Archive

Archive for the ‘Thought’ Category

Pencapaian Hingga 15 April 2016 dan Asa Berikutnya

April 15, 2016 Leave a comment

harapan

Malam ini, saya berbincang ringan dengan istri saya mengenai “novel kehidupan” bahwa “novel” ini ditulis oleh Sang Pencipta semenarik mungkin. Sederhana saja, pencapaian akan terasa memuaskan apabila ada proses yang berat, kecewa dan kegagalan. Itulah konsep klimaks-antiklimaks. Selain itu, saya juga masih berkeyakinan bahwa “trigger” kehidupan itu adalah “ASA”, bukan hanya detak jantung. Menurut saya, seorang manusia hidup tanpa ASA tidak jauh berbeda dengan zombie. Singkat cerita, saya berpendapat bahwa ASA itu perlu dijaga dalam menjalani “novel kehidupan”. Jadi, saya berusaha untuk menulis “ASA” dan pencapaian saya dalam blog ini untuk menjaga dan memonitor-nya dalam “novel kehidupan” saya secara periodik, entah itu mingguan, bulanan, 3 bulanan atau tahunan. Yang penting dimulai dulu saja.Karena berbagi itu indah.

Saya tidak spesifik mendefinisikan terhitung mulai kapan pencapaian di bawah saya tuliskan. Tapi, saya buat saja cut off pada tanggal 15 April 2016. Untuk ASA-nya, saya fikir akan saya bagi dalam ASA jangka pendek dan ASA jangka panjang

  1. Rumah Tangga

Saya berstatus sebagai suami sejak 4 April 2014. Kini, istri saya sudah mengandung mendekati 20 minggu. Diperkirakan saya akan menjadi “orang tua” pada awal September 2016.

ASA Jangka Pendek: Setidaknya setiap dua minggu sekali, istri saya dan saya akan “menjenguk” calon buah hati kami ke dokter kandungan.

ASA Jangka Panjang: Melihat dan mengadzankan/mengiqomatkan sang buah hati pada saat lahiran di Sept 2016 nanti.

  1. Asset dan Financial

Istri saya dan saya selalu melakukan proses pemantauan terhadap asset dan pertumbuhan asset kami secara berkala. Pertumbuhan nilai likuiditas financial setahun belakangan ini mencapai 300% dari nilai awal dengan tidak memperhitungkan asset tidak likuid. Alhamdulillah, Allah SWT melimpahkan rezekinya selama setahun belakangan ini. Kami tidak sepenuhnya berharap kepada gaji bulanan saya. Oleh karena itu, berbagai metode pengembangan kami coba untuk memperkokoh fondasi financial kami sebagai keluarga kecil. Salah satunya, Kami mencoba berternak Kambing dengan 3 ekor kambing sebagai modal awal.

ASA Jangka Pendek: Setidaknya ada yang ditabung setiap bulan. Memonitor perkembangan usaha ternak kambing.

ASA Jangka Panjang: Mencari partner finansial untuk bersama-sama menjalankan proyek perumahan alexandria yang terus menerus mangkrak.

  1. Pekerjaan

Selama tahun 2015, pencapaian pekerjaan tergolong memuaskan karena semua target tercapai. Proyek-proyek selesai lebih cepat dan secara budget tim proyek saving lebih banyak. Proyek-proyek tersebut adalah Zulu Reactivation Project dan ORF Muara Karang E&I Reliability Improvement Project. Q1 2016, saya dipindahkan di SP New Field Development Project. Menurut saya, proyek ini berada di fase-fase yang menantang dengan banyaknya faktor-faktor yang di luar kontrol dan ketidakpastian yang tinggi. Semoga saja setiap “novel kehidupan” berujung indah.

ASA Jangka Pendek: Melakukan visit ke lapangan untuk memverifikasi ulang ruang lingkup kerja instrumentasi dan memastikan pertemuan pra-bidding untuk satu tender dilakukan minggu depan.

