Archive

Archive for the ‘Humor’ Category

10 Reasons for Dating Engineers

April 3, 2010 4 comments

(Note : Repost and Request)

If you have “that” sense of humour

10. The world does revolve around us… we choose the coordinate system.
9. No “couple” enjoy a better “moment”.
8. We know how to handle stress and strain in a relationship.
7. We have significant figures.
6. We understand the motion of rigid bodies.
5. Projectile motion: Do we need to say more?
4. Engineers do it to specification.
3. According to Newton, if two bodies interact, their forces are equal and opposite.
2. We know it’s not the length of the vector that counts, but how you apply the force.
1. WE KNOW THE RIGHT HAND RULE!

PS : Thanks to … (forgot the URL.. )

Advertisements
Categories: Humor

Kentang Vs Nasi

February 2, 2010 21 comments

The Kentangs

Sebuah kebiasaan umum, bahwasannya nasi menjadi konsumsi utama bangsa Indonesia (padahal dulunya gak hampir semua orang Indonesia makan nasi). Begitu juga di negeri matahari terbit ini. Istilah yang biasa keluar dari mulut mereka (Indonesia) adalah “Kalau gak pake’ nasi, ya gak kenyang!”.

Terus, timbullah pertanyaan yang biasa terucap oleh saya (kebiasaan sih.. ). “Kenapa harus nasi? Kenapa gak eksplor yang lain? Kenapa takut berubah? Kenapa? Kenapa yang itu-itu aja?”. Yah, pertanyaan yang ditakuti dua kaum. =p

1. Kaum “takut perubahan”. Dan mereka akan membalas, “Kenapa nanya? Kenapa harus berubah?”. *gubraak

2. Kaum “pencuri”. Dan mereka akan membalas, “yah begini, jadi dengan demikian…….(blabla)”. Dan tanggapan kaum ini pun berbelit-belit seperti mencari ketiak ular (Walaupun indah didengar hehe..)

Tapi, begitulah dunia, semuanya beragam, semua merasa benar, semua merasa paling pintar. Tapi, kalau dipikir-pikir ketika kita merasa benar atau pintar, maka secara tidak langsung kita menganggap orang lain tidak lebih benar/tidak lebih pintar. Efek berikutnya adalah manusia itu akan menutup telinga dari informasi. Maka, jadilah katak dalam tempurung. Layaknya sebagian besar remaja U.S. yang tidak paham geografi umum. Merasa negaranya super power dan informasi terpusat di sana. Pada kenyataannya, mereka tidak banyak tahu realita dunia. Sejarah terus berulang, sebuah “kebesaran” akan selalu runtuh ketika tonggak-tonggaknya berjalan dengan membusungkan dada dan mendongak.

Oke, kembali ke “Kentang”.. =D

*Nama saya Ris Van dir Za, biasalah keturunan kompeni, jadi agak-agak indo gitu. Tapi, sayangnya itu bohong =).

Tapi, kali ini jujur.

Setelah secara tidak sengaja lahir sebagai bangsa Indonesia, maka nasi menjadi makanan yang biasa saya “kunyah” sehari-hari. Walau hanya kecap temannya, hidangan membumi ini akan aku santap =). Dan saya puas saat itu.

Tahun 2004-2005, saya dimandatkan untuk “menjajah” negeri kincir angin dengan niat untuk mengorek lebih dalam dan menempatkan diri di sudut pandang mereka dari berbagai posisi tentunya. Yang paling seru itu, waktu debat di kelas sejarah =P. Tapi, saya tidak akan bicara itu di sini.

“Saya akan sedikit memperkenalkan “Kentang” sebagai supplier energi yang membantu saya menempuh 32 km (PP) dengan sepeda “duda” di bawah terpaan hujan, angin, dan salju ; menembus hutan yang gelap gulita di musim dingin dan berlomba dengan kereta api ketika jalur sepeda-ku harus sejajar dengan rel kereta (perlombaan yang selalu diakhiri dengan kekalahanku *yaiyalah ). Itu semua demi pergi ke sekolah -_-!.”

