Produksi Minyak dan Gas Bumi

April 14, 2013 Leave a comment

Pada pertengahan tahun 1980-an, masyarakat dunia meyakini bahwa akan datang masanya dimana dunia akan kekurangan ketersediaan minyak bumi. Bahkan, dalam kondisi produksi terbaik sekalipun, dimana timur tengah berhasil menggandakan produksinya, dunia masih akan berada pada krisis pasokan minyak pada pertengahan 1990-an.

Tetapi, sejalan dengan waktu yang berlalu, ternyata skenario di atas tidak pernah terjadi. Kegagalan munculnya skenario terburuk tersebut bukan berarti bahwa minyak bumi adalah sumber energi terbarukan. Melainkan ini adalah buah keberhasilan dari usaha – usaha yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun industri swasta dalam meneliti dan memaksimalkan sumber daya energi yang terdapat di Bumi ini.

Dalam memproduksi atau mengambil minyak bumi dari sumbernya, dikenal dua istilah utama, yakni “primary recovery” dan “secondary recovery”. Istilah ini dibedakan berdasarkan masa dan kondisi sumber minyak bumi yang dioperasikan.

Istilah “primary recovery” ditujukan pada minyak bumi yang dapat diproduksi dalam kondisi alam yang normal. Pada masa-masa awal industri, produksi minyak bumi dibatasi sepenuhnya oleh kondisi dimana proses hanya bergantung pada mekanisme pemulihan alamiah atau normal. Oleh karena keterbatasan ini, sebuah sistem pengangkatan buatan atau artificial lift dikembangkan untuk mengambil minyak bumi dari sumbernya (reservoir). Kemampuan reservoir tersebut untuk mendorong minyak bumi hingga ke permukaan sudah menurun.

Teknik-teknik yang kemudian dikembangkan untuk mendorong minyak bumi keluar dari pori-pori batuan reservoir adalah dengan menggunakan fluida lainnya. Minyak bumi yang diperoleh dengan metode ini disebut sebagai “secondary recovery”. Metode “secondary recovery” yang banyak digunakan adalah waterflooding dan gas injection, yang mencontoh atau menganalogikan mekanisme produksi “primary recovery” dari dorongan air dan gas yang terjebak bersama minyak bumi.

Untuk mengambil minyak bumi dari sumbernya, banyak sekali faktor yang harus dipertimbangkan, misalnya tekanan reservoir, porositas, permeabilitas, kekentalan minyak dan sebagainya. Faktor-faktor kompleks ini membuat metode waterflooding maupun gas injection tidak bekerja secara maksimal. Peningkatan produksi minyak bumi yang diproduksi dengan metode-metode tersebut hanya 10-20 % dari minyak bumi yang terdapat di sumbernya.

Sementara proses pengambilan yang lebih canggih yang menjadi rujukan banyak professional di perminyakan adalah EOR (Enhanced Oil Recovery). Beberapa orang menyebut teknik ini sebagai “tertiary recovery”. Beberapa contoh metode ini adalah injeksi air berkarbonasi (mengandung CO2), alkaline dan polimer. Walaupun metode EOR ini memiliki efesiensi pengangkatan yang lebih baik, ternyata masih ada lebih dari setengah minyak bumi yang terkandung tertinggal di dalam tanah. Dengan metode EOR ini, hanya sekitar 30 – 60% kandungan minyak bumi yang dapat diambil dari sumbernya.

Mengingat begitu signifikannya metode EOR dalam peningkatan produksi minyak bumi, berikut penulis sajikan beberapa teknik yang umum digunakan dalam metode EOR ini.

Teknik termal merupakan salah satu pendekatan yang signifikan. Pada pendekatan ini dilakukan pemanasan terhadap minyak bumi yang terkandung untuk mengurangi viskositasnya sehingga minyak bumi tersebut memiliki kemampuan mobilisasi/bergerak yang lebih baik. Peningkatan panas ini akan menurunkan tegangan permukaan minyak bumi dan meningkatkan permeabilitasnya. Minyak bumi yang dipanaskan ini juga akan menguap dan terkondensasi dengan kualitas yang lebih baik. Beberapa metode pemanasan yang biasa dilakukan adalah injeksi uap secara terskilus ke dalam sumur minyak dan steam drive.

