Archive

Archive for the ‘Travelling & Places’ Category

Pencapaian Hingga 15 April 2016 dan Asa Berikutnya

April 15, 2016 Leave a comment

harapan

Malam ini, saya berbincang ringan dengan istri saya mengenai “novel kehidupan” bahwa “novel” ini ditulis oleh Sang Pencipta semenarik mungkin. Sederhana saja, pencapaian akan terasa memuaskan apabila ada proses yang berat, kecewa dan kegagalan. Itulah konsep klimaks-antiklimaks. Selain itu, saya juga masih berkeyakinan bahwa “trigger” kehidupan itu adalah “ASA”, bukan hanya detak jantung. Menurut saya, seorang manusia hidup tanpa ASA tidak jauh berbeda dengan zombie. Singkat cerita, saya berpendapat bahwa ASA itu perlu dijaga dalam menjalani “novel kehidupan”. Jadi, saya berusaha untuk menulis “ASA” dan pencapaian saya dalam blog ini untuk menjaga dan memonitor-nya dalam “novel kehidupan” saya secara periodik, entah itu mingguan, bulanan, 3 bulanan atau tahunan. Yang penting dimulai dulu saja.Karena berbagi itu indah.

Saya tidak spesifik mendefinisikan terhitung mulai kapan pencapaian di bawah saya tuliskan. Tapi, saya buat saja cut off pada tanggal 15 April 2016. Untuk ASA-nya, saya fikir akan saya bagi dalam ASA jangka pendek dan ASA jangka panjang

  1. Rumah Tangga

Saya berstatus sebagai suami sejak 4 April 2014. Kini, istri saya sudah mengandung mendekati 20 minggu. Diperkirakan saya akan menjadi “orang tua” pada awal September 2016.

ASA Jangka Pendek: Setidaknya setiap dua minggu sekali, istri saya dan saya akan “menjenguk” calon buah hati kami ke dokter kandungan.

ASA Jangka Panjang: Melihat dan mengadzankan/mengiqomatkan sang buah hati pada saat lahiran di Sept 2016 nanti.

  1. Asset dan Financial

Istri saya dan saya selalu melakukan proses pemantauan terhadap asset dan pertumbuhan asset kami secara berkala. Pertumbuhan nilai likuiditas financial setahun belakangan ini mencapai 300% dari nilai awal dengan tidak memperhitungkan asset tidak likuid. Alhamdulillah, Allah SWT melimpahkan rezekinya selama setahun belakangan ini. Kami tidak sepenuhnya berharap kepada gaji bulanan saya. Oleh karena itu, berbagai metode pengembangan kami coba untuk memperkokoh fondasi financial kami sebagai keluarga kecil. Salah satunya, Kami mencoba berternak Kambing dengan 3 ekor kambing sebagai modal awal.

ASA Jangka Pendek: Setidaknya ada yang ditabung setiap bulan. Memonitor perkembangan usaha ternak kambing.

ASA Jangka Panjang: Mencari partner finansial untuk bersama-sama menjalankan proyek perumahan alexandria yang terus menerus mangkrak.

  1. Pekerjaan

Selama tahun 2015, pencapaian pekerjaan tergolong memuaskan karena semua target tercapai. Proyek-proyek selesai lebih cepat dan secara budget tim proyek saving lebih banyak. Proyek-proyek tersebut adalah Zulu Reactivation Project dan ORF Muara Karang E&I Reliability Improvement Project. Q1 2016, saya dipindahkan di SP New Field Development Project. Menurut saya, proyek ini berada di fase-fase yang menantang dengan banyaknya faktor-faktor yang di luar kontrol dan ketidakpastian yang tinggi. Semoga saja setiap “novel kehidupan” berujung indah.

ASA Jangka Pendek: Melakukan visit ke lapangan untuk memverifikasi ulang ruang lingkup kerja instrumentasi dan memastikan pertemuan pra-bidding untuk satu tender dilakukan minggu depan.

ASA Jangka Panjang: Membantu tim agar penunjukkan pemenang-pemenang tender dapat dilakukan tahun ini dan memberikan kontribusi sesuai dengan ruang lingkup kerja seharusnya.

  1. Pengembangan Professional

Pada akhir Desember 2015, saya sudah mengikuti training persiapan untuk mengambil sertifikasi PMP (Project Management Profesional). Akan tetapi, dikarenakan kondisi proses pembayaran yang agak tersendat, maka saya tidak dapat mengikuti kelas intensif di awal 2016.

ASA Jangka Pendek: Menguasai 1 BAB per minggu dan mencoba 10 soal per minggu.