Uniknya, massa tubuhku malah nambah 7 kg. Dengan load transportasi demikian, mungkin seharusnya massa tubuh-ku turun. Tapi, malah naik =P. Ternyata itu semua terletak pada Kentang =D. Maka, sejak saat itu, makan pokok kedua-ku adalah kentang. Walaupun nasi, masih berada di peringkat pertama.

Saat ini, setelah kembali nyaman dengan nasi. Ternyata, fakta membuktikan kesehatan, konsentrasi dan massa tubuh menurun drastis. Sebuah kenyataan yang sebenarnya sering terjadi karena kurang kerjaan *hiyaa =D.  Sebenarnya, banyaksih solusinya, tapi mengharapkan orang lain yang bergerak atau sadar itu sih hampir mustahil. Walaupun sudah diomongin, tapi kalau memang udah “short circuit-korslet”, yah dianggap aja “agent-ronda”..hiyaa.. =D.

*”Hadapi dengan senyuman”.

Lalu, solusi yang mungkin dilakukan adalah on board-improvement. Salah satunya adalah beralih ke mengkonsumsi kentang =D.

Ada beberapa keuntungan kentang :

1. Financial

Di Azamino 1 kg kentang berharga 238 yen. Berarti untuk 5 kg kentang akan berharga 1190 yen. Bandingkan dengan nasi yang berharga 1398 yen untuk 5 kg. Secara finansial, mengkonsumsi kentang akan menuntungkan 208 yen.

(1-0 untuk kentang)

2. Massa yang masuk ke tubuh.

Kalau mau masak nasi, kita selalu menambahkan air bukan? Mengapa nasi kelihatan banyak setelah di masak? Mengapa kita mudah kenyang setelah makan nasi? Karena nasi itu mengembang, dan mengandung banyak air =).

Beda dengan kentang (kentang yang udah di potong-potong yah), yang justru pada waktu dibeli juga mengandung udara. Apakah udara mempengaruhi massa kentang? *Saya rasa anda cukup pintar menjawab pertanyaan tersebut. Dan ketika digoreng biasanya akan memadat tapi tetap dengan massa yang sama.. hehe.. Jadi, walaupun tampaknya sedikit dan tidak mengenyangkan, sebenarnya massa yang masuk ke tubuh tetap sama. Justru, istilah “tidak mengenyangkan” ini menjadi alasan kenapa saya memiliki energi yang lebih banyak ketikan mengkonsumsi kentang. (Soalnya, kalau belum terasa agak kenyang, maka saya cenderung mau makan lagi =D ).

*Oiya, sekedar konfirmasi saja, orang jepang memang makan nasi, tapi proporsi nasinya jauh lebih kecil dari lauk-nya =p.

(untuk ini saya kasi score seri-lah  2 – 1 untuk kentang)

3. Kreativitas

Sebutkan, jenis makanan apa saja yang bisa kita buat dengan nasi secara praktis? Bandingkan dengan kentang.. =)

(untuk ini, sebenarnya relatif-yah, tapi bagi saya kentang tampak lebih praktis dalam kreatifitas, 3 – 1 untuk kentang)

Begitulah pertandingan Kentang vs Nasi saat ini. Untuk sementara kentang masih mengungguli nasi. Masukan dan saran tetap dibuka yo.. =)

*3 perbandingan di atas muncul berdasarkan pengalaman penulis, masukan dan informasi tambahan akan sangat berharga demi objektifitas (halah). =D

Kentang Sexy

Categories: Humor

“Lamaranmu Kutolak!!!”

August 30, 2009 2 comments

Mereka, lelaki dan perempuan yang begitu berkomitmen dengan agamanya.

Melalui ta’aruf yang singkat dan hikmat, mereka memutuskan untuk

melanjutkannya menuju khitbah.