Selain teknik termal, juga dikenal teknik chemical. Pada metode ini diinjeksikan bahan kimia berupa surfactant atau bahan polimer untuk mengubah properti fisika (misalnya, tegangan permukaan dan tegangan kapiler) dari minyak ataupun fluida yang dipindahkan. Hasilnya, minyak dapat lebih mudah mengalir. Akan tetapi, penggunaan metode ini sangatlah terbatas dengan dana yang dibutuhkan untuk membeli bahan kimia yang diinjeksikan.

Teknik EOR yang biasa digunakan adalah Teknik miscible. Teknik miscible merupakan sebuah proses menginjeksikan fluida pendorong ke dalam sumur minyak yang kemudian akan bercampur dengan minyak tersebut. Fluida yang digunakan misalnya larutan hidrokarbon, gas hidrokarbon, CO2 ataupun gas nitrogen. Ketika fluida ini bercampur dengan minyak, maka tekanan pada reservoir dapat terjaga dan akan meningkatkan kemampuan mobilitas minyak karena tegangan antara air dan minyak akan berkurang. Gas yang umum diinjeksikan biasanya karbondioksida karena gas ini dapat menurunkan viskositas minyak dan harganya relatif lebih murah daripada LPG.

Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya persediaan cadangan minyak dan gas bumi sangat banyak. Sumber permasalahan keterbatasan minyak terletak pada dua faktor utama, yakni keterbatasan teknologi untuk memaksimalkan produksi dari cadangan yang ada, serta pola konsumsi energi berlebihan dari penduduk bumi. 

Advertisements

Teknologi Pelindung Korosi

April 11, 2013 Leave a comment

Atas permintaan seorang teman di seberang sana, saya menulis sejumlah artikel teknologi secara periodik. Tidak mudah bagi saya untuk menulis artikel seperti ini, mengingat kapasitas pengetahuan dan pemahaman saya yang masih terbatas.

Artikel ini sudah dipublished. Oleh karena itu, saya sekarang dapat mem-publish-nya juga diblog saya. Saya selalu berharap artikel ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca. Di samping itu, besar harapan saya untuk mendapat feedback baik itu dari segi penyampaian maupun kontennya.

Baik, langsung saja ya..

Coba Anda perhatikan di sekitar Anda saat ini! Berapa banyak peralatan yang terbuat dari besi? Adakah yang berkarat? Jika Anda menemukan fenomena tersebut, berarti Anda telah menyadari bahwa masih banyak peralatan di sekitar Anda yang bersifat korosif (sifat suatu subtantsi yang dapat menyebabkan benda lain hancur atau memperoleh dampak negatif)

Sekarang, coba Anda bayangkan jika korosi ini terjadi di fasilitas-fasilitas yang berbahaya seperti kilang minyak atau jembatan penyebrangan.

Mengingat begitu dahsyatnya akibat dari fenomena korosi, maka dikembangkanlah sebuah metode penanggulangan yang disebut cathodic protection (Pelindung Katodik).

Pada prinsipnya, metode ini mengorbankan material lain yang lebih dahulu termakan korosi dibandingkan dengan material utama yang diharapkan tidak mengalami korosi. Secara sederhana, material yang ingin dilindungi “dibungkus” oleh material lain.

Jadi, secara teknis, material yang melindungi material utama harus memiliki potential korosi yang lebih rendah (biasanya dalam satuan eV). Sedangkan, secara resmi metode proteksi katodik didefinsikan sebagai sebuah teknik yang digunakan untuk mengendalikan korosi pada permukaan metal dengan membuat sebuah katoda pada sel elektrokimia.