ASA Jangka Panjang: Membantu tim agar penunjukkan pemenang-pemenang tender dapat dilakukan tahun ini dan memberikan kontribusi sesuai dengan ruang lingkup kerja seharusnya.

  1. Pengembangan Professional

Pada akhir Desember 2015, saya sudah mengikuti training persiapan untuk mengambil sertifikasi PMP (Project Management Profesional). Akan tetapi, dikarenakan kondisi proses pembayaran yang agak tersendat, maka saya tidak dapat mengikuti kelas intensif di awal 2016.

ASA Jangka Pendek: Menguasai 1 BAB per minggu dan mencoba 10 soal per minggu.

ASA Jangka Panjang: Certified PMP di tahun 2016

  1. Sekolah Master dan Beasiswa

Ini merupakan salah satu bukti nyata teori ASA dan novel kehidupan. Setelah berjibaku dari tahun 2012 dengan segala keterbatasan yang ada, ada proses kehilangan harapan, kehilangan kepercayaan diri, keinginan untuk mundur, penentuan dan kalah prioritas, kegagalan dan sebagainya. Akhirnya, alhamdulillah, saya ditetapkan sebawa awardee LPDP Batch I 2016. Beasiswa (full) ini memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada saya untuk melanjutkan studi master full time. Saat ini saya sudah mengantongi tawaran untuk melanjutkan study di  Eindhoven University of Technology-TU/e (Systems and Control) dan University of Aberdeen (Oil&Gas Engineering dan Petroleum Engineering). Untuk di TU/e, saya sudah menginformasikan bahwa saya akan melanjutkan studi di tahun depan. Dengan diberikan kesempatan beasiswa ini, saya juga berniat berusaha untuk membuka peluang kesempatan studi di tempat-tempat yang lebih menantang seperti ETH Zurich, Stanford University atau mungkin MIT. Ah, biarkanlah ASA ini melayang terlebih dahulu. Semoga Allah SWT memudahkan jalan, membuka hati dan memberi hidayah bagi orang-orang untuk memuluskan jalan saya. Oiya, jangan ditanya untuk menyebutkan aplikasi yang ditolak, banyak dan mungkin akan bertambah..

ASA Jangka Pendek: Meningkatkan IELTS dan belajar GRE.

ASA Jangka Panjang: Memformalkan surat penerimaan tanpa syarat dari TU/e pada Oktober 2016 dan melayangkan ASA untuk mencoba ETH Zurich, Stanford University atau mungkin MIT.

  1. Habblumminallah (Hubungan dengan Allah SWT)

Saya sangat menyadari bahwa saya bukanlah manusia yang selalu dekat dengan Allah SWT. Sejauh ini, yang saya tahu bahwa saya tidak melakukan perbuatan yang dilarangNya. Akan tetapi, banyak perintahNya yang belum saya turuti. Sholat masih belum sempurna. Puasa senin-kemis sempat dilakukan tetapi kemudian terhenti. Walaupun demikian, alhamdulillah dengan bantuan istri, infaq dan sedekah mingguan kepada anak-anak masih relatif konsisten hingga saat ini.

ASA Jangka Pendek: Perbaiki sholat, puasa dan perbanyak membaca Al-qur’an

ASA Jangka Panjang: Menghafal Al-qur’nan.

  1. Travelling Ke 3 Negara

Rencana ini hasilnya 0%.

Pertama, istri dan saya sudah memesan tiket dan penginapan untuk mengunjungi Australia bulan April 2016. Alhamdulillah, istri mengandung, rencana kunjungan wisata ke Australia kami batalkan.

Kedua, saya menulis paper untuk mengikuti konferensi ke Trinidad dan Tobago. Alhamdulillah, gagal. Satu pelajaran yang saya tangkap adalah jangan menulis paper dengan data terbatas dalam satu minggu. Sudah jelas papernya tidak akan berkualitas dan maksa

Ketiga, istri dan saya berencana untuk berangkat ke Belanda pada Q3 akhir 2016. Alhamdulillah, istri mengandung dan jadwal ke Belanda bertepatan dengan estimasi istri melahirkan.