ASA Jangka Panjang: Certified PMP di tahun 2016

  1. Sekolah Master dan Beasiswa

Ini merupakan salah satu bukti nyata teori ASA dan novel kehidupan. Setelah berjibaku dari tahun 2012 dengan segala keterbatasan yang ada, ada proses kehilangan harapan, kehilangan kepercayaan diri, keinginan untuk mundur, penentuan dan kalah prioritas, kegagalan dan sebagainya. Akhirnya, alhamdulillah, saya ditetapkan sebawa awardee LPDP Batch I 2016. Beasiswa (full) ini memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada saya untuk melanjutkan studi master full time. Saat ini saya sudah mengantongi tawaran untuk melanjutkan study di  Eindhoven University of Technology-TU/e (Systems and Control) dan University of Aberdeen (Oil&Gas Engineering dan Petroleum Engineering). Untuk di TU/e, saya sudah menginformasikan bahwa saya akan melanjutkan studi di tahun depan. Dengan diberikan kesempatan beasiswa ini, saya juga berniat berusaha untuk membuka peluang kesempatan studi di tempat-tempat yang lebih menantang seperti ETH Zurich, Stanford University atau mungkin MIT. Ah, biarkanlah ASA ini melayang terlebih dahulu. Semoga Allah SWT memudahkan jalan, membuka hati dan memberi hidayah bagi orang-orang untuk memuluskan jalan saya. Oiya, jangan ditanya untuk menyebutkan aplikasi yang ditolak, banyak dan mungkin akan bertambah..

ASA Jangka Pendek: Meningkatkan IELTS dan belajar GRE.

ASA Jangka Panjang: Memformalkan surat penerimaan tanpa syarat dari TU/e pada Oktober 2016 dan melayangkan ASA untuk mencoba ETH Zurich, Stanford University atau mungkin MIT.

  1. Habblumminallah (Hubungan dengan Allah SWT)

Saya sangat menyadari bahwa saya bukanlah manusia yang selalu dekat dengan Allah SWT. Sejauh ini, yang saya tahu bahwa saya tidak melakukan perbuatan yang dilarangNya. Akan tetapi, banyak perintahNya yang belum saya turuti. Sholat masih belum sempurna. Puasa senin-kemis sempat dilakukan tetapi kemudian terhenti. Walaupun demikian, alhamdulillah dengan bantuan istri, infaq dan sedekah mingguan kepada anak-anak masih relatif konsisten hingga saat ini.

ASA Jangka Pendek: Perbaiki sholat, puasa dan perbanyak membaca Al-qur’an

ASA Jangka Panjang: Menghafal Al-qur’nan.

  1. Travelling Ke 3 Negara

Rencana ini hasilnya 0%.

Pertama, istri dan saya sudah memesan tiket dan penginapan untuk mengunjungi Australia bulan April 2016. Alhamdulillah, istri mengandung, rencana kunjungan wisata ke Australia kami batalkan.

Kedua, saya menulis paper untuk mengikuti konferensi ke Trinidad dan Tobago. Alhamdulillah, gagal. Satu pelajaran yang saya tangkap adalah jangan menulis paper dengan data terbatas dalam satu minggu. Sudah jelas papernya tidak akan berkualitas dan maksa

Ketiga, istri dan saya berencana untuk berangkat ke Belanda pada Q3 akhir 2016. Alhamdulillah, istri mengandung dan jadwal ke Belanda bertepatan dengan estimasi istri melahirkan.

ASA Jangka Pendek: Belum ada. Mempelajari cara mempersiapkan visa ke Belanda

ASA Jangka Panjang: Mengunjungi Belanda pada 2017 bersama Istri dan Anak.

“Hiduplah dengan harapan, tapi jangan berharap hidup jika tanpa harapan”

Risvan Dirza,

Jakarta, 15 April 2016, 02.42.

Categories: Jakarta, Thought Tags: , ,

Smile!! (Senyuman)

January 27, 2013 Leave a comment

Kecemasan saya bahwa saya akan menghadap ketidakkompetenan professional dalam sebuah organisasi pemerintahan terjadi. Saya mulai mencatat dan melist kebobrokan sistem manajemen dan kontrol dalam sebuah badan usaha milik negara induk tempat kini saya berkarya. Apalagi begitu banyak hasil kegagalan tersebut yang berdampak langsung ke saya dengan kondisi dimana saya tidak bisa berbuat apa-apa karena keterbatasan lingkungan otoritas.

Rasanya ingin cepat mengubah sistem yang bobrok ini dengan mensapu bersih dedengkot-dedengkot konservatif yang masih merasa telah berhasil membangun sebuah sistem yang efisien. Saya masih belum paham tolak ukur keberhasilan mereka. Apakah hanya angka dan grafik indah tak bermakna  (data palsu) atau memang mereka gagal menurunkan sebuah tolak ukur keberhasilan dengan benar. Tidakkah mereka pernah membandingkan diri dengan perusahaan swasta nasional atau asing yang tumbuh berkembang secara progressive?. Berapa banyak manusia yang harusnya tersenyum menjadi bersedih karena ketidakkompetenan ini?

Hari ini, kedongkolan itu sedikit berkurang. Setidaknya, saya membuat seorang anak jalanan tersenyum hari ini. Saya hanya memberikan dua (2) voucher puzzle Doraemon yang tersisa sehingga peluang anak itu untuk mendapatkan puzzle Doraemon yang ia inginkan (berasal dari hatinya) dan ia butuhkan (untuk menikmati masa kecilnya) semakin besar. Saya juga tersenyum. Sharing Happiness.