Metode pelindung katodik ini sendiri, secara umum terdiri dari dua (2) tipe, yaitu Galvanik dan Impressed Current Cathodic Proctection System.

Galvanik (Pengorbanan Anoda)

Dalam aplikasi biasa, anoda galvanik yang merupakan sepotong logam yang lebih elektrokimia “aktif” melekat pada permukaan logam yang rentan terkena cairan korosif. Anoda galvanik dirancang dan dipilih untuk memiliki tegangan yang lebih “aktif” (lebih negatif elektrokimia potensial-nya) dari logam struktur target (biasanya baja).

Untuk CP (Cathodic Protection) yang efektif, potensi permukaan baja dipolarisasi (dipaksa) sehingga lebih negatif sampai permukaan memiliki potensial seragam. Pada tahap itu, kekuatan pendorong untuk reaksi korosi dengan permukaan yang dilindungi akan terhapus.

Anoda galvanik terus menimbulkan korosi, mengkonsumsi bahan anoda sampai akhirnya harus diganti. Oleh karena itu, anoda galvanik akan terus diganti secara periodik.

Polarisasi struktur target disebabkan oleh aliran elektron dari anoda ke katoda, sehingga kedua logam harus memiliki kontak konduktif elektrik yang baik. Kekuatan pendorong untuk arus CP adalah perbedaan potensial elektrokimia antara anoda dan katoda.

Agar perlindungan katodik galvanik bekerja, anoda harus memiliki potensi elektrokimia lebih rendah (lebih negatif) dibandingkan katoda (struktur target yang harus dilindungi).

Impressed Current Cathodic Protection Systems (ICCP)

Untuk struktur yang lebih besar, anoda galvanik tidak dapat memberikan arus yang cukup ekonomis untuk memberikan perlindungan yang lengkap. Sistem ICCP menggunakan anoda yang terhubung ke sumber listrik DC (arus searah). Biasanya, ada penyearah perlindungan katodik, yang mengubah suatu sumber listrik keluaran AC ke keluaran DC. Jika tidak ada pasokan AC, sumber daya alternatif dapat digunakan, seperti panel surya, tenaga angin atau tenaga gas generator thermoelectric.

Anoda untuk sistem ICCP tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran. Anoda yang umum adalah bentuk batang tubular dan padat atau pita panjang dari berbagai bahan. Misalnya, silikon, besi cor, grafit, campuran logam oksida, platina dan kawat yang dilapisi niobium.

Untuk pipa, anoda tersebut diatur dalam groundbeds baik didistribusikan melebar atau di lubang vertikal yang mendalam. Desain tersebut tergantung pada beberapa faktor kondisi lapangan, termasuk persyaratan distribusinya.

Dengan menelaah uraian kedua jenis tipe pelindung katodik di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa jika kita hendak melindungi korosi pada permukaan yang relatif tidak luas, tipe galvanik adalah metode yang sesuai. Tipe ini sederhana dan relatif murah dengan perawatan periodek. Sedangkan, ketika permukaan yang ingin dilindungi jauh lebih besar, tipe galvanik tidak akan lagi ekonomis karena anoda galvanik yang dibutuhkan akan sangat banyak. Oleh karena itu, ICCP system adalah tipe yang paling tepat dengan resiko perawatan yang sedikit lebih kompleks dan ketergantungan pada pasokan energi tambahan.

Demikianlah, beberapa teknologi perlindungan korosi yang kita bahas pada bulan ini.

Smile!! (Senyuman)

January 27, 2013 Leave a comment

Kecemasan saya bahwa saya akan menghadap ketidakkompetenan professional dalam sebuah organisasi pemerintahan terjadi. Saya mulai mencatat dan melist kebobrokan sistem manajemen dan kontrol dalam sebuah badan usaha milik negara induk tempat kini saya berkarya. Apalagi begitu banyak hasil kegagalan tersebut yang berdampak langsung ke saya dengan kondisi dimana saya tidak bisa berbuat apa-apa karena keterbatasan lingkungan otoritas.

