, Masih bangga dapat memperkerjakan orang dengan bayaran tinggi? Lihat dunia lebih luas! Pintu rejeki bisa dari mana saja. Harta bukan lagi tolak ukur untuk dapat membangun hubungan saling membangun dengan kolega Anda.

Kedelepan, “Mampu memaksimalkan organisasi yang heterogen, kompleks dan gemuk”, Ini susah. Konon pula, Anda tidak punya pengaruh, karisma dan knowledge yang cukup. Habislah Anda seketika.

Kesembilan, “Kejujuran, Pemahaman menyeluruh dan Integritas”Kalau Anda tidak jujur, siapa yang mau percaya? Kalau Anda tidak memiliki pemahaman menyeluruh, bagaimana Anda bisa dikatakan kompeten? Kalau Anda tidak memiliki integritas, siapa yang akan loyal dan merasa nyaman bersender di Anda?

Keseluruhan komponen itu saling terkait satu sama lain. Satu saja, Anda gagal memenuhi, Anda belum lengkap.

Selamat melengkapi!

Salam,

Categories: General Knowledge

Chances Cathcer

September 1, 2012 Leave a comment

Apa yang Anda harapkan dari sebuah usaha yang Anda bangun? Uang dan untung yang melimpah? Relasi dan wanita dimana-mana yang menempel pada Anda? Kaya mendadak dan bisa keliling dunia?

Yup, Anda berhak untuk menentukan visi Anda sendiri mengapa Anda melangkah dan memutuskan untuk membangun usaha.

Dalam tulisan ini, saya tidak mendefinisikan diri sebagai pengusaha. Apalagi jika ditanya, ”Di bidang apa?”. Jujur, saya tidak bisa menjawabnya. Tapi, yang jelas saya suka membuat suatu “mesin” penghasil keuntungan atau profit.

Pada gambar di bawah ini, Anda dapat melihat grafik summary dari salah satu “mesin” saya.

Financial Indicator Evaluation

Financial Indicator Evaluation

Saya mungkin seorang otodidak yang tidak terlalu percaya dengan cerita-cerita sukses pengusaha yang begitu menarik di buku-buku yang kini bertebaran di Gramedia. Tapi, yang jelas saya berusaha menangkap setiap fenomena yang saya lihat dari “mesin” saya. Misalnya, dari “mesin” di atas.

  • Jika kita lihat, pada February tahun lalu, profit “mesin” ini sempat melonjak tajam dan kemudian turun dan tak bergerak. Yap, itu adalah dimana saya mulai terdaftar sebagai engineer (baca-karyawan :D) di sebuah perusahaan. Di sini saya melihat, jika kita ingin membangun “mesin” uang, maka bangunlah dengan kesungguhan dan manajemen waktu yang baik karena peluang itu tidak pasti datang 2 kali. Intinya, Saya baru saja kehilangan kesempatan untuk mem-boost up “mesin” ini tahun lalu.
  • Jika  kita lihat pada February tahun ini (dimana- saya memutuskan berhenti dari profesi saya  sebagai  Engineer), profit bersih “mesin” ini perlahan namun pasti, meningkat. Saya tidak menggeneralisir bahwa profesi engineer itu tidak mendukung proses pembuatan “mesin uang”. Tapi, saya memutuskan untuk “menimba ilmu” di sebuah perusahaan start up yang -sangat bisa dikatakan- belum ada sistem sama sekali. Kondisi itu menstimulasi innovasi dan kreativitas yang juga diperlukan untuk membangun “mesin” uang. Beda-nya, di sini, saya melakukan passion saya dengan tetap dibayar. Apakah impact-nya dengan “mesin” uang saya?, Saya lebih berani ambil resiko dan bergerak (Eitss.. dengan berbagai pertimbangan dan perhitungan pastinya.. 🙂 ), hingga profit-pun meningkat tajam kembali.
  • Percaya atau tidak, sebuah “mesin uang” di atas bukanlah berawal dari sebuah pencarian yang ambisius dan/atau ngotot. “Mesin” itu hanya bermula dari sebuah keisengan yang dilakukan dengan senyuman dan keikhlasan.