Ternyata, untuk membuat seorang manusia tersenyum itu sederhana. Anda tidak harus membangun sistem yang canggih. Anda tidak harus membuat “jokes” yang unik. Anda tidak harus memperolok orang lain agar orang yang lainnya tertawa. Anda tidak harus berbohong dan memberikan informasi palsu hanya demi kesenangan orang lain.

Yang perlu Anda lakukan hanyalah tersenyum dan berikan apa yang sangat Ia inginkan dan juga Ia butuhkan.

Tantangannya adalah kebanyakan hanya anak kecil yang polos yang mau mengungkapkan apa yang benar-benar ia inginkan dan butuhkan. Semakin matang seseorang, semakin kesulitan ia mengidentifikasi apa yang sebenarnya ia inginkan dan butuhkan (Pengalaman membuat manusia banyak menimbang).

Salam,

Risvan Dirza

(karena senyuman adalah anugerah)

Retreat, Back to Real Corporate and Evaluate (“Mundur, Kembali ke Korporasi dan Evaluasi”)

December 25, 2012 2 comments

Kalau Anda melihat judul tulisan di atas, apa yang ada dipikiran Anda? Seorang pecundang? Seorang yang gagal? Yap, dugaan Anda benar. Saya memang gagal mengimplementasikan impian dan rencana saya di awal tahun lalu (yang berimpact pada kondisi saat ini). Dalam tulisan ini, saya tuliskan beberapa alasan dan analisa atas kegagalan tersebut.

Belum juga saya wisuda pada awal 2011, saya sudah aktif bekerja di salah satu MNC (Multi National Company) di bidang migas di Indonesia. Awalnya, saya berfikir saat itu adalah jalan yang baik. Hingga akhirnya, saya memutuskan untuk resign pada awal 2012. Adapun keputusan tersebut sudah saya pertimbangkan sejak pertengahan 2011 dengan menganalisa faktor internal (ketidakpuasaan) dan external (tawaran dan peluang lain) yang muncul hingga awal 2012.

Sejak pertengahan 2011, angin segar proyek-proyek properti sudah berhembus, begitu juga dengan sistem bagi hasil di sebuah perkebunan. Belum lagi niat untuk melanjutkan S2 dan tawaran menulis buku. Pada saat itu saya sudah merancang langkah-langkah strategis di tahun 2012.

Awal 2012, saya resign dari MNC Migas tersebut. Kemudian, masuk ke start up company dengan tawaran posisi yang lebih baik dan bayaran yang “sedikit” lebih baik. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan fleksibilitas waktu, mengasah insting bisnis dan menambah network. Flexibilitas waktu dan network diharapkan dapat membantuku untuk membangun mesin uang lain yang cukup signifikan, setidaknya sekitar bulan Oktober 2012. Bersamaan dengan itu, aku terus menerus mencari beasiswa untuk melanjutkan master di luar negeri yang tahun ajarannya dimulai pada  pertengahan tahun 2013. Sedangkan, target pernikahan adalah sebelum keberangkatan studi. Dengan kata lain, saya ingin menyiapkan stabilitas spiritual dan material sebelum melanjutkan studi di tahun 2013. Itulah cerita idealnya. Ibarat perusahaan, itulah misi yang harus saya lakukan di tahun 2012-2013.

Namun sekarang apa yang terjadi? Ternyata, misi itu gagal. Saya tidak menyebutnya tertunda, karena ketepatan waktu adalah tolak ukur kesuksesan sebuah misi. Sekali lagi saya tekankan saya gagal. Tetapi, bukan kegagalan yang harus disesali. Disini saya berbagi mengenai potensi-potensi di luar perhitungan yang membuat saya gagal dan mengakibatkan saya harus kembali merangkak.

  1. Internal reason yang di luar kontrol (kehendak Tuhan), sebuah perencanaan akan gagal total jika orang-orang terpercaya yang seharusnya mendukung Anda berbalik dan malah menjadi sesuatu yang “menjadi tanggung jawab” Anda dalam proses pencapaian misi. Ini berdampak pada perhitungan finansial yang hancur lebur yang saya secara pribadi gelagapan dalam menutupi dan memutar modal yang terbatas.
  2. Negosiasi dan komunikasi, beberapa tim projek untuk membangun mesin uang menjadi mandek karena kehilangan semangat mengingat tantangan nyata yang ternyata tidak sebatas teori di sebuah buku. Hal in terjadi pada sistem marketing projek properti, bisnis online dan pengadaan sodium sulphate dll.
  3. Skill, ada saatnya saya harus turun tangan sendiri dalam menjalankan mesin uang. Beberapa skill/keterampilan yang dibutuhkan untuk menjalankan mesin tersebut tidak saya kuasai secara penuh. Inilah yang menyebabkan saya menjadi terlalu bergantung ke orang lain. Hal ini terjadi pada kegagalan agreement dan pemeliharaan website.