ASA Jangka Pendek: Belum ada. Mempelajari cara mempersiapkan visa ke Belanda

ASA Jangka Panjang: Mengunjungi Belanda pada 2017 bersama Istri dan Anak.

“Hiduplah dengan harapan, tapi jangan berharap hidup jika tanpa harapan”

Risvan Dirza,

Jakarta, 15 April 2016, 02.42.

Advertisements
Categories: Jakarta, Thought Tags: , ,

Smile!! (Senyuman)

January 27, 2013 Leave a comment

Kecemasan saya bahwa saya akan menghadap ketidakkompetenan professional dalam sebuah organisasi pemerintahan terjadi. Saya mulai mencatat dan melist kebobrokan sistem manajemen dan kontrol dalam sebuah badan usaha milik negara induk tempat kini saya berkarya. Apalagi begitu banyak hasil kegagalan tersebut yang berdampak langsung ke saya dengan kondisi dimana saya tidak bisa berbuat apa-apa karena keterbatasan lingkungan otoritas.

Rasanya ingin cepat mengubah sistem yang bobrok ini dengan mensapu bersih dedengkot-dedengkot konservatif yang masih merasa telah berhasil membangun sebuah sistem yang efisien. Saya masih belum paham tolak ukur keberhasilan mereka. Apakah hanya angka dan grafik indah tak bermakna  (data palsu) atau memang mereka gagal menurunkan sebuah tolak ukur keberhasilan dengan benar. Tidakkah mereka pernah membandingkan diri dengan perusahaan swasta nasional atau asing yang tumbuh berkembang secara progressive?. Berapa banyak manusia yang harusnya tersenyum menjadi bersedih karena ketidakkompetenan ini?

Hari ini, kedongkolan itu sedikit berkurang. Setidaknya, saya membuat seorang anak jalanan tersenyum hari ini. Saya hanya memberikan dua (2) voucher puzzle Doraemon yang tersisa sehingga peluang anak itu untuk mendapatkan puzzle Doraemon yang ia inginkan (berasal dari hatinya) dan ia butuhkan (untuk menikmati masa kecilnya) semakin besar. Saya juga tersenyum. Sharing Happiness.

Ternyata, untuk membuat seorang manusia tersenyum itu sederhana. Anda tidak harus membangun sistem yang canggih. Anda tidak harus membuat “jokes” yang unik. Anda tidak harus memperolok orang lain agar orang yang lainnya tertawa. Anda tidak harus berbohong dan memberikan informasi palsu hanya demi kesenangan orang lain.

Yang perlu Anda lakukan hanyalah tersenyum dan berikan apa yang sangat Ia inginkan dan juga Ia butuhkan.

Tantangannya adalah kebanyakan hanya anak kecil yang polos yang mau mengungkapkan apa yang benar-benar ia inginkan dan butuhkan. Semakin matang seseorang, semakin kesulitan ia mengidentifikasi apa yang sebenarnya ia inginkan dan butuhkan (Pengalaman membuat manusia banyak menimbang).

Salam,

Risvan Dirza

(karena senyuman adalah anugerah)

Retreat, Back to Real Corporate and Evaluate (“Mundur, Kembali ke Korporasi dan Evaluasi”)

December 25, 2012 2 comments

Kalau Anda melihat judul tulisan di atas, apa yang ada dipikiran Anda? Seorang pecundang? Seorang yang gagal? Yap, dugaan Anda benar. Saya memang gagal mengimplementasikan impian dan rencana saya di awal tahun lalu (yang berimpact pada kondisi saat ini). Dalam tulisan ini, saya tuliskan beberapa alasan dan analisa atas kegagalan tersebut.

