Archive

Archive for the ‘Jakarta’ Category

Pencapaian Hingga 15 April 2016 dan Asa Berikutnya

April 15, 2016 Leave a comment

harapan

Malam ini, saya berbincang ringan dengan istri saya mengenai “novel kehidupan” bahwa “novel” ini ditulis oleh Sang Pencipta semenarik mungkin. Sederhana saja, pencapaian akan terasa memuaskan apabila ada proses yang berat, kecewa dan kegagalan. Itulah konsep klimaks-antiklimaks. Selain itu, saya juga masih berkeyakinan bahwa “trigger” kehidupan itu adalah “ASA”, bukan hanya detak jantung. Menurut saya, seorang manusia hidup tanpa ASA tidak jauh berbeda dengan zombie. Singkat cerita, saya berpendapat bahwa ASA itu perlu dijaga dalam menjalani “novel kehidupan”. Jadi, saya berusaha untuk menulis “ASA” dan pencapaian saya dalam blog ini untuk menjaga dan memonitor-nya dalam “novel kehidupan” saya secara periodik, entah itu mingguan, bulanan, 3 bulanan atau tahunan. Yang penting dimulai dulu saja.Karena berbagi itu indah.

Saya tidak spesifik mendefinisikan terhitung mulai kapan pencapaian di bawah saya tuliskan. Tapi, saya buat saja cut off pada tanggal 15 April 2016. Untuk ASA-nya, saya fikir akan saya bagi dalam ASA jangka pendek dan ASA jangka panjang

  1. Rumah Tangga

Saya berstatus sebagai suami sejak 4 April 2014. Kini, istri saya sudah mengandung mendekati 20 minggu. Diperkirakan saya akan menjadi “orang tua” pada awal September 2016.

ASA Jangka Pendek: Setidaknya setiap dua minggu sekali, istri saya dan saya akan “menjenguk” calon buah hati kami ke dokter kandungan.

ASA Jangka Panjang: Melihat dan mengadzankan/mengiqomatkan sang buah hati pada saat lahiran di Sept 2016 nanti.

  1. Asset dan Financial

Istri saya dan saya selalu melakukan proses pemantauan terhadap asset dan pertumbuhan asset kami secara berkala. Pertumbuhan nilai likuiditas financial setahun belakangan ini mencapai 300% dari nilai awal dengan tidak memperhitungkan asset tidak likuid. Alhamdulillah, Allah SWT melimpahkan rezekinya selama setahun belakangan ini. Kami tidak sepenuhnya berharap kepada gaji bulanan saya. Oleh karena itu, berbagai metode pengembangan kami coba untuk memperkokoh fondasi financial kami sebagai keluarga kecil. Salah satunya, Kami mencoba berternak Kambing dengan 3 ekor kambing sebagai modal awal.

ASA Jangka Pendek: Setidaknya ada yang ditabung setiap bulan. Memonitor perkembangan usaha ternak kambing.

ASA Jangka Panjang: Mencari partner finansial untuk bersama-sama menjalankan proyek perumahan alexandria yang terus menerus mangkrak.

  1. Pekerjaan

Selama tahun 2015, pencapaian pekerjaan tergolong memuaskan karena semua target tercapai. Proyek-proyek selesai lebih cepat dan secara budget tim proyek saving lebih banyak. Proyek-proyek tersebut adalah Zulu Reactivation Project dan ORF Muara Karang E&I Reliability Improvement Project. Q1 2016, saya dipindahkan di SP New Field Development Project. Menurut saya, proyek ini berada di fase-fase yang menantang dengan banyaknya faktor-faktor yang di luar kontrol dan ketidakpastian yang tinggi. Semoga saja setiap “novel kehidupan” berujung indah.

ASA Jangka Pendek: Melakukan visit ke lapangan untuk memverifikasi ulang ruang lingkup kerja instrumentasi dan memastikan pertemuan pra-bidding untuk satu tender dilakukan minggu depan.

ASA Jangka Panjang: Membantu tim agar penunjukkan pemenang-pemenang tender dapat dilakukan tahun ini dan memberikan kontribusi sesuai dengan ruang lingkup kerja seharusnya.