Sekarang, apakah bentuk kegagalan yang real yang saya alami? Sekitar Agustus 2012, saya masuk sebagai finalis Panasonic Scholarship dan gagal meraih beasiswa. Sekitar Oktober 2012, saya menerima bahwa saya gagal membangun mesin uang baik itu export batik, pengembangan artikel ke negara lain, bisnis online ataupun projek properti. Keuangan hancur lebur karena banyak modal yang sudah terpakai. Sebenarnya, loss yang paling besar adalah waktu. Sehingga, dengan demikian, harapan saya untuk melanjutkan studi di 2013 pupus sudah.

Akan tetapi, kini saya bergabung dengan sebuah perusahaan migas nasional, PT. Pertamina Hulu Energy Offshore Northwest Java dengan potensi ikatan dinas 4 tahun. Mungkin pendapatan saya tidak sebesar dahulu (ini pendapatan terkecil semenjak saya bekerja), tapi setidaknya saya bersyukur bahwa saya diberikan kesempatan kedua untuk kembali membangun pondasi.

Lalu, langkah strategis apa yang harus saya lakukan? Tindakan antisipatif apa yang harus saya lakukan agar tidak terjadi kesalahan yang sama?

  1. Bekerjasama dengan Tuhan (Allooh SWT). Mungkin saya terlalu sombong dengan logika dan angka. Dan Dia adalah Yang Maha Berkehendak untuk memutarbalikkan estimasi, logika dan angka-ku.
  2. Belajar berbicara sesuai tempat, waktu dan kondisi.
  3. Mengembangkan kemampuan teknis detail yang dibutuhkan di dunia komersil
  4. Membangun pemahaman fundamental yang solid mengenai bagaimana membangun perusahaan.
  5. Menjadi halfboss/halfemployee.
  6. Be myself, melakukan sesuatu yang sesuai dengan prinsip kebenaran dan professionalisme. Saya tidak akan pernah mampu menyenangkan 10 dari 10 orang yang ada di sekitar saya.
  7. Lebih bersabar, jangan terburu-buru, analisa resiko yang lebih lean, dan sistem kontrol yang tepat terhadap partner-partner baru.

Melanjutkan studi? Saya rasa saya harus mengulur waktu lebih lama, setidaknya saya memikirkan itu setelah 4 tahun dari sekarang. Tetapi, yang pasti, saya akan tetap mengulik angka, rumus dan merekayasa formula dan persamaan dalam keseharian saya (baik tertulis ataupun tidak). Karena bentuk manfaat dari ilmu itu bukan gelar akademis.

Nikah? Yang pasti, secara resmi, tidak di 2013, mungkin 2014..

2012 memang tahun yang berat dan penuh dengan “kegagalan” dengan impact jangka panjang yang berselemak (kemana-mana).

Frustasi? Yes,

Minder? Yes,

Sedih? Yes,

Pesimis? Yes,

Marah? Yes,

Malu? Yes,

Tapi, itulah pengalaman saya.. dan saya memutuskan untuk bangkit dan merangkak kembali dengan cara yang mudah-mudahan lebih baik..

Salam perjuangan,

Risvan Dirza

Bon Taksi

February 10, 2012 3 comments

 Jakarta, 10 February 2012

Tengah malam

Sebuah perspektif dan lingkungan akan mengarahkan kita melihat sebuah pernyataan. Ketika banyak orang yang idealis, jujur, soleh dan “rajin menabung”, maka istilah idealis tetap menjadi kata yang terdengar baik. Sedangkan, ketika Anda berada di lingkungan yang sebaliknya yang penuh dengan “realistis” dan “adaptif”, maka kata naïf yang sering keluar. Sejujurnya, saya tidak terlalu paham makna naïf sebenarnya (selain keterkaitannya dengan grup band ibukota). Tetapi, terdengar mendekati kata “munafik” (coba Anda lafazkan munaif dan munafik secara bergantian, sepertinya mereka bersaudara ya?). Yah, intinya, terkesan jelek-lah.

Kenapa saya membahas istilah naïf dan idealis di awal? Karena tulisan ini akan membuat Anda men-judge saya dengan satu kata di antara dua kata tersebut. Tergantung dimana hati Anda kini berada.

Taxi berwarna hitam (yang entah kenapa diberi nama “silver”) bermerk Camry atau Mercy sering saya gunakan jasanya sebagai alat transportasi kosan-airport dan sebaliknya untuk penerbangan yang bertujuan untuk keperluan perusahaan tempat saya bekerja. Taxi ini memang berkesan high class dan memang memberikan service sesuai dengan ekspektasi dan harganya. Jika Anda duduk di kursi belakang, Anda akan merasakan betapa leluasanya kaki Anda terletak dan posisi jok mobil yang ergonomis membuat sebuah kenyaman tertentu di punggung Anda. Selain itu, suara mesin yang halus dan sirkulasi udara yang terencana akan membuat kesan yang berbeda, seakan-akan membuat Anda terhipnotis dan kembali ke haribaan pulau kapuk. Apalagi kalau Anda harus berangkat ke bandara sebelum Shubuh (Wajar!!!).