Rasanya ingin cepat mengubah sistem yang bobrok ini dengan mensapu bersih dedengkot-dedengkot konservatif yang masih merasa telah berhasil membangun sebuah sistem yang efisien. Saya masih belum paham tolak ukur keberhasilan mereka. Apakah hanya angka dan grafik indah tak bermakna  (data palsu) atau memang mereka gagal menurunkan sebuah tolak ukur keberhasilan dengan benar. Tidakkah mereka pernah membandingkan diri dengan perusahaan swasta nasional atau asing yang tumbuh berkembang secara progressive?. Berapa banyak manusia yang harusnya tersenyum menjadi bersedih karena ketidakkompetenan ini?

Hari ini, kedongkolan itu sedikit berkurang. Setidaknya, saya membuat seorang anak jalanan tersenyum hari ini. Saya hanya memberikan dua (2) voucher puzzle Doraemon yang tersisa sehingga peluang anak itu untuk mendapatkan puzzle Doraemon yang ia inginkan (berasal dari hatinya) dan ia butuhkan (untuk menikmati masa kecilnya) semakin besar. Saya juga tersenyum. Sharing Happiness.

Ternyata, untuk membuat seorang manusia tersenyum itu sederhana. Anda tidak harus membangun sistem yang canggih. Anda tidak harus membuat “jokes” yang unik. Anda tidak harus memperolok orang lain agar orang yang lainnya tertawa. Anda tidak harus berbohong dan memberikan informasi palsu hanya demi kesenangan orang lain.

Yang perlu Anda lakukan hanyalah tersenyum dan berikan apa yang sangat Ia inginkan dan juga Ia butuhkan.

Tantangannya adalah kebanyakan hanya anak kecil yang polos yang mau mengungkapkan apa yang benar-benar ia inginkan dan butuhkan. Semakin matang seseorang, semakin kesulitan ia mengidentifikasi apa yang sebenarnya ia inginkan dan butuhkan (Pengalaman membuat manusia banyak menimbang).

Salam,

Risvan Dirza

(karena senyuman adalah anugerah)

Retreat, Back to Real Corporate and Evaluate (“Mundur, Kembali ke Korporasi dan Evaluasi”)

December 25, 2012 2 comments

Kalau Anda melihat judul tulisan di atas, apa yang ada dipikiran Anda? Seorang pecundang? Seorang yang gagal? Yap, dugaan Anda benar. Saya memang gagal mengimplementasikan impian dan rencana saya di awal tahun lalu (yang berimpact pada kondisi saat ini). Dalam tulisan ini, saya tuliskan beberapa alasan dan analisa atas kegagalan tersebut.

Belum juga saya wisuda pada awal 2011, saya sudah aktif bekerja di salah satu MNC (Multi National Company) di bidang migas di Indonesia. Awalnya, saya berfikir saat itu adalah jalan yang baik. Hingga akhirnya, saya memutuskan untuk resign pada awal 2012. Adapun keputusan tersebut sudah saya pertimbangkan sejak pertengahan 2011 dengan menganalisa faktor internal (ketidakpuasaan) dan external (tawaran dan peluang lain) yang muncul hingga awal 2012.

Sejak pertengahan 2011, angin segar proyek-proyek properti sudah berhembus, begitu juga dengan sistem bagi hasil di sebuah perkebunan. Belum lagi niat untuk melanjutkan S2 dan tawaran menulis buku. Pada saat itu saya sudah merancang langkah-langkah strategis di tahun 2012.