  1. Pengembangan Professional

Pada akhir Desember 2015, saya sudah mengikuti training persiapan untuk mengambil sertifikasi PMP (Project Management Profesional). Akan tetapi, dikarenakan kondisi proses pembayaran yang agak tersendat, maka saya tidak dapat mengikuti kelas intensif di awal 2016.

ASA Jangka Pendek: Menguasai 1 BAB per minggu dan mencoba 10 soal per minggu.

ASA Jangka Panjang: Certified PMP di tahun 2016

  1. Sekolah Master dan Beasiswa

Ini merupakan salah satu bukti nyata teori ASA dan novel kehidupan. Setelah berjibaku dari tahun 2012 dengan segala keterbatasan yang ada, ada proses kehilangan harapan, kehilangan kepercayaan diri, keinginan untuk mundur, penentuan dan kalah prioritas, kegagalan dan sebagainya. Akhirnya, alhamdulillah, saya ditetapkan sebawa awardee LPDP Batch I 2016. Beasiswa (full) ini memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada saya untuk melanjutkan studi master full time. Saat ini saya sudah mengantongi tawaran untuk melanjutkan study di  Eindhoven University of Technology-TU/e (Systems and Control) dan University of Aberdeen (Oil&Gas Engineering dan Petroleum Engineering). Untuk di TU/e, saya sudah menginformasikan bahwa saya akan melanjutkan studi di tahun depan. Dengan diberikan kesempatan beasiswa ini, saya juga berniat berusaha untuk membuka peluang kesempatan studi di tempat-tempat yang lebih menantang seperti ETH Zurich, Stanford University atau mungkin MIT. Ah, biarkanlah ASA ini melayang terlebih dahulu. Semoga Allah SWT memudahkan jalan, membuka hati dan memberi hidayah bagi orang-orang untuk memuluskan jalan saya. Oiya, jangan ditanya untuk menyebutkan aplikasi yang ditolak, banyak dan mungkin akan bertambah..

ASA Jangka Pendek: Meningkatkan IELTS dan belajar GRE.

ASA Jangka Panjang: Memformalkan surat penerimaan tanpa syarat dari TU/e pada Oktober 2016 dan melayangkan ASA untuk mencoba ETH Zurich, Stanford University atau mungkin MIT.

  1. Habblumminallah (Hubungan dengan Allah SWT)

Saya sangat menyadari bahwa saya bukanlah manusia yang selalu dekat dengan Allah SWT. Sejauh ini, yang saya tahu bahwa saya tidak melakukan perbuatan yang dilarangNya. Akan tetapi, banyak perintahNya yang belum saya turuti. Sholat masih belum sempurna. Puasa senin-kemis sempat dilakukan tetapi kemudian terhenti. Walaupun demikian, alhamdulillah dengan bantuan istri, infaq dan sedekah mingguan kepada anak-anak masih relatif konsisten hingga saat ini.

ASA Jangka Pendek: Perbaiki sholat, puasa dan perbanyak membaca Al-qur’an

ASA Jangka Panjang: Menghafal Al-qur’nan.

  1. Travelling Ke 3 Negara

Rencana ini hasilnya 0%.

Pertama, istri dan saya sudah memesan tiket dan penginapan untuk mengunjungi Australia bulan April 2016. Alhamdulillah, istri mengandung, rencana kunjungan wisata ke Australia kami batalkan.

Kedua, saya menulis paper untuk mengikuti konferensi ke Trinidad dan Tobago. Alhamdulillah, gagal. Satu pelajaran yang saya tangkap adalah jangan menulis paper dengan data terbatas dalam satu minggu. Sudah jelas papernya tidak akan berkualitas dan maksa

Ketiga, istri dan saya berencana untuk berangkat ke Belanda pada Q3 akhir 2016. Alhamdulillah, istri mengandung dan jadwal ke Belanda bertepatan dengan estimasi istri melahirkan.

ASA Jangka Pendek: Belum ada. Mempelajari cara mempersiapkan visa ke Belanda

ASA Jangka Panjang: Mengunjungi Belanda pada 2017 bersama Istri dan Anak.