Jadi, buat para pihak yang meng-claim mampu merancang dan membuat mobil, Anda sebaiknya berfikir untuk membuat standard yang menunjukkan kualitas produk Anda. Kalau cuma sekedar membuat “mesin bubut” yang mampu menggerakkan 4 roda, sebaiknya Anda mempertimbangkan ulang claim Anda.

Kembali ke Taxi. Berhubung tujuan penggunaan Taxi ini untuk keperluan kantor, maka kantor berkewajiban mengembalikan uang yang saya keluarkan untuk biaya taxi ini. Buktinya apa? Tentu saja kuitansi atau sebut saja bon.

Saya berkali-kali bertransaksi dalam pembayaran ongkos taxi sejenis ini setahun belakangan ini. Tapi, ketika Saya hanya memulai percakapan:

“Pak, tolong bon-nya”.

Maka, jawaban sang sopir: “Ini pak bon-nya” (dengan nominal uang yang kosong setelah ditandatangani)

Saya tanya: “Kok kosong, Pak. Tolong isikan dulu nominalnya”

Sang Sopir: “Mau diisi berapa, Pak?”

Saya jawab: “Lah, itukan ada bilangannya di argo, jangan lupa tambahkan ongkos tol-nya ya, Pak. Oiya, tambahkan juga uang capek bapak udah jemput saya pagi buta gini. Nanti saya bayar segitu”

Sang Sopir: — melongok atau bengong

Dialog seperti itu berulang-ulang dengan gaya yang berbeda-beda apabila saya memulai dengan “Pak, tolong bon-nya”.

Sampai akhirnya, saya bosan dengan dialog seperti dan keluar pernyataan singkat yang selalu saya gunakan beberapa bulan belakangan ini.

“Pak, tolong bon-nya, gak pake korupsi, saya gak mau masuk neraka!” (sambil tertawa kecil)

Pernyataan ini ternyata memberikan beberapa jenis reaksi dari beberapa sopir taksi.

  1. Tertawa kecil dan senyum
  2. Berkata: “wah, ternyata, masih ada ya, pak”.. sambil tersenyum
  3. Diam dan jengkel. Mungkin merasa tidak dapat jatah ya? Hehe..

Akan tetapi, yang menggelitik rasa ingin tahu saya adalah jenis reaksi nomor 2; “wah, ternyata, masih ada ya, pak”.. Betapa adalah menjadi sebuah kebiasaan mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Sebenarnya, sudah ada beberapa instansi atau perusahaan yang membuat strategi baru untuk menutup kemungkinan “main” ini. Kalau tidak salah, namanya sejenis voucher. Pada dasarnya, si penumpang membawa sebuah voucher atau semacam kertas berkode dari perusahaan dari tempat ia bekerja. Nah, dengan kode tersebut, sang perusahaan taxi tinggal hanya perlu meng-invoice atau menagih nilai service yang taxi lakukan langsung pada perusahaan yang bersangkutan secara elektronis.

Solusi kedua adalah “Ingat mati, hidup hanya sementara”..

Salam

Risvan Dirza

(catatan kaki pengelana tanpa pendengar)

It’s About Conquering (Mt. Fuji has been conquered, You may pick another mountain!!)

April 23, 2011 4 comments

It was August 12th, we arrived in 5th Station of Mount Fuji. That afternoon was pretty dark. It was hard windy and news told that it was Typhoon passing by Mount Fuji. We thought that it will be suicide climbing Mt. Fuji that day. However, we’re still laughing, joking each other and finding opportunities or perhaps, reasons to climb this thing up. We were Alvin, William and Me; Two smart master and doctoral Filipino students and a lucky Indonesian student.

We were at Station 5

We were at 5th Station

We were thinking and I ended up with a reason to start climbing 30 minutes after the typhoon. It was so simple. It must be the clearest sky ever up there after the typhoon. That typhoon just took everything. For sure, the sky would be very bright and clear. Thus, we decided to climb up bravely. FYI, No one of us has experience climbing this Mt. Fuji. We were taking that “risk” and having “fun”. That’s the reason why my name is Ris-van :D.

We started climbing at 4 pm. It was still windy and a bit rainy. But, we required to adjust the time so that we can arrive on the top before the sunrise. And then, it was Ramadhan and I was fasting at that time. I had to ensure that we arrive in a good station just before the twilight to open my fast.

The Map

The Map

So, we started walking through a pretty flat path at the first time. Slowly but sure, it started inclining. Your feet were getting tired to step up. But, we’re just walking, talking, laughing, taking photo and joking of course.

And then, we arrived at 6th Station. It wasn’t that far from 5th Station. We thought that it’s not gonna be that hard. But, I was shaking. It was so cold. I was ignoring that feeling. I just need to move faster so that my body would be getting warmer due to the combustion of my calories.