Awal 2012, saya resign dari MNC Migas tersebut. Kemudian, masuk ke start up company dengan tawaran posisi yang lebih baik dan bayaran yang “sedikit” lebih baik. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan fleksibilitas waktu, mengasah insting bisnis dan menambah network. Flexibilitas waktu dan network diharapkan dapat membantuku untuk membangun mesin uang lain yang cukup signifikan, setidaknya sekitar bulan Oktober 2012. Bersamaan dengan itu, aku terus menerus mencari beasiswa untuk melanjutkan master di luar negeri yang tahun ajarannya dimulai pada  pertengahan tahun 2013. Sedangkan, target pernikahan adalah sebelum keberangkatan studi. Dengan kata lain, saya ingin menyiapkan stabilitas spiritual dan material sebelum melanjutkan studi di tahun 2013. Itulah cerita idealnya. Ibarat perusahaan, itulah misi yang harus saya lakukan di tahun 2012-2013.

Namun sekarang apa yang terjadi? Ternyata, misi itu gagal. Saya tidak menyebutnya tertunda, karena ketepatan waktu adalah tolak ukur kesuksesan sebuah misi. Sekali lagi saya tekankan saya gagal. Tetapi, bukan kegagalan yang harus disesali. Disini saya berbagi mengenai potensi-potensi di luar perhitungan yang membuat saya gagal dan mengakibatkan saya harus kembali merangkak.

  1. Internal reason yang di luar kontrol (kehendak Tuhan), sebuah perencanaan akan gagal total jika orang-orang terpercaya yang seharusnya mendukung Anda berbalik dan malah menjadi sesuatu yang “menjadi tanggung jawab” Anda dalam proses pencapaian misi. Ini berdampak pada perhitungan finansial yang hancur lebur yang saya secara pribadi gelagapan dalam menutupi dan memutar modal yang terbatas.
  2. Negosiasi dan komunikasi, beberapa tim projek untuk membangun mesin uang menjadi mandek karena kehilangan semangat mengingat tantangan nyata yang ternyata tidak sebatas teori di sebuah buku. Hal in terjadi pada sistem marketing projek properti, bisnis online dan pengadaan sodium sulphate dll.
  3. Skill, ada saatnya saya harus turun tangan sendiri dalam menjalankan mesin uang. Beberapa skill/keterampilan yang dibutuhkan untuk menjalankan mesin tersebut tidak saya kuasai secara penuh. Inilah yang menyebabkan saya menjadi terlalu bergantung ke orang lain. Hal ini terjadi pada kegagalan agreement dan pemeliharaan website.

Sekarang, apakah bentuk kegagalan yang real yang saya alami? Sekitar Agustus 2012, saya masuk sebagai finalis Panasonic Scholarship dan gagal meraih beasiswa. Sekitar Oktober 2012, saya menerima bahwa saya gagal membangun mesin uang baik itu export batik, pengembangan artikel ke negara lain, bisnis online ataupun projek properti. Keuangan hancur lebur karena banyak modal yang sudah terpakai. Sebenarnya, loss yang paling besar adalah waktu. Sehingga, dengan demikian, harapan saya untuk melanjutkan studi di 2013 pupus sudah.

Akan tetapi, kini saya bergabung dengan sebuah perusahaan migas nasional, PT. Pertamina Hulu Energy Offshore Northwest Java dengan potensi ikatan dinas 4 tahun. Mungkin pendapatan saya tidak sebesar dahulu (ini pendapatan terkecil semenjak saya bekerja), tapi setidaknya saya bersyukur bahwa saya diberikan kesempatan kedua untuk kembali membangun pondasi.

Lalu, langkah strategis apa yang harus saya lakukan? Tindakan antisipatif apa yang harus saya lakukan agar tidak terjadi kesalahan yang sama?

  1. Bekerjasama dengan Tuhan (Allooh SWT). Mungkin saya terlalu sombong dengan logika dan angka. Dan Dia adalah Yang Maha Berkehendak untuk memutarbalikkan estimasi, logika dan angka-ku.
  2. Belajar berbicara sesuai tempat, waktu dan kondisi.
  3. Mengembangkan kemampuan teknis detail yang dibutuhkan di dunia komersil
  4. Membangun pemahaman fundamental yang solid mengenai bagaimana membangun perusahaan.
  5. Menjadi halfboss/halfemployee.
  6. Be myself, melakukan sesuatu yang sesuai dengan prinsip kebenaran dan professionalisme. Saya tidak akan pernah mampu menyenangkan 10 dari 10 orang yang ada di sekitar saya.
  7. Lebih bersabar, jangan terburu-buru, analisa resiko yang lebih lean, dan sistem kontrol yang tepat terhadap partner-partner baru.