“Hiduplah dengan harapan, tapi jangan berharap hidup jika tanpa harapan”

Risvan Dirza,

Jakarta, 15 April 2016, 02.42.

Categories: Jakarta, Thought Tags: , ,

Smile!! (Senyuman)

January 27, 2013 Leave a comment

Kecemasan saya bahwa saya akan menghadap ketidakkompetenan professional dalam sebuah organisasi pemerintahan terjadi. Saya mulai mencatat dan melist kebobrokan sistem manajemen dan kontrol dalam sebuah badan usaha milik negara induk tempat kini saya berkarya. Apalagi begitu banyak hasil kegagalan tersebut yang berdampak langsung ke saya dengan kondisi dimana saya tidak bisa berbuat apa-apa karena keterbatasan lingkungan otoritas.

Rasanya ingin cepat mengubah sistem yang bobrok ini dengan mensapu bersih dedengkot-dedengkot konservatif yang masih merasa telah berhasil membangun sebuah sistem yang efisien. Saya masih belum paham tolak ukur keberhasilan mereka. Apakah hanya angka dan grafik indah tak bermakna  (data palsu) atau memang mereka gagal menurunkan sebuah tolak ukur keberhasilan dengan benar. Tidakkah mereka pernah membandingkan diri dengan perusahaan swasta nasional atau asing yang tumbuh berkembang secara progressive?. Berapa banyak manusia yang harusnya tersenyum menjadi bersedih karena ketidakkompetenan ini?

Hari ini, kedongkolan itu sedikit berkurang. Setidaknya, saya membuat seorang anak jalanan tersenyum hari ini. Saya hanya memberikan dua (2) voucher puzzle Doraemon yang tersisa sehingga peluang anak itu untuk mendapatkan puzzle Doraemon yang ia inginkan (berasal dari hatinya) dan ia butuhkan (untuk menikmati masa kecilnya) semakin besar. Saya juga tersenyum. Sharing Happiness.

Ternyata, untuk membuat seorang manusia tersenyum itu sederhana. Anda tidak harus membangun sistem yang canggih. Anda tidak harus membuat “jokes” yang unik. Anda tidak harus memperolok orang lain agar orang yang lainnya tertawa. Anda tidak harus berbohong dan memberikan informasi palsu hanya demi kesenangan orang lain.

Yang perlu Anda lakukan hanyalah tersenyum dan berikan apa yang sangat Ia inginkan dan juga Ia butuhkan.

Tantangannya adalah kebanyakan hanya anak kecil yang polos yang mau mengungkapkan apa yang benar-benar ia inginkan dan butuhkan. Semakin matang seseorang, semakin kesulitan ia mengidentifikasi apa yang sebenarnya ia inginkan dan butuhkan (Pengalaman membuat manusia banyak menimbang).

Salam,

Risvan Dirza

(karena senyuman adalah anugerah)

Retreat, Back to Real Corporate and Evaluate (“Mundur, Kembali ke Korporasi dan Evaluasi”)

December 25, 2012 2 comments

Kalau Anda melihat judul tulisan di atas, apa yang ada dipikiran Anda? Seorang pecundang? Seorang yang gagal? Yap, dugaan Anda benar. Saya memang gagal mengimplementasikan impian dan rencana saya di awal tahun lalu (yang berimpact pada kondisi saat ini). Dalam tulisan ini, saya tuliskan beberapa alasan dan analisa atas kegagalan tersebut.

Belum juga saya wisuda pada awal 2011, saya sudah aktif bekerja di salah satu MNC (Multi National Company) di bidang migas di Indonesia. Awalnya, saya berfikir saat itu adalah jalan yang baik. Hingga akhirnya, saya memutuskan untuk resign pada awal 2012. Adapun keputusan tersebut sudah saya pertimbangkan sejak pertengahan 2011 dengan menganalisa faktor internal (ketidakpuasaan) dan external (tawaran dan peluang lain) yang muncul hingga awal 2012.

Sejak pertengahan 2011, angin segar proyek-proyek properti sudah berhembus, begitu juga dengan sistem bagi hasil di sebuah perkebunan. Belum lagi niat untuk melanjutkan S2 dan tawaran menulis buku. Pada saat itu saya sudah merancang langkah-langkah strategis di tahun 2012.