Sang lelaki, sendiri, harus maju menghadapi lelaki lain: ayah sang perempuan.

Dan ini, tantangan yang sesungguhnya. Ia telah melewati deru

pertempuran semasa aktivitasnya di kampus, tetapi pertempuran yang

sekarang amatlah berbeda.

Sang perempuan, tentu saja siap membantunya. Memuluskan langkah mereka

menggenapkan agamanya.

Maka, di suatu pagi, di sebuah rumah, di sebuah ruang tamu, seorang

lelaki muda menghadapi seorang lelaki setengah baya, untuk ‘merebut’

sang perempuan muda, dari sisinya.

“Oh, jadi engkau yang akan melamar itu?” tanya sang setengah baya.

“Iya, Pak,” jawab sang muda.

“Engkau telah mengenalnya dalam-dalam? ” tanya sang setengah baya

sambil menunjuk si perempuan.

“Ya Pak, sangat mengenalnya, ” jawab sang muda, mencoba meyakinkan.

“Lamaranmu kutolak. Berarti engkau telah memacarinya sebelumnya? Tidak

bisa. Aku tidak bisa mengijinkan pernikahan yang diawali dengan model

seperti itu!” balas sang setengah baya.

Si pemuda tergagap, “Enggak kok pak, sebenarnya saya hanya kenal

sekedarnya saja, ketemu saja baru sebulan lalu.”

“Lamaranmu kutolak. Itu serasa ‘membeli kucing dalam karung’ kan, aku

takmau kau akan gampang menceraikannya karena kau tak mengenalnya.

Jangan-jangan kau nggak tahu aku ini siapa?” balas sang setengah baya,

keras.

Ini situasi yang sulit. Sang perempuan muda mencoba membantu sang

lelaki muda. Bisiknya, “Ayah, dia dulu aktivis lho.”

“Kamu dulu aktivis ya?” tanya sang setengah baya.

“Ya Pak, saya dulu sering memimpin aksi demonstrasi anti Orba di

Kampus,” jawab sang muda, percaya diri.

“Lamaranmu kutolak. Nanti kalau kamu lagi kecewa dan marah sama

istrimu, kamu bakal mengerahkan rombongan teman-temanmu untuk mendemo

rumahku ini kan?”

“Anu Pak, nggak kok. Wong dulu demonya juga cuma kecil-kecilan. Banyak

yang nggak datang kalau saya suruh berangkat.”

“Lamaranmu kutolak. Lha wong kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok

mau ngatur keluargamu?”

Sang perempuan membisik lagi, membantu, “Ayah, dia pinter lho.”

“Kamu lulusan mana?”

“Saya lulusan Teknik Elektro UGM Pak. UGM itu salah satu kampus

terbaik di Indonesia lho Pak.”

“Lamaranmu kutolak. Kamu sedang menghina saya yang cuma lulusan STM

ini tho? Menganggap saya bodoh kan?”

“Enggak kok Pak. Wong saya juga nggak pinter-pinter amat Pak. Lulusnya

saja tujuh tahun, IPnya juga cuma dua koma Pak.”

“Lha lamaranmu ya kutolak. Kamu saja bego gitu gimana bisa mendidik

anak-anakmu kelak?”

Bisikan itu datang lagi, “Ayah dia sudah bekerja lho.”

“Jadi kamu sudah bekerja?”

“Iya Pak. Saya bekerja sebagai marketing. Keliling Jawa dan Sumatera

jualan produk saya Pak.”

“Lamaranmu kutolak. Kalau kamu keliling dan jalan-jalan begitu, kamu

nggak bakal sempat memperhatikan keluargamu.”

“Anu kok Pak. Kelilingnya jarang-jarang. Wong produknya saja nggak

terlalu laku.”

“Lamaranmu tetap kutolak. Lha kamu mau kasih makan apa keluargamu,

kalau kerja saja nggak becus begitu?”

Bisikan kembali, “Ayah, yang penting kan ia bisa membayar maharnya.”