From 6th station, we saw 7th station up there. I think it was twice further than achieving 6th station. And it was high. I mean it looks like 60 degrees inclining to reach that station. I was afraid. I felt the feeling of stepping down the stairs in Eiffel Tower 5 years ago. I was afraid of height. I was fasting and didn’t have enough energy. But, those couldn’t be enough reasons to get back.  Then, I decided to continue the journey. Fortunately, Alvin and William were very supportive. Thanks guys.

Thanks Guys..

Thanks Guys..

It was totally like a hell. I was suffering. My legs were totally shaking and weak. I got one stick to help me out of this fear. I was afraid of looking the view behind. But, I was peeking sometime. Well, I don’t wanna miss that beautiful view thou.. What the worst is, my assumption was wrong. I thought that moving faster or motion would warm my body up and stop the shaking. It didn’t work at all. The further I was walking, the wetter my clothes. My sweat didn’t evaporate. It was trapped in my clothes. Why? Because I wore full-body poncho (anti-rain). It avoids water both from outside and inside. I was totally wet and shaking. In addition, the temperature is getting lower. Thus, I took off the poncho and changed my t-shirt. Well, I had no jeans anymore. So, that sticky jeans was still with me anyway. Dam*.. I couldn’t enjoy that feeling.

It was so scary

Land above the clouds

Land above the clouds

Finally, we arrived in 7th Station. It was twilight. It means I could eat and drink after fasting during the day. FYI, it was summer, day is longer than usual. The twilight came after 2.5 hours turtle-ly walking. Another challenge had been accomplished. But, the 8th station is waiting up there.

Smile over the fear

Smile over the fear

The Twilight Is Coming

The Twilight Is Coming

The path is rocky now. And there is no wide stairs look-alike like we had in the path to 7th station. Moreover, it was quite harder windy than before. To be honest, I was still afraid of height. Those windy noise fears me more. It sounds like it wants to disturb my body balance that probably may push me down, lost my balance and falling all the way down there from 2500 m of height.  Dam*, I hate that feeling. Then, I plug my ears with earphone and play music from my cell phone. It was helping, kind of magic. 😀

Before achieving 9th station, we needed to be at 8.5th station first. If you look at the map, this 8.5th station is located pretty close to the 8th station. My first thought is they were wasting money. But, they weren’t.

At the time, the situation was getting worse. The path was not like a path anymore and getting narrow. It was more and more inclining. Probably, it was around 65-75 degree. Moreover, it was nightfall. There was no sunlight anymore. The only light we had was flashlight. I had my flashlight attached on my forehead. It was helpful so that my two hands were free to grab anything in order to help my body balance. Anything refers to only the rocks. I was still shaking thou.. Yeah, they had reasons why they put 8.5th station there.

It is night

Night view from Mt. Fuji

I can’t remember, I think we took a nap for while at that station. After that station, I couldn’t notice any stations anymore. We stopped a lot. I mean I asked to stop a lot. The only thing in my mind was I need to reach the top as soon as possible before I lost my breath and before my fear imagination of falling down from 3250 m of height is happening. Slowly, my breath frequency is getting slower. We saw a shooting star up there. It wasn’t once or twice. But, it happened repeatedly. Yes, it had been predicted that the night of August 13th,2010, we’d have chances to watch many shooting stars from Asia. We were so lucky. I wish the magic story of shooting star is true. But, whatever, I wish I could be on the top of Mt. Fuji safely and get back safely. The other wishes would be a secret for sure. :D. Well, at least the first wish is happening.  :D.

Taking Nap

Taking Nap

It took around 8 hours to be on the top of Mt. Fuji. We arrived just before the dawn. Lucky us, it was beautiful sunrise occurs. The sun was rising up from the clouds. The sky upper the cloud was really clear. I felt like living on the land above the clouds. So high, and you can see the world unfold and after that you’ll realize that you’re nothing, not even better and more useful than a dust. You might be worse than other organisms which always try to keep the world rotating continuously. But, human? You judge by yourselves.

Well, below is our documentation video of climbing this Mt. Fuji.

However, we were icy. It was around -5 degree C up there. And you can warm your hand up with a can of coffee for not more than 5 minutes. It cost 400 yen. Yeah, when the demand is higher than the offer, the price will be increasing sharply. :D.

After documenting a lot of picture and “stuff” of our present up there, we walk down Mt. Fuji at 7 a.m. through different path. This mount has the different path to climb up and walk down. You know what we did? We’re running like child through that path. I wasn’t afraid anymore, dude. And it took around 3 hours of going down Mt. Fuji by running. :D.

It was remarkable. At least, for me. I didn’t only just conquer Mt. Fuji but also my fear of height. You know what challenge is?

“It is about the thing that you do not want to feel

and you do not know how solve the fear;

that come to you at that time, but you’re really want to felt that moment again after finishing that thing.”

Ivan The Conqueror :D

Ivan The Conqueror 😀

Well, if you experience the same thing for the second time, it isn’t gonna be challenging anymore. :D.

Alright, let’s see another challenging opportunity for this year. :D.

