Archive

Archive for the ‘Poetry & Poem’ Category

Rakyat Jelata : Silahkan Pilih Tuan-Tuan Terpilih!

February 21, 2010 2 comments

“Hidup adalah pilihan”,untuk kalimat sederhana ini, beberapa orang akan menganggap sebelah mata. Secara konsep, jika anda punya banyak option, maka pilihlah salah satu di antaranya. Tapi, apakah semudah itu? Seperti biasa, praktek itu jauh sulit dari konsep atau teori, bukan? Tapi, menentukan pilihan itu jauh lebih baik daripada tidak sama sekali. Lebih cepat anda menentukan pilihan, maka lebih cepat pula anda mempersiapkan langkah selanjutnya. Takut salah pilih? Maka, jawaban penulis adalah “Bodoh, pilihan itu gak ada yang salah. Kata salah pilih itu keluar ketika engkau menyesali pilihanmu”. (anyway, jawaban itu juga sering saya tujukan pada diri saya sendiri, at least sebagai sugesti).

===========================================================================

Jika anda pernah baca status saya di Facebook, maka terlontar sebuah susunan kalimat berikut :

Biarkan ku melangkah bebas,

Takkan terikat hati ini dengan harta, tahta, wanita, popularitas dan hal yang fana

Inginku berpuisi,

tapi tak miliki inspirasi,

tak bermaksud berambisi,

hanya mengikuti kata hati..

Lontaran kata sederhana itu keluar begitu saja.

Anda tidak perlu jadi milyuner untuk merasakan bahwa hati anda takkan terikat harta. Cukup berikan uang 500 rupiah pada pengemis di pinggiran jalan. Lalu, senyum simpul di pipinya. Maka, anda lihat senyuman dari hati itu.

Anda tidak perlu menjadi pejabat tinggi untuk merasakan bahwa hati anda takkan terikat tahta. Cukup berbagi sedikit ilmu tambah kurang pada anak-anak yang putus sekolah di pemukiman kumuh di dekat anda. Dan anda akan tahu bahwa anda tidak perlu berdasi dan berjas untuk melihat senyum simpul dan antusiasme di wajah mereka.

Anda tidak perlu menjadi perkasa, jantan, tampan dan perayu handal untuk membuktikan bahwa hati anda takkan terikat wanita. Cukup dengan melihat tatapan mata ayah dan ibu anda ketika anda akan meninggalkannya jauh, maka anda akan tahu bahwa anda biar bagaimanapun telah dicintai oleh  2 orang manusia secara penuh. Belum lagi cinta Tuhan anda yang telah memberi anda kesempatan melihat dunia. Lantas mengapa anda tidak mulai memberi sayang pada mereka yang lebih membutuhkan? Mereka yang lebih lemah? Seberapa besarkah ego anda?

Anda tidak perlu menjadi selebritis dan orang hebat untuk membuktikan bahwa hati anda tidak terikat popularitas. Karena kehadiran anda sekarang sudah terkenang di hati orang -orang di sekitar anda. Kita yang sekarang adalah produksi dari kehadiran mereka yang pernah hadir di hidup kita begitu juga sebaliknya. Mengapa anda harus meninggalkan “fans” anda sekarang dengan mencari popularitas tanpa henti ?

Hatimu tidak perlu terikat hal-hal fana. Karena sudah jelas hidup ini sementara, manfaatkanlah kesempatan itu dengan memberi pada mereka yang lebih lemah. Secara real, bukan konsep, teori atau mimpi-mimpi palsu. Kami butuh aksi dan bukti nyata, tuan tuan!!!

Inginku berpuisi,

tapi tak miliki inspirasi,

tak bermaksud berambisi,

hanya mengikuti kata hati..

Kadang ku lemah,

Hatikupun renta,

Harapku tak sendiri,

Andai anda menemani

Dan ini takkan sekedar mimpi.

Mimpi ini sederhana,

Dan inginku menjadi realita,

Sungguh sulit menjaga mimpi ini, apalagi dengan kenyataan dunia yang penuh godaan. Anda punya tahta, dan anda akan mengincar tahta yang lebih tinggi. Anda punya wanita, dan anda penasaran bukan dengan wanita lain? Anda punya harta, dan terkadang ingin menambah 1 digit 0 dibelakang nilai harta itu. Anda sudah dikenal di wilayah A, dan mungkin wilayah B dan C akan menjadi target selanjutnya.