Melanjutkan studi? Saya rasa saya harus mengulur waktu lebih lama, setidaknya saya memikirkan itu setelah 4 tahun dari sekarang. Tetapi, yang pasti, saya akan tetap mengulik angka, rumus dan merekayasa formula dan persamaan dalam keseharian saya (baik tertulis ataupun tidak). Karena bentuk manfaat dari ilmu itu bukan gelar akademis.

Nikah? Yang pasti, secara resmi, tidak di 2013, mungkin 2014..

2012 memang tahun yang berat dan penuh dengan “kegagalan” dengan impact jangka panjang yang berselemak (kemana-mana).

Frustasi? Yes,

Minder? Yes,

Sedih? Yes,

Pesimis? Yes,

Marah? Yes,

Malu? Yes,

Tapi, itulah pengalaman saya.. dan saya memutuskan untuk bangkit dan merangkak kembali dengan cara yang mudah-mudahan lebih baik..

Salam perjuangan,

Risvan Dirza

Apakah Anda Pemimpin yang “Lengkap”?

October 7, 2012 Leave a comment

Ilmu kepemimpinan itu susah sekali. Mungkin itu pula mengapa belum ada jurusan kepemimpinan sempurna di daftar-daftar jurusan perguruan tinggi. Mungkin Anda merasa lengkap dengan mengetahui berbagai teori mengenai bagaimana membaca psikologi manusia, psikologi sosial, struktur sosial dan lain sebagainya. Tapi, secara praktis, apakah Anda menjamin bahwa Anda tidak mengalami banyak kegagalan dalam memenuhi teori yang Anda (katanya) kuasai (- diindikasikan dengan tumpukan buku manajemen dan kepemimpinan di perpustakaan pribadi Anda).

Jika saya harus melompat dan mengambil kesimpulan, teori kepemimpinan itu terdengar terlalu indah dibanding kenyataan praktisnya. Tetapi, yang jelas ada beberapa komponen kepemimpinan yang harus kita punyai untuk mendekati kata “lengkap”. Berdasarkan, diskusi, coaching dan pengalaman yang saya peroleh dalam beberapa tahun belakangan ini (sejak kata-kata pemimpin menganggu gendang telinga saya – Saya sebut mengganggu karena banyaknya orang-orang yang memakai istilah memimpin untuk tujuan pribadi atau golongan), saya menemukan komponen penguji kelengkapan kepemimpinan Anda. Jika satu saja Anda tidak penuhi, sebaiknya Anda instropeksi diri untuk mengkultuskan diri sebagai pemimpin yang lengkap.

Pertama, “Tahu arah”bahasa kerennya punya visi. Siapa sih yang bersedia ikut kalau Anda tidak tahu apa yang menjadi tujuan bersama? Tuna netra (-maaf) masih membutuhkan tongkat untuk memandu jalannya. Kalau Anda tidak tahu arah, komponen kepemimpinan Anda untuk hal ini tidak lebih baik dari pada tongkat tersebut.

Kedua, “Tahu cara”Anda bangga bahwa Anda punya ide keren, unik, beda dengan yang lain, sangat futuristic dan menguntungkan? Yuk, cari kasur, bantal dan guling kalau Anda tidak tahu langkah-langkah yang harus Anda penuhi untuk mencapai visi bersama.

Ketiga, “Sadar diri”Anda merasa keren dengan status sebagai pucuk pimpinan organisasi? Kepemimpinan bukan soal pengakuan individual bung. Jika Anda belum mampu membentuk visi bersama yang memfasilitasi kepentingan positif setiap pihak, sebaiknya Anda mundur.