Belum juga saya wisuda pada awal 2011, saya sudah aktif bekerja di salah satu MNC (Multi National Company) di bidang migas di Indonesia. Awalnya, saya berfikir saat itu adalah jalan yang baik. Hingga akhirnya, saya memutuskan untuk resign pada awal 2012. Adapun keputusan tersebut sudah saya pertimbangkan sejak pertengahan 2011 dengan menganalisa faktor internal (ketidakpuasaan) dan external (tawaran dan peluang lain) yang muncul hingga awal 2012.

Sejak pertengahan 2011, angin segar proyek-proyek properti sudah berhembus, begitu juga dengan sistem bagi hasil di sebuah perkebunan. Belum lagi niat untuk melanjutkan S2 dan tawaran menulis buku. Pada saat itu saya sudah merancang langkah-langkah strategis di tahun 2012.

Awal 2012, saya resign dari MNC Migas tersebut. Kemudian, masuk ke start up company dengan tawaran posisi yang lebih baik dan bayaran yang “sedikit” lebih baik. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan fleksibilitas waktu, mengasah insting bisnis dan menambah network. Flexibilitas waktu dan network diharapkan dapat membantuku untuk membangun mesin uang lain yang cukup signifikan, setidaknya sekitar bulan Oktober 2012. Bersamaan dengan itu, aku terus menerus mencari beasiswa untuk melanjutkan master di luar negeri yang tahun ajarannya dimulai pada  pertengahan tahun 2013. Sedangkan, target pernikahan adalah sebelum keberangkatan studi. Dengan kata lain, saya ingin menyiapkan stabilitas spiritual dan material sebelum melanjutkan studi di tahun 2013. Itulah cerita idealnya. Ibarat perusahaan, itulah misi yang harus saya lakukan di tahun 2012-2013.

Namun sekarang apa yang terjadi? Ternyata, misi itu gagal. Saya tidak menyebutnya tertunda, karena ketepatan waktu adalah tolak ukur kesuksesan sebuah misi. Sekali lagi saya tekankan saya gagal. Tetapi, bukan kegagalan yang harus disesali. Disini saya berbagi mengenai potensi-potensi di luar perhitungan yang membuat saya gagal dan mengakibatkan saya harus kembali merangkak.

  1. Internal reason yang di luar kontrol (kehendak Tuhan), sebuah perencanaan akan gagal total jika orang-orang terpercaya yang seharusnya mendukung Anda berbalik dan malah menjadi sesuatu yang “menjadi tanggung jawab” Anda dalam proses pencapaian misi. Ini berdampak pada perhitungan finansial yang hancur lebur yang saya secara pribadi gelagapan dalam menutupi dan memutar modal yang terbatas.
  2. Negosiasi dan komunikasi, beberapa tim projek untuk membangun mesin uang menjadi mandek karena kehilangan semangat mengingat tantangan nyata yang ternyata tidak sebatas teori di sebuah buku. Hal in terjadi pada sistem marketing projek properti, bisnis online dan pengadaan sodium sulphate dll.
  3. Skill, ada saatnya saya harus turun tangan sendiri dalam menjalankan mesin uang. Beberapa skill/keterampilan yang dibutuhkan untuk menjalankan mesin tersebut tidak saya kuasai secara penuh. Inilah yang menyebabkan saya menjadi terlalu bergantung ke orang lain. Hal ini terjadi pada kegagalan agreement dan pemeliharaan website.

Sekarang, apakah bentuk kegagalan yang real yang saya alami? Sekitar Agustus 2012, saya masuk sebagai finalis Panasonic Scholarship dan gagal meraih beasiswa. Sekitar Oktober 2012, saya menerima bahwa saya gagal membangun mesin uang baik itu export batik, pengembangan artikel ke negara lain, bisnis online ataupun projek properti. Keuangan hancur lebur karena banyak modal yang sudah terpakai. Sebenarnya, loss yang paling besar adalah waktu. Sehingga, dengan demikian, harapan saya untuk melanjutkan studi di 2013 pupus sudah.