===========================================================================

Well, Hidup ini memang sebuah pilihan dan tulisan sederhana di atas hanya sebagai bahan pertimbangan bagi mereka yang suka tantangan. :). Anda suka tantangan? :-p. Atau anda safety player?

Anyway, Hidup adalah pilihan. Jadi, jika..

Anda mau menjadi milyuner? monggo silahkan..

Anda mau menjadi penjinak wanita? Sok.. lah.. (Titip 3 yo.. *plaak :-p)

Anda mau menjadi pejabat besar? Yah, jangan batasi hidup ane yah.. 🙂

Anda mau menjadi selebritis? Weis.. ntar  foto bareng yah.. huehehe..

Anda mau semuanya? Ke laut aja loe.. Manusia Serakah.. Bagi-bagi dong.. (at least, dengan saya gitu :-p)

Well, this post is a kind of declaration that i won’t filter my words anymore. 🙂

(*Saya berharap tulisan ini dapat menjadi pengingat ketika hati saya ini goyah.. :-p)

Advertisements
Categories: Poetry & Poem

I wish I was a Kid

December 10, 2009 1 comment

Ketika itu aku berusaha jalan,

Walau tergopoh, jatuh dan menangis.

Aku bangkit dan mencoba lagi.

Aku tidak takut gagal

Walau daku harus terpuruk dan tersudut.

Aku pasti bisa bangkit dan mencoba lagi.

Ketika itu aku dengan mudahnya berkata

“Aku sayang kamu”

Walau aku tak tahu apa alasannya.

Apalagi makna cinta?

Lalu, mengapa kini harus punya alasan

untuk berkata, “Aku sayang kamu”.

Mengapa harus ada batas fisik, harta

otak atau apapun bentuknya.?

Mengapa harus mencari cinta sejati nan tulus?

Bukankah itu sudah ada pada dirimu sejak dulu?

Ketika itu aku bebas memilih,

Walau terkadang berakhir pada luka ataupun tangis.

Aku tetap berani memilih menurut nuraniku.

Aku akan tetap merasakan kebebasan itu.

Walau terkadang orang akan menganggap itu bodoh.

Kan kubiarkan nuraniku bebas terbang

Dari sangkar gengsi, ambisi, harga diri,

status sosial atau apapun bentuknya

Risvan. D

Categories: Poetry & Poem Tags:

Rapuhnya Sang Pemimpi

December 3, 2009 3 comments

Malam itu..

Benar aku..

Menikmati indahnya karya manusia ini..

Menghiasi indahnya ukiran alam sang pencipta..

Cahaya lampu itu..

Menghias indah gedung-gedung yang menjulang tinggi dengan gagahnya..

Sebuah jembatan membentang lantang..

Layaknya gapaian tangan masiv yang menyatukan dua daratan..

Tapi,

Semangatku runtuh..

Persis bersamaan dengan titik statis keindahan yang kurasa..

Pecah berserakan..

Tubuh letih yang selama ini tak terasa berkat topangan semangat yang menggebu..

Lunglai..

Rasa yakin,

Rasa percaya,

Rasa nyaman,

Yang selama ini abu-abu..

Menjadi hitam kelam..

Rasanya, tak pantas aku menyalahkan Tuhan-ku dan Rasul-ku..

Tapi manusia bodoh dan penuh keterbatasan ini tidak berdaya.

Sudah kucoba untuk terus belajar.

Sudah kucoba tuk menembus limitku.

Tiada kenyamanan yang kurasakan.

Bahkan aku semakin ragu dengan keadilan-Mu.

Bahkan aku semakin ragu dengan kedigdayaan-Mu.

Perlahan kurasakan pelukan-Mu semakin dingin.

Perlahan kau padamkan api semangat untuk mewujudkan visi-ku

Visi yang kulandaskan pada keinginan-Mu.

Tapi, hanya Engkau Tuhan-ku.

Tempat aku mengadu dan menangis dalam kesunyian malam-Mu.

Pada titik ini aku menyerah.

RvD

Categories: Poetry & Poem Tags: ,