Keempat, “Memahami situasi”. Anda belum lengkap jika Anda belum mampu memainkan dan mengendalikan konflik.

Kelima, “Punya target dan timeline”, Anda belum lengkap jika Anda belum membangun, memahami, meng-adjust dan mengoptimalkan plan Anda.

Keenam, “Punya pengaruh dan karisma”,  Anda merasa sudah menjadi pemimpin ketika jabatan Anda tinggi? Bagaimana jika orang yang Anda pimpin memiliki idealisme, harga diri tinggi (yang jelas lebih tinggi dari posisi dan bayaran-nya) dan pengalaman? Mereka, dalam hitungan jam, bisa saja meninggalkan dan mengibuli Anda.

Ketujuh, “Menghargai kolega dan orang yang Anda pimpin”, Masih bangga dapat memperkerjakan orang dengan bayaran tinggi? Lihat dunia lebih luas! Pintu rejeki bisa dari mana saja. Harta bukan lagi tolak ukur untuk dapat membangun hubungan saling membangun dengan kolega Anda.

Kedelepan, “Mampu memaksimalkan organisasi yang heterogen, kompleks dan gemuk”, Ini susah. Konon pula, Anda tidak punya pengaruh, karisma dan knowledge yang cukup. Habislah Anda seketika.

Kesembilan, “Kejujuran, Pemahaman menyeluruh dan Integritas”Kalau Anda tidak jujur, siapa yang mau percaya? Kalau Anda tidak memiliki pemahaman menyeluruh, bagaimana Anda bisa dikatakan kompeten? Kalau Anda tidak memiliki integritas, siapa yang akan loyal dan merasa nyaman bersender di Anda?

Keseluruhan komponen itu saling terkait satu sama lain. Satu saja, Anda gagal memenuhi, Anda belum lengkap.

Selamat melengkapi!

Salam,

Categories: General Knowledge

Chances Cathcer

September 1, 2012 Leave a comment

Apa yang Anda harapkan dari sebuah usaha yang Anda bangun? Uang dan untung yang melimpah? Relasi dan wanita dimana-mana yang menempel pada Anda? Kaya mendadak dan bisa keliling dunia?

Yup, Anda berhak untuk menentukan visi Anda sendiri mengapa Anda melangkah dan memutuskan untuk membangun usaha.

Dalam tulisan ini, saya tidak mendefinisikan diri sebagai pengusaha. Apalagi jika ditanya, ”Di bidang apa?”. Jujur, saya tidak bisa menjawabnya. Tapi, yang jelas saya suka membuat suatu “mesin” penghasil keuntungan atau profit.

Pada gambar di bawah ini, Anda dapat melihat grafik summary dari salah satu “mesin” saya.

Financial Indicator Evaluation

Financial Indicator Evaluation

Saya mungkin seorang otodidak yang tidak terlalu percaya dengan cerita-cerita sukses pengusaha yang begitu menarik di buku-buku yang kini bertebaran di Gramedia. Tapi, yang jelas saya berusaha menangkap setiap fenomena yang saya lihat dari “mesin” saya. Misalnya, dari “mesin” di atas.