“Rencananya maharmu apa?”

“Seperangkat alat shalat Pak.”

“Lamaranmu kutolak. Kami sudah punya banyak. Maaf.”

“Tapi saya siapkan juga emas satu kilogram dan uang limapuluh juta Pak.”

“Lamaranmu kutolak. Kau pikir aku itu matre, dan menukar anakku dengan

uang dan emas begitu? Maaf anak muda, itu bukan caraku.”

Bisikan, “Dia jago IT lho Pak”

“Kamu bisa apa itu, internet?”

“Oh iya Pak. Saya rutin pakai internet, hampir setiap hari lho Pak

saya nge-net.”

“Lamaranmu kutolak. Nanti kamu cuma nge-net thok. Menghabiskan

anggaran untuk internet dan nggak ngurus anak istrimu di dunia nyata.”

“Tapi saya ngenet cuma ngecek imel saja kok Pak.”

“Lamaranmu kutolak. Jadi kamu nggak ngerti Facebook, Blog, Twitter,

Youtube? Aku nggak mau punya mantu gaptek gitu.”

Bisikan, “Tapi Ayah…”

“Kamu kesini tadi naik apa?”

“Mobil Pak.”

“Lamaranmu kutolak. Kamu mau pamer tho kalau kamu kaya. Itu namanya

Riya’. Nanti hidupmu juga bakal boros. Harga BBM kan makin naik.”

“Anu saya cuma mbonceng mobilnya teman kok Pak. Saya nggak bisa nyetir”

“Lamaranmu kutolak. Lha nanti kamu minta diboncengin istrimu juga? Ini

namanya payah. Memangnya anakku supir?”

Bisikan, “Ayahh..”

“Kamu merasa ganteng ya?”

“Nggak Pak. Biasa saja kok”

“Lamaranmu kutolak. Mbok kamu ngaca dulu sebelum melamar anakku yang

cantik ini.”

“Tapi pak, di kampung, sebenarnya banyak pula yang naksir kok Pak.”

“Lamaranmu kutolak. Kamu berpotensi playboy. Nanti kamu bakal selingkuh!”

Sang perempuan kini berkaca-kaca, “Ayah, tak bisakah engkau tanyakan

soal agamanya, selain tentang harta dan fisiknya?”

Sang setengah baya menatap wajah sang anak, dan berganti menatap sang

muda yang sudah menyerah pasrah.

“Nak, apa adakah yang engkau hapal dari Al Qur’an dan Hadits?”

Si pemuda telah putus asa, tak lagi merasa punya sesuatu yang berharga.

Pun pada pokok soal ini ia menyerah, jawabnya, “Pak, dari tiga puluh

juz saya cuma hapal juz ke tiga puluh, itupun yang pendek-pendek saja.

Hadits-pun cuma dari Arba’in yang terpendek pula.”

Sang setengah baya tersenyum, “Lamaranmu kuterima anak muda. Itu

cukup. Kau lebih hebat dariku. Agar kau tahu saja, membacanya saja

pun, aku masih tertatih.”

Mata sang muda ikut berkaca-kaca.

Ini harus happy ending, bukan?

🙂

Categories: Humor

10 Alasan Kencan dengan Engineer

May 31, 2009 2 comments

Hmm.. Iseng-iseng baca blog teman yang di TU Delft..

Trus, ada artikel kek gini.. Lucu juga..

If you have “that” sense of humour

10. The world does revolve around us… we choose the coordinate system.
9. No “couple” enjoy a better “moment”.
8. We know how to handle stress and strain in a relationship.
7. We have significant figures.
6. We understand the motion of rigid bodies.
5. Projectile motion: Do we need to say more?
4. Engineers do it to specification.
3. According to Newton, if two bodies interact, their forces are equal and opposite.
2. We know it’s not the length of the vector that counts, but how you apply the force.
1. WE KNOW THE RIGHT HAND RULE!

Categories: Humor Tags: , ,