Awal 2012, saya resign dari MNC Migas tersebut. Kemudian, masuk ke start up company dengan tawaran posisi yang lebih baik dan bayaran yang “sedikit” lebih baik. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan fleksibilitas waktu, mengasah insting bisnis dan menambah network. Flexibilitas waktu dan network diharapkan dapat membantuku untuk membangun mesin uang lain yang cukup signifikan, setidaknya sekitar bulan Oktober 2012. Bersamaan dengan itu, aku terus menerus mencari beasiswa untuk melanjutkan master di luar negeri yang tahun ajarannya dimulai pada  pertengahan tahun 2013. Sedangkan, target pernikahan adalah sebelum keberangkatan studi. Dengan kata lain, saya ingin menyiapkan stabilitas spiritual dan material sebelum melanjutkan studi di tahun 2013. Itulah cerita idealnya. Ibarat perusahaan, itulah misi yang harus saya lakukan di tahun 2012-2013.

Namun sekarang apa yang terjadi? Ternyata, misi itu gagal. Saya tidak menyebutnya tertunda, karena ketepatan waktu adalah tolak ukur kesuksesan sebuah misi. Sekali lagi saya tekankan saya gagal. Tetapi, bukan kegagalan yang harus disesali. Disini saya berbagi mengenai potensi-potensi di luar perhitungan yang membuat saya gagal dan mengakibatkan saya harus kembali merangkak.

  1. Internal reason yang di luar kontrol (kehendak Tuhan), sebuah perencanaan akan gagal total jika orang-orang terpercaya yang seharusnya mendukung Anda berbalik dan malah menjadi sesuatu yang “menjadi tanggung jawab” Anda dalam proses pencapaian misi. Ini berdampak pada perhitungan finansial yang hancur lebur yang saya secara pribadi gelagapan dalam menutupi dan memutar modal yang terbatas.
  2. Negosiasi dan komunikasi, beberapa tim projek untuk membangun mesin uang menjadi mandek karena kehilangan semangat mengingat tantangan nyata yang ternyata tidak sebatas teori di sebuah buku. Hal in terjadi pada sistem marketing projek properti, bisnis online dan pengadaan sodium sulphate dll.
  3. Skill, ada saatnya saya harus turun tangan sendiri dalam menjalankan mesin uang. Beberapa skill/keterampilan yang dibutuhkan untuk menjalankan mesin tersebut tidak saya kuasai secara penuh. Inilah yang menyebabkan saya menjadi terlalu bergantung ke orang lain. Hal ini terjadi pada kegagalan agreement dan pemeliharaan website.

Sekarang, apakah bentuk kegagalan yang real yang saya alami? Sekitar Agustus 2012, saya masuk sebagai finalis Panasonic Scholarship dan gagal meraih beasiswa. Sekitar Oktober 2012, saya menerima bahwa saya gagal membangun mesin uang baik itu export batik, pengembangan artikel ke negara lain, bisnis online ataupun projek properti. Keuangan hancur lebur karena banyak modal yang sudah terpakai. Sebenarnya, loss yang paling besar adalah waktu. Sehingga, dengan demikian, harapan saya untuk melanjutkan studi di 2013 pupus sudah.

Akan tetapi, kini saya bergabung dengan sebuah perusahaan migas nasional, PT. Pertamina Hulu Energy Offshore Northwest Java dengan potensi ikatan dinas 4 tahun. Mungkin pendapatan saya tidak sebesar dahulu (ini pendapatan terkecil semenjak saya bekerja), tapi setidaknya saya bersyukur bahwa saya diberikan kesempatan kedua untuk kembali membangun pondasi.

Lalu, langkah strategis apa yang harus saya lakukan? Tindakan antisipatif apa yang harus saya lakukan agar tidak terjadi kesalahan yang sama?