Perlu dicatat: beberapa resiko dan hambatan yang cukup membuat saya puyeng itu meliputi modal terpendam, partner kabur, birokrasi, dan yang paling utama adalah salah memberikan kepercayaan. Resiko-resiko seperti itu pasti cepat atau lambat mencolek kita 🙂

Lagi-lagi saya melihat bahwa membuat “mesin penghasil keuntungan” sebagai sebuah hobby atau sebuah game. Sehingga, saya lebih suka mendefinisikannya sebagai “opportunity seeker” atau “chances catcher”. Jadi, jangan ditanya lagi jenis “mesin” saya apa? 😉

Ilustrasinya, mungkin bisa dilihat ketika kita memainkan “Super Mario Bros”. Anda berjalan, mentekel masalah  (ex. Kura-kura dkk), mengidentifikasi batu yang mungkin saja memiliki jamur atau koin, lalu mencapai target di stage 1 dan  achievement-pun diperoleh.  Kemudian, Anda masuk ke stage berikutnya. Tapi, yang perlu ditambahkan dan dipastikan dalam membuat “mesin uang” adalah sustainabilitas, improvisasi, pengembangan dan diversifikasi untuk tetap berusaha dan bertahan (Survive).

Wassalam,

Cheers, Live your life cause you live once..

Risvan Dirza

Categories: General Knowledge

Penggelap Pajak yang Baik Hati

January 27, 2011 2 comments

Banyak berita tentang Gayus dan keterkaitannya dengan pajak penghasilan dari sebuah badan usaha, menstimulasi rasa ingin tahu saya mengenai bagaimana sih sebenarnya sistem pengenaan pajak bagi badan usaha?

Semuanya berawal dari “googling” dan melihat-lihat situs-situs perpajakan ataupun situs yang membahas tentang pajak. Pertama saya “nyangkut” ketika menemukan P21. Bisa dilihat di sini (http://www.pajak.go.id/index.php?view=article&catid=100%3Apph&id=147%3Apph-21&option=com_content&Itemid=171).

Yup, negara kita memang menggunakan pajak progresif agar mereka yang berpenghasilan tinggi dapat “menshare” harta ke mereka yang kurang beruntung. Niat yang mulia ya 🙂 (Objektif). Tp, sayangnya, niat tidak sejalan dengan tindakan. Fasilitas-fasilitas sosial yang dijanjikan itu tinggallah niat dan janji (Fakta)

Lalu, saya sadar bahwa saya menelaah aturan yang bukan saya cari. Saya mencari aturan perpajakan yang berkenaan dengan badan usaha (karena ulah Om Gayus, saya jadi sedikit banyak mau tahu tentang sistem perpajakan di negara ini. Makasih Om!!). Yap, saya akui aturan perpajakan yang berbelit-belit dan angka persentase yang entah bagaimana itu bisa muncul membuat saya “puyeng”. Saya tidak tahu, ntah karena memang saya nggak memahami pajak, atau memang saya orangnya tidak mau mempersulit masalah, atau memang kapasitas otak saya yang terus berkurang? Hahaha.. Intinya mah, mengapa aturannya dibuat ribet ya (Keknya, memang hobi bangsa ini membelit-belitkan benang :D). Kalau boleh berfikir negatif, bentuk yang begini akan mempermudah mereka untuk membohongi masyarakat.

Lalu, saya membaca sebuah blog. Yah, tampak lebih mudah dipahamilah. Intinya,” Dengan berlakunya Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 yang merupakan rangkaian perubahan terhadap Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983, maka mulai tahun 2009 nanti tarif Pajak Penghasilan untuk Wajib Pajak Badan akan menggunakan tarif tunggal yaitu 28% pada tahun 2009 dan 25% mulai tahun 2010”(Source : http://dudiwahyudi.com/pajak/pajak-penghasilan/tarif-pajak-penghasilan-untuk-usaha-kecil-dan-menengah-umkm.html?nomo=true). Sebenarnya, ada lagi embel embel lain di bawahnya untuk jenis-jenis usaha yang berbeda. Tapi, ya sudahlah.. Ambil saja angka 25% saja dulu.

Sekarang kita asumsikan sebuah perusahaan yang mampu menghasilkan keuntungan bersih sebesar. Rp 2.000.000.000,-/tahun. Secara sekilas, kita dapat ambil angka kasar bahwa akan ada potongan pajak sebesar Rp 500.000.000,- (besar ya…!!). Yah, sistem perpajakan pasti memberikan berbagai jenis keringanan ini dan itulah. Ambil saja angka Rp 400.000.000,- sebagai besar pajak yang harus di bayar si perusahaan. Sepertinya, masih besar ya..? :).