Akan tetapi, kini saya bergabung dengan sebuah perusahaan migas nasional, PT. Pertamina Hulu Energy Offshore Northwest Java dengan potensi ikatan dinas 4 tahun. Mungkin pendapatan saya tidak sebesar dahulu (ini pendapatan terkecil semenjak saya bekerja), tapi setidaknya saya bersyukur bahwa saya diberikan kesempatan kedua untuk kembali membangun pondasi.

Lalu, langkah strategis apa yang harus saya lakukan? Tindakan antisipatif apa yang harus saya lakukan agar tidak terjadi kesalahan yang sama?

  1. Bekerjasama dengan Tuhan (Allooh SWT). Mungkin saya terlalu sombong dengan logika dan angka. Dan Dia adalah Yang Maha Berkehendak untuk memutarbalikkan estimasi, logika dan angka-ku.
  2. Belajar berbicara sesuai tempat, waktu dan kondisi.
  3. Mengembangkan kemampuan teknis detail yang dibutuhkan di dunia komersil
  4. Membangun pemahaman fundamental yang solid mengenai bagaimana membangun perusahaan.
  5. Menjadi halfboss/halfemployee.
  6. Be myself, melakukan sesuatu yang sesuai dengan prinsip kebenaran dan professionalisme. Saya tidak akan pernah mampu menyenangkan 10 dari 10 orang yang ada di sekitar saya.
  7. Lebih bersabar, jangan terburu-buru, analisa resiko yang lebih lean, dan sistem kontrol yang tepat terhadap partner-partner baru.

Melanjutkan studi? Saya rasa saya harus mengulur waktu lebih lama, setidaknya saya memikirkan itu setelah 4 tahun dari sekarang. Tetapi, yang pasti, saya akan tetap mengulik angka, rumus dan merekayasa formula dan persamaan dalam keseharian saya (baik tertulis ataupun tidak). Karena bentuk manfaat dari ilmu itu bukan gelar akademis.

Nikah? Yang pasti, secara resmi, tidak di 2013, mungkin 2014..

2012 memang tahun yang berat dan penuh dengan “kegagalan” dengan impact jangka panjang yang berselemak (kemana-mana).

Frustasi? Yes,

Minder? Yes,

Sedih? Yes,

Pesimis? Yes,

Marah? Yes,

Malu? Yes,

Tapi, itulah pengalaman saya.. dan saya memutuskan untuk bangkit dan merangkak kembali dengan cara yang mudah-mudahan lebih baik..

Salam perjuangan,

Risvan Dirza

Bon Taksi

February 10, 2012 3 comments

 Jakarta, 10 February 2012

Tengah malam

Sebuah perspektif dan lingkungan akan mengarahkan kita melihat sebuah pernyataan. Ketika banyak orang yang idealis, jujur, soleh dan “rajin menabung”, maka istilah idealis tetap menjadi kata yang terdengar baik. Sedangkan, ketika Anda berada di lingkungan yang sebaliknya yang penuh dengan “realistis” dan “adaptif”, maka kata naïf yang sering keluar. Sejujurnya, saya tidak terlalu paham makna naïf sebenarnya (selain keterkaitannya dengan grup band ibukota). Tetapi, terdengar mendekati kata “munafik” (coba Anda lafazkan munaif dan munafik secara bergantian, sepertinya mereka bersaudara ya?). Yah, intinya, terkesan jelek-lah.

Kenapa saya membahas istilah naïf dan idealis di awal? Karena tulisan ini akan membuat Anda men-judge saya dengan satu kata di antara dua kata tersebut. Tergantung dimana hati Anda kini berada.