  1. Bekerjasama dengan Tuhan (Allooh SWT). Mungkin saya terlalu sombong dengan logika dan angka. Dan Dia adalah Yang Maha Berkehendak untuk memutarbalikkan estimasi, logika dan angka-ku.
  2. Belajar berbicara sesuai tempat, waktu dan kondisi.
  3. Mengembangkan kemampuan teknis detail yang dibutuhkan di dunia komersil
  4. Membangun pemahaman fundamental yang solid mengenai bagaimana membangun perusahaan.
  5. Menjadi halfboss/halfemployee.
  6. Be myself, melakukan sesuatu yang sesuai dengan prinsip kebenaran dan professionalisme. Saya tidak akan pernah mampu menyenangkan 10 dari 10 orang yang ada di sekitar saya.
  7. Lebih bersabar, jangan terburu-buru, analisa resiko yang lebih lean, dan sistem kontrol yang tepat terhadap partner-partner baru.

Melanjutkan studi? Saya rasa saya harus mengulur waktu lebih lama, setidaknya saya memikirkan itu setelah 4 tahun dari sekarang. Tetapi, yang pasti, saya akan tetap mengulik angka, rumus dan merekayasa formula dan persamaan dalam keseharian saya (baik tertulis ataupun tidak). Karena bentuk manfaat dari ilmu itu bukan gelar akademis.

Nikah? Yang pasti, secara resmi, tidak di 2013, mungkin 2014..

2012 memang tahun yang berat dan penuh dengan “kegagalan” dengan impact jangka panjang yang berselemak (kemana-mana).

Frustasi? Yes,

Minder? Yes,

Sedih? Yes,

Pesimis? Yes,

Marah? Yes,

Malu? Yes,

Tapi, itulah pengalaman saya.. dan saya memutuskan untuk bangkit dan merangkak kembali dengan cara yang mudah-mudahan lebih baik..

Salam perjuangan,

Risvan Dirza

Toyota Business Practices (Part II)

August 10, 2009 2 comments

Weekend 8-9 Agustus, aku berada di Lembang. Kegiatan ini merupakan acara tahunan karyawan PCD-TMMIN sebagai salah satu cara untuk memperat rasa kekeluargaan di antara sesame karyawan di divisi tersebut. Dan entah kenapa, para pegawai magang seperti saya diberi kesempatan untuk ikut ke acara tersebut. Padahal saya juga tidak terlalu banyak mengenal karyawan di divisi ini.

Gimana mau menghapal orang yang berjumlah sekitar 80 orang ini? Ampun dah, ditambah lagi mereka pada bawa keluarganya pula.

Oh ya.. btw, dari 80-an orang itu, hanya 7%-nya lah yang masih lajang/bujang.

Kesimpulan : “Toyota adalah perusahaan untuk anda yang sudah settle dengan kehidupan berkeluarga. Jika ingin bermanuver, maka carilah tempat yang lebih tepat.”.

Positifnya sih, saya melihat begitu banyak bapak-bapak muda yang begitu nyaman dengan pendampingnya dan anak-anaknya ituloh (lucu-lucu pisan..). Aku melihat banyak keluarga-keluarga bahagia di sana.

Baiklah, melanjutkan tulisan tanggal 5 agustus, kali ini saya akan berbagi mengenai apa itu step2.

Step2 : Breakdown the Problem

Pada step 1, kita akan memperoleh problem yang telah jelas. Di step dua ini, kita akan membreakdown problem tersebut berdasarkan 3 point penting yaitu “level of urgency”, “level importance” dan “potential of expansion”. Ketiga point penting harus tetapi dipegang dalam setiap persimpangan. (Pesan : Tanamkan dulu ya 3 hal tadi)

Baik, sekarang tentukan division point pada problem tadi. Agar mudah mengingatnya, ada 3W yang umum digunakan yaitu :

1. What

2. Where

3. When

Agar lebih mudah di bayangkan, berikut contoh sederhananya.

Problem (step 1) = 45% surat pos delay dari standart.

Step 2

1. What :

Div Point = Type surat (misal : terpilih tipe C)

2. Where :

Div Point =Wilayah kerja kantor pelayanan (misal : terpilih wilayah B)

3. When :

Div Point = Shift Kerja (misal : terpilih shift malam)

Pemilihan harus berdasarkan data factual dan 3 point penting yang disebutkan di atas. Penggunaan division point boleh ditukar-tukar urutannya dan dapat dipakai berulang tergantung kebutuhan problem.