Categories: Japan, Travelling & Places

Nippon Steel-Kimitsu Works

August 19, 2010 2 comments

By surfing on the internet, I could find top 10 biggest steel companies in the world. The biggest one is ArcelorMittal. Nippon Steel is one of those top 10 and it is said that this company also the biggest steel company in Japan. At that time, we had an opportunity to visit this company, in Kimitsu Works, Chiba exactly. We passed through Tokyo Bay Channel at that time.

Kimitsu works was built to serve the Kanto area-Japan’s largest steel consuming region. It ranks at the top in product quality, production, equipments and production volume. It is divided into four production areas; Iron making, Steel Making, Hot-Rolling and Cold Rolling area.

As usual, we were welcome by company in the big hall of main building and introduced on brief information about Nippon Steel-Kimitsu Works. Any directions were explained at that time. We also need to wore some typical industrial uniform to avoid any possibilities of accident.

First, we visited blast furnace in Iron making area. As raw materials, sintered ore and coke are mixed inside blast furnace. In this process, sintered ore and coke are sequentially charged from the top while hot air is blown-in from the bottom about 1200 degree Celsius. The temperature inside is increasing to more than 2000 degree Celsius. So, a chemical reaction separates the iron from the sintered iron.

From the blast furnace, a pig iron is produced. After that, the impurities and carbon are removed in steelmaking process until the carbon content below 1.7%. This process shall soft the steel. Then, this solidified steel can be reshaped into specific shape; billet, bloom and slab.

The second visiting area was Hot-rolled area. In this area, a slab are continuously rolled to produce steel sheets with thickness ranging from 1.2 mm to 25.4mm. After this process, the sheets will follow the next process in Cold-rolled area. Not only sheets, this company also produces other shape of products such as wide-flange beam and sheet pile, plate, UO pipes and tubes, wire rod, electro-galvanized sheets etc.

Moreover, we also visited plastic recycling equipment. In this area, plastic wastes and waste tires are being proceeds to produce a raw material for steel making. In addition, this company has achieved recycling rate approximately 98% of its process. Coke oven gases are byproduct in iron-and steel making process and they are effectively utilized as fuel for reheating steel product and as a source of energy. Further, more than 90% water is circulated for reuse in many processes. Byproducts such as slug, dust and sludge are not only re-used as materials for in-company use but are also reutilized for the society.

This company’s products are very useful for human life. For example, a high strength, lightweight steel wires are needed to support long-span bridges, steel frame buildings, railways, pipeline, shipbuilding, automobiles etc. The more human population number, the more development will be. It means the more steels support are needed. Based on statistic, Nippon steel may achieve those needs. It is said that the production is increasing almost every year. Beside that, the company’s efficiency is also increasing averagely. It said that the number of employees is currently less than half of its number in 1977. This company is successfully implementing the high technology in their working system.

Steels are highly in demand for human being development. The processes of making them are also very risky for human. Implementing computer control system in those processes may reduce any risky and also definitely increase the products number and accuracy.

Risvan Dirza

09R12111

Pertanyaan Klise : “Selesai S1 ngapain??”

July 23, 2010 5 comments

Selasa siang minggu ini, aku beranikan diri untuk menghadap Prof. Fujita secara langsung. Sebelum-sebelumnya saya cenderung enggan untuk menghadap sang sensei. Alasannya sederhana, “saya mau ngebahas apa?”. Mau nanya tentang topic riset, dari awal sang sensei sudah meminta saya untuk lebih banyak berinteraksi dengan Assitant Professor atau Tutor. Maka, lebih banyaklah saya berinteraksi dengan mereka. Jujur, saya agak kewalahan berinteraksi dengan mereka. Klise, masalah bahasa!. Yang pada akhirnya, lebih banyak terjadi “kesalahpahaman”. Untuk mengurangi kondisi itu, aku lebih banyak bekerja sendiri dan mengumpulkan laporan saja ke assistant professor. Walaupun pada akhirnya, ternyata, nggak dibaca. Kecewa sih iya.. Tapi, bagi saya itu tidak merugikan, toch yang belajar kan saya ;).

Setelah timbul tenggelam berjuang “sendirian”, walaupun kadang-kadang ada yang diperjuangkan tidak dipakai, karena tiba-tiba Assistant Professor berubah pendirian (atau mungkin karena salah paham sebelumnya). Lagi-lagi, tidak apa apa, ini hanya masalah proses. Dan setiap proses yang saya lewati bagi saya tidak sia-sia, pasti ada hikmah di dalamnya. Paling nggak, nambah wawasan. :).

Yup, setelah hampir kelelep, akhirnya, report dan paper saya selesai juga. Jangankan orang hebat di bidang control, saya yang masih cupu saja sadar, kalau report research saya tidaklah hebat-hebat amat. Biasa saja, dan banyak sekali yang harus diperbaiki. Bahkan, mungkin validitasnya diragukan. Entah mengapa saya tidak kecewa, dan tidak pula berbangga. Tapi, saya terima semua kesalahan dan kekurangan yang saya perbuat selama proses penulisannya. Dan tentu saja, untuk bahan pengingat untuk kegiatan serupa berikutnya.