Taxi berwarna hitam (yang entah kenapa diberi nama “silver”) bermerk Camry atau Mercy sering saya gunakan jasanya sebagai alat transportasi kosan-airport dan sebaliknya untuk penerbangan yang bertujuan untuk keperluan perusahaan tempat saya bekerja. Taxi ini memang berkesan high class dan memang memberikan service sesuai dengan ekspektasi dan harganya. Jika Anda duduk di kursi belakang, Anda akan merasakan betapa leluasanya kaki Anda terletak dan posisi jok mobil yang ergonomis membuat sebuah kenyaman tertentu di punggung Anda. Selain itu, suara mesin yang halus dan sirkulasi udara yang terencana akan membuat kesan yang berbeda, seakan-akan membuat Anda terhipnotis dan kembali ke haribaan pulau kapuk. Apalagi kalau Anda harus berangkat ke bandara sebelum Shubuh (Wajar!!!).

Jadi, buat para pihak yang meng-claim mampu merancang dan membuat mobil, Anda sebaiknya berfikir untuk membuat standard yang menunjukkan kualitas produk Anda. Kalau cuma sekedar membuat “mesin bubut” yang mampu menggerakkan 4 roda, sebaiknya Anda mempertimbangkan ulang claim Anda.

Kembali ke Taxi. Berhubung tujuan penggunaan Taxi ini untuk keperluan kantor, maka kantor berkewajiban mengembalikan uang yang saya keluarkan untuk biaya taxi ini. Buktinya apa? Tentu saja kuitansi atau sebut saja bon.

Saya berkali-kali bertransaksi dalam pembayaran ongkos taxi sejenis ini setahun belakangan ini. Tapi, ketika Saya hanya memulai percakapan:

“Pak, tolong bon-nya”.

Maka, jawaban sang sopir: “Ini pak bon-nya” (dengan nominal uang yang kosong setelah ditandatangani)

Saya tanya: “Kok kosong, Pak. Tolong isikan dulu nominalnya”

Sang Sopir: “Mau diisi berapa, Pak?”

Saya jawab: “Lah, itukan ada bilangannya di argo, jangan lupa tambahkan ongkos tol-nya ya, Pak. Oiya, tambahkan juga uang capek bapak udah jemput saya pagi buta gini. Nanti saya bayar segitu”

Sang Sopir: — melongok atau bengong

Dialog seperti itu berulang-ulang dengan gaya yang berbeda-beda apabila saya memulai dengan “Pak, tolong bon-nya”.

Sampai akhirnya, saya bosan dengan dialog seperti dan keluar pernyataan singkat yang selalu saya gunakan beberapa bulan belakangan ini.

“Pak, tolong bon-nya, gak pake korupsi, saya gak mau masuk neraka!” (sambil tertawa kecil)

Pernyataan ini ternyata memberikan beberapa jenis reaksi dari beberapa sopir taksi.

  1. Tertawa kecil dan senyum
  2. Berkata: “wah, ternyata, masih ada ya, pak”.. sambil tersenyum
  3. Diam dan jengkel. Mungkin merasa tidak dapat jatah ya? Hehe..

Akan tetapi, yang menggelitik rasa ingin tahu saya adalah jenis reaksi nomor 2; “wah, ternyata, masih ada ya, pak”.. Betapa adalah menjadi sebuah kebiasaan mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Sebenarnya, sudah ada beberapa instansi atau perusahaan yang membuat strategi baru untuk menutup kemungkinan “main” ini. Kalau tidak salah, namanya sejenis voucher. Pada dasarnya, si penumpang membawa sebuah voucher atau semacam kertas berkode dari perusahaan dari tempat ia bekerja. Nah, dengan kode tersebut, sang perusahaan taxi tinggal hanya perlu meng-invoice atau menagih nilai service yang taxi lakukan langsung pada perusahaan yang bersangkutan secara elektronis.

Solusi kedua adalah “Ingat mati, hidup hanya sementara”..

Salam

Risvan Dirza

(catatan kaki pengelana tanpa pendengar)

Jarak Bukanlah Batas

January 14, 2012 Leave a comment

Jakarta, 14 Januari 2012.