Sekarang kita coba berfikir positif pada para pemilik perusahaan yang  melakukan penggelapan pajak. Pertimbangan yang dia ambil adalah :

  1. Sistem perpajakan berniat mulia untuk membagikan hartanya ke mereka yang membutuhkan (Objektif)
  2. Fasilitas-fasilitas yang diharapkan tidak terwujud (Fakta)

Dengan sekilas saja terlihat ada gap antar fakta dan objektif. Kalau dijadikan angka, anggap sajalah ada sekitar Rp 300.000.000,- yang lenyap tanpa bekas (Rp.100.000.000,- dipakai untuk mewujudkan fasilitas social seadanya)

Sekali lagi, kita asumsikan sang pengusaha adalah orang yang berfikir positif ya..!!

Lalu, tercetuslah sebuah solusi sederhana (tapi kalau menurut aturan negara ini criminal). Dengan rincian sebagai berikut:

Perencanaan keuangan sang pengusaha…

===PENGUSAHA BERFIKIR-START===

Rp 100.000.000,- adalah uang pajak yang saya setor ke perpajakan (dipakai untuk mewujudkan fasilitas social seadanya.)

Rp 100.000.000,- adalah uang suap untuk orang-orang seperti Om Gayus agar mau mengubah angka Rp 400 juta menjadi Rp 100 juta saja.

Rp 200.000.000,- adalah uang yang saya kantongi lagi untuk mengembangkan usaha saya atau membangun usaha lainnya. Buat 40 rumah makan padang misalnya :D. Setidaknya, saya bisa beri makan 80 orang calon pengangguran di negara ini.. 😀

===PENGUSAHA BERFIKIR-END===

Nah, sekarang bisa kita lihatkan alasan “positif” mereka menggelapkan pajak :).

Sebenarnya, kondisi ini sudah seperti rantai besi yang berbelit (*bayangkan besi aja bisa berbelit-belit di negara ini hahaha..).  Tapi, biar bagaimanapun semua solusi berawal dari pemimpin, dalam hal ini pemerintah. Sekali lagi, definisi pemimpin bukan hanya mereka yang “berseru kosong”. Selain mencetuskan solusi, pemerintah juga harus memperbaiki diri. Disini, ada 5 pihak, yakni para pengusaha, orang pajak, orang dinas social atau sejenisnya, pemerintah dan rakyat jelata seperti saya hehehe…

  1. Pemerintah harus menjamin bahwa dana hasil pajak nyampek tuh ke dinas social dan terimplementasilah sesuai objektif yang diidam2kan (bukan hanya ada ya, tapi juga harus terukur).
  2. Orang pajak, ya sabar2lah karena menjadi imbasnya. Tp, tetap harus professional. Jangan kayak Om Gayus ya.. Oiya, lain kali aturan pajaknya dibikin mudah dipahami yah.. hehe..
  3. Dinas Sosial dkk. Ya, ingat Tuhan ya.. Kalau bikin program social itu sebaiknya terukur kualitasnya. Jangan asal jadi.
  4. Pengusaha. Sebenarnya, kasian sih kalau liat pengusaha2 yang jujur. Hikss.. Tp, saya juga paham betapa susahnya pemimpin2 di negeri ini untuk dipercaya. Yah, selama niatnya positif dan pemimpin di negara ini tidak amanah. Menurut saya, lanjutkan saja. Tp, ingat!!  Selama niatnya positif dan pemimpin di negara ini tidak amanah!!!
  5. Rakyat jelata seperti saya. Hikss..  Tawakal dan berdoa saja. Mudah2an para “penjahat” diberi petunjuk oleh Nya. Tapi, kalau para “penjahat” berkedok pemimpin itu gak mempan dikasi hidayah. Yah.. doain cepat mati aja dan masuk neraka.. Biar muncul orang-orang yang lebih baik :D.

Ya sudahlah.. Moga2 aja orang-orang pada berfikir kearah yg lebih baik untuk kepentingan bersama. Sekali lagi, bersama ya.. bukan untuk golongan tertentu hehehe…

Categories: General Knowledge, Thought