Dengan keadaan legowo dan siap terima segala konsekuensinya, akhirnya aku menghadap Prof. Fujita. Kenapa saya berani menghadap? Karena, hari itu laporan riset saya sudah dibaca oleh Prof. Fujita dan menurut pendapatnya tidak perlu ada yang direvisi. Sebelumnya, saya juga sudah mengumpulkan laporan riset itu ke Assistant Professor, tapi tidak juga kunjung memberikan feedback. Mungkin dia terlalu sibuk (atau entahlah).

Seperti yang selalu diajarkan papa, “give, give, give, give, give…. and take”, artinya kalau udah bener-bener mepet baru minta bantuan. Selama masih bisa memberi, maka memberilah. Dan, pada hari selasa itu aku benar-benar mepet karena masih “bias” mengenai masa depanku selesai S1 nanti. Padahal jalannya sudah harus dirancang sejak dini.

Nah, berhubung saya sudah “give” report saya. Maka, saya pikir, saya sudah punya alasan dan tidak melanggar prinsip yang ditanamkan ke saya.

Pembicaraan siang ini diawali dengan pertanyaan sederhana,

“Sensei, saya minta saran Anda mengenai pendidikan ke depan saya, boleh?”

Sensei pun dengan tenangnya mempersilahkan saya untuk duduk berdiskusi lebih detail.

Awalnya, sensei merekomendasikan saya untuk melanjutkan studi ke US atau Eropa. Karena, ada alumni Fujita laboratory dari Indonesia yang melanjutkan studi di sana

Selain itu, menurut pandangannya, U.S merupakan tempat yang tepat untuk berkompetisi bagi orang-orang dari berbagai negara seperti yang dilakukan warga RRC dan India yang survive di sana. Pertimbangan lainnya adalah karena saya pernah punya pengalaman di Eropa 1 tahun, lalu sekarang 1 tahun di Jepang, maka berikutnya adalah memperluas wawasan dan jaringan internasional di belahan dunia lain yaitu U.S. Sensei berpendapat bahwa kerja sama international antar bangsa sangat penting juga di dunia akademisi (misalnya dalam kolaborasi menulis paper kelas wahid yang langsung ditunjukkannya di situs CDC).

Jujur, saya tidak menyangka beliau malah menyarankan demikian. Padahal, saya sadar dan merasa saya bahkan mungkin tidak mampu mencapai posisi pada level itu. Sekarang saja saya kewalahan setengah mati, terlepas dari kondisi “negative-nya”. Pernah terpikir, kalau dunia research bukanlah hal yang cocok bagi saya.

Setelah panjang berbincang, akhirnya tibalah pembahasan kerja sama antar negara Asia. Mungkin, kita semua sadar bahwa poros kemajuan teknologi dunia sekarang mulai bergeser ke timur yaitu China, India dan Jepang. Di sini sensei menyarankan bahwa bangsa Asia harus maju bersama-sama. Lalu, ia menyarankan saya untuk memajukan negara saya (Wah, orang Jepang saja bisa merasakan betapa pentingnya memajukan negara saya. Saya paham ada beberapa orang yang keluar negeri karena kesulitan  berbuat sesuatu untuk Indonesia, walaupun sebenarnya mereka ingin. Tapi, kalau masih ada orang yang keluar negeri untuk tujuan pribadi tanpa sempat berniat untuk berbuat buat negara. Itu sih keterlaluan hehe..).

Cerita punya cerita, sensei menganjurkan saya untuk melanjutkan studi ke negara-negara Asia seperti China, Korea dan Jepang. Mendengar kata Jepang, saya langsung “to the point”, mengenai kemungkinan  “jika” memang saya harus kembali ke Jepang, tepatnya di Fujita Laboratory. Singkat kata, jawabannya ia akan menerima kedatangan saya.

Wah, gawat, saya salah ngomong! Soalnya, saya berniat kalaupun mau lanjut studi S2, saya memilih TU Delft (Belanda), ETS Zurich (Swiss), atau U.S.

Tapi, saya sadar, dengan track record dan kemampuan saya sekarang, maka jawaban sensei hanyalah basa basi. :). Tidak ada yang pasti,kan di dunia ini.??

Untungnya, sensei tampaknya cukup terbuka melihat dunia. Dia tidak “mengikat” saya, beliau tetap memberikan kemungkinan terburuk andai saja ada kondisi dimana Lab tidak mampu lagi menerima mahasiswa asing. Dari sini beliau merekomendasikan saya untuk maju menggali pengalaman berbeda yaitu U.S atau Eropa dan tetap membawa tanggung jawab sebagai mantan visiting student di Fujita Laboratory. (Wah ini yang susah.. T_T, kapabilitas saya belum cukup untuk menanggung hal yang begitu.. Capek.. T_T)

*Jujur, saya hanya ingin menikmati proses memahami sesuatu tanpa harus dikejar gelar, ujian, laporan atau apapun. Saya hanya ingin menikmati “rasa haus” ini tanpa terikat “system” yang membelit semacam pencapaian gelar atau apapun namanya”.

Categories: Japan, Thought