Tiga hari yang lalu, tanggal 11 Januari 2012, saya menerima e-mail dari Bang Iman, seorang teman yang menempuh pendidikan doctoral di TU Munich, Jerman, yang berbunyi:

“ok van, dah disubmit hari ini.
sekarang kita bisa lanjutkan dengan topik berikutnya ;)”.

Hal ini berarti bahwa jurnal internasional kami (atau jurnal pertama saya, alhamdulillah..) telah disubmit di IJIR (International Journal of Imaging and Robotics). IJIR ini merupakan sebuah media publikasi jurnal penelitian mengenai imaging dan robotics. Editorial Board-nya terdiri dari sejumlah peneliti atau akademisi yang berasal dari berbagai institusi pendidikan di seluruh dunia. Pada dasarnya, submisi yang kami lakukan adalah hasil dari undangan atas penelitian kami sebelumnya yang dipresentasikan pada konferensi ICA (Instrumentation, Control and Automation)  di Bandung pada November 2011. Alhamdulillah, paper kami termasuk satu dari sejumlah paper yang mendapat kesempatan memenuhi undangan tersebut.

Berbeda dari biasanya, saya sempat merasa tidak yakin mampu menyelesaikan jurnal tersebut bersama Bang Iman. Alasannya sederhana, karena saya juga merasa masih perlu banyak belajar di dunia kerja yang sekarang. Singkat kata, hal itu disebabkan manajemen waktu saya yang berantakan akibat hadirnya sejumlah aktifitas lain di luar pekerjaan rutin yang memakan banyak waktu juga.

Mengingat dalam jurnal tersebut turut juga berkontribusi professor saya sewaktu di TokyoTech, saya jadi tambah khawatir ke”kacau”an saya akan mengakibatkan gagalnya jurnal tersebut di-submit.

Akan tetapi, saya percaya komunikasi adalah sebuah anugerah yang harus dimaksimalkan. Dahulu, manusia menggunakan sejumlah sandi, mulai dari api, batu, ranting sampai dengan ritme suara sebagai alat komunikasi. Manusia juga disempurnakan dengan pita suara yang dapat digunakan untuk berbicara untuk kebaikan dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kini, alat komunikasi semakin canggih, jarak bukanlah batas. Handphone dan sejumlah aplikasi yang memanfaatkan jaringan internet seperti Facebook, YM, e-mail dan sebagainya mampu memaksimalkan fungsi komunikasi dan menyelesaikan masalah jarak. Bahkan, sudah menjadi rahasia umum bahwa komunikasi sudah lama menjadi dan membuahkan bisnis yang menjanjikan.

Terlepas diri hakikat komunikasi tersebut dan menyadari kelemahan saya dalam menyelesaikan jurnal kami, saya menginformasikan beberapa hari sebelum deadline bahwa saya khawatir tidak mampu menyelesaikannya. Hal ini mengarah pada perkiraan bahwa sharing informasi yang lebih dini akan memberikan kesempatan atau tenggat waktu untuk mengubah rencana sehingga alhamudillah jurnal kami-pun selesai dengan sejumlah perubahan minor. Perubahan minor dan komunikasi yang cukup dekat dengan deadline ini dilakukan dengan menggunakan YM dan e-mail. Betapa jarak bukanlah lagi sebuah batas dalam kehidupan manusia.

Sesuai dengan file yang di-submit, jurnal kami tersebut berjudul “Improved Distributed Coverage Control for Robotic Visual Sensor Network under Limited Energy Storage”. Penjelasan dari jurnal penelitian tersebut insyaAllooh akan dipublikasikan pada postingan yang berbeda. Sehingga, Alhamdulillah dengan demikian, saya mempunyai waktu lebih lagi untuk penelitian berikutnya. Fokus penelitian berikutnya sudah didiskusikan dan direncanakan untuk submission pada Maret dan April 2012 ini.

Mohon do’anya  dan insyaAllooh penelitian dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia di masa yang akan datang.