Hasil dari penggunaan strategi division point ini akan menghasilkan “priority problem “yang harus diselesaikan.

Sebagai contoh dari kasus di atas akan diperoleh priority problem sebagai berikut : “Terdapat XX% delay pengirimin surat tipe C di wilayah B yang terjadi pada shift malam”

Hmm.. Setelah itu kita harus mencari “point of occurrence”-nya. Di sini diperlukan “Genba” atau terjun ke lapangan langsung. Dengan begitu kita dapat mengetahui awal mula munculnya permasalahan.

Sebagai contoh kasus di atas. Kita harus melakukan pengecekan proses pengiriman surat secara mundur. Dimulai dari kotak pos di rumah-rumah, lalu mundur ke pengantar surat, lalu tempat penampungan surat, lalu tempat pemilahan surat, lalu ke tempat penampungan surat di kantor pos, lalu ke kasir dan seterusnya. Sebisa mungkin urutan proses tersebut sedetail mungkin. Dengan demikian kita dapat mengetahui, dimanakah point of occurrence dari priority problem kita. Misal pada kasus ini terletak di “kasir”.

Maka priority problem at the point of occurrence kita adalah :

“Terdapat XX-a% delay pengirimin surat tipe C di wilayah B yang terjadi pada shift malam di saat pelayanan di kasir”

“Priority problem at point of oocurence” merupakan output dari step dua ini.

    Kelemahan

dari step ini, tentu saja diperlukan begitu banyak data yang detail dan valid tentunya sebelum setiap pemilihan breakdown dilakukan. Selain itu, sekali saja melakukan kesalahan pada bagian division point, maka kesalahan tersebut akan terus terjadi kebelakang. Jadi, system ini membutuhkan ketelitian yang tinggi dan akurasi data yang terjamin.

    Kelebihannya

, ya tentu saja, anda mempunyai argumentasi yang kuat dalam menentukan sebuah priority problem at point of occurrence. Sangat sedikit celah untuk menentang analisa anda jika setiap langkah dilakukan secara tepat dan matang.

Step 3 : Setting Target

Btw, pren bersambung lagi yah.. ngantuk cuy..

Dadah byebye..

Mohon do’anya.. yah

Oyasumi Nasai..

Welterusten..

Good night..

Met bobok..

Assalamualaikum..

Toyota Business Practices (Part I)

August 5, 2009 8 comments

Rabu, 5 August 2009. Tidak terasa sudah hampir dua bulan blog ini mati suri. Yah, kalopun hidup juga masih butuh napas buatan. Kasian ya..

Kali ini, saya akan sedikit berbagai mengenai Toyota Business Practices yang sedang saya pelajari dan menjadi landasan problem solving (idealnya.. hoho..) di masa OJT ini.

Step 1 : Clarify the Problem

Pada langkah ini ada 3 masukan yang harus diperoleh, yakni ultimate goal, ideal condition dan current condition. Pada akhirnya akan di hasilkan keluaran berupa satu problem yang jelas.

Ideal condition akan berkontribusi terhadap ultimate goal. Selisih antara ideal dan current condition merupakan problem yang harus diselesaikan.

Hal yang perlu dicermati pada step ini terletak pada penentuan besarnya problem yang akan diperoleh. Karena kita berbicara mengenai angka, maka semua data yang dimasukkan ke dalam ideal maupun current condition harus bersifat kuantitatif. Nilai-nilai yang bersifat harus bisa diterjemahkan ke dalam bentuk kuantitatif.

Menurut saya, di sini letak kelemahan system ini. Segala parameter yang bersifat kualitatif yang dikuantitatifkan akan bersifat subjektif.

Kelebihan step ini tentu terletak pada skema yang jelas mengenai pemaknaan apa itu problem.

Langkah II : Breakdown the Problem

Bersambung ya.. Saya mau belajar bahasa Jepang dulu.

Summimasen..

Oyasumi Nasai..

Mohon do’anya

Bismillah

Assalamualaikum..