(*Catatan peneliti tanpa gelar dan tanpa institusi)

Regards,

Risvan D.

Categories: Thought

God, please let it be real as soon as possible

September 4, 2011 2 comments

Having a blessed life for 24 years (exactly : 16 August 2011), most likely encourage me to really consider what’s my long term plan for my life. Who will I be in the next 5 years, 10 years or 20 years?

Fact No. 1.

Understand that it’s a common knowledge most of people will be successful about after 40’s. Me, hell no, I need to break it, mid 30’s looks like a magic number for me.

Remembering my interview question with my current manager about 7 months ago,

 “What are you going to be the future?”

“I’ll be sitting next to you in the same level or higher as the representative my own group or company”, I answered.

“Thus, why should I hire you if you will quit later?,” He challenged.

“Because, I’ll be sitting next to you as your Partner to discuss and have an agreement for our next joint-project,” I answered fluently.

This conversation represents my goal for my mid 30’s.  Frankly to say, I do not work for a company or anyone. I do work for the sake of my “ego”. I do work because I want. Limiting or regulating my work is equal to reducing my motivation and obstructing potential.

Fact No.2.

I love travelling all over world and presenting what I know. Hopefully, later there will be kind of royalty from my innovation. Yes, travelling to give a presentation of either my innovation or research. In other words, being researcher seems also challenging and fun. The sooner I continue my postgrad study, the more the amount of time that I can utilize to develop either the innovation or the research.

Fact No. 3.

Regardless, my plan will be on the track or not, having the worst case back up plan is a mandatory since life is unpredictable. Thus, I need to ensure that my family and my life will be well-guaranteed when in fact, I’m just become a pathetic stupid unemployment in the end.

Conclusion:

I need to ensure while I’m leaving for postgrad abroad with scholarship to invent/research something, there’ll be some “gold” sources supplying my account at least equal to my current income, monthly.

*These sources will be my seed for my mid 30’s goal in parallel.

**Good motivation to live out of the routines and dependencies as well as breakthru’ the limit 🙂

God, please let it be real as soon as possible..

In the middle of a night of early September 2011, hoping my pray is accepted by my God.

Categories: Thought

Won’t Regret It

February 14, 2011 3 comments

“Won’t  regret it” merupakan sebuah frase yang dapat diartikan menjadi “gak kan nyesal!!”. Ya, kira-kira itulah arah dari tulisan ini. Sebenarnya, frase itu sudah dipendam sejak 2 minggu lalu. (2 minggu yang lalu saya menolak kesempatan “main” ke Tokyo secara GRATIS)  Tapi, karena email di bawah ini muncul 2 hari yang lalu.

Acceptance Letter

“Email di atas merupakan informasi bahwa paper yang kita kirimkan telah diterima pada sebuah konferensi. Sebenarnya informasi penerimaan ini dikirim 2 kali. Pertama, pernyataan penerimaan yang bersyarat, alias ada beberapa hal yang harus direvisi. Nah, screen shoot di atas adalah pernyataan penerimaan kedua dimana itu merupakan keputusan final bahwa paper tersebut memang telah memenuhi syarat untuk dipublikasikan.”

Yup, memang bukan hal yang mudah menembuskan paper ke konferensi sekelas IEEE dan itulah alasan saya memakai jimat “won’t regret it”. Berhubung hampir 100%, saya tidak akan ikut menghadiri konferensi tersebut. Bahasa positifnya adalah “tidak apa-apa, yang penting telah berkontribusi!”.

Arghh.. terlalu naïf.. Biar bagaimanapun, siapa sih yang tidak senang traveling, menjelajah dan melihat hal baru? (setidaknya, saya senang :D). Satu-satunya hal positif yang bisa mejadi jimat adalah “gak akan nyesal, Allooh pasti menyiapkan sesuatu yang lebih disesali kalau gak diambil di waktu yang akan datang” :D.

“Life is unpredictable. At least, I have one more reason to live; Curiosity”