  • Jika kita lihat, pada February tahun lalu, profit “mesin” ini sempat melonjak tajam dan kemudian turun dan tak bergerak. Yap, itu adalah dimana saya mulai terdaftar sebagai engineer (baca-karyawan :D) di sebuah perusahaan. Di sini saya melihat, jika kita ingin membangun “mesin” uang, maka bangunlah dengan kesungguhan dan manajemen waktu yang baik karena peluang itu tidak pasti datang 2 kali. Intinya, Saya baru saja kehilangan kesempatan untuk mem-boost up “mesin” ini tahun lalu.
  • Jika  kita lihat pada February tahun ini (dimana- saya memutuskan berhenti dari profesi saya  sebagai  Engineer), profit bersih “mesin” ini perlahan namun pasti, meningkat. Saya tidak menggeneralisir bahwa profesi engineer itu tidak mendukung proses pembuatan “mesin uang”. Tapi, saya memutuskan untuk “menimba ilmu” di sebuah perusahaan start up yang -sangat bisa dikatakan- belum ada sistem sama sekali. Kondisi itu menstimulasi innovasi dan kreativitas yang juga diperlukan untuk membangun “mesin” uang. Beda-nya, di sini, saya melakukan passion saya dengan tetap dibayar. Apakah impact-nya dengan “mesin” uang saya?, Saya lebih berani ambil resiko dan bergerak (Eitss.. dengan berbagai pertimbangan dan perhitungan pastinya.. 🙂 ), hingga profit-pun meningkat tajam kembali.
  • Percaya atau tidak, sebuah “mesin uang” di atas bukanlah berawal dari sebuah pencarian yang ambisius dan/atau ngotot. “Mesin” itu hanya bermula dari sebuah keisengan yang dilakukan dengan senyuman dan keikhlasan.

Perlu dicatat: beberapa resiko dan hambatan yang cukup membuat saya puyeng itu meliputi modal terpendam, partner kabur, birokrasi, dan yang paling utama adalah salah memberikan kepercayaan. Resiko-resiko seperti itu pasti cepat atau lambat mencolek kita 🙂

Lagi-lagi saya melihat bahwa membuat “mesin penghasil keuntungan” sebagai sebuah hobby atau sebuah game. Sehingga, saya lebih suka mendefinisikannya sebagai “opportunity seeker” atau “chances catcher”. Jadi, jangan ditanya lagi jenis “mesin” saya apa? 😉

Ilustrasinya, mungkin bisa dilihat ketika kita memainkan “Super Mario Bros”. Anda berjalan, mentekel masalah  (ex. Kura-kura dkk), mengidentifikasi batu yang mungkin saja memiliki jamur atau koin, lalu mencapai target di stage 1 dan  achievement-pun diperoleh.  Kemudian, Anda masuk ke stage berikutnya. Tapi, yang perlu ditambahkan dan dipastikan dalam membuat “mesin uang” adalah sustainabilitas, improvisasi, pengembangan dan diversifikasi untuk tetap berusaha dan bertahan (Survive).

Wassalam,

Cheers, Live your life cause you live once..

Risvan Dirza

Categories: General Knowledge

Bon Taksi

February 10, 2012 3 comments

 Jakarta, 10 February 2012

Tengah malam

Sebuah perspektif dan lingkungan akan mengarahkan kita melihat sebuah pernyataan. Ketika banyak orang yang idealis, jujur, soleh dan “rajin menabung”, maka istilah idealis tetap menjadi kata yang terdengar baik. Sedangkan, ketika Anda berada di lingkungan yang sebaliknya yang penuh dengan “realistis” dan “adaptif”, maka kata naïf yang sering keluar. Sejujurnya, saya tidak terlalu paham makna naïf sebenarnya (selain keterkaitannya dengan grup band ibukota). Tetapi, terdengar mendekati kata “munafik” (coba Anda lafazkan munaif dan munafik secara bergantian, sepertinya mereka bersaudara ya?). Yah, intinya, terkesan jelek-lah.

Kenapa saya membahas istilah naïf dan idealis di awal? Karena tulisan ini akan membuat Anda men-judge saya dengan satu kata di antara dua kata tersebut. Tergantung dimana hati Anda kini berada.

Taxi berwarna hitam (yang entah kenapa diberi nama “silver”) bermerk Camry atau Mercy sering saya gunakan jasanya sebagai alat transportasi kosan-airport dan sebaliknya untuk penerbangan yang bertujuan untuk keperluan perusahaan tempat saya bekerja. Taxi ini memang berkesan high class dan memang memberikan service sesuai dengan ekspektasi dan harganya. Jika Anda duduk di kursi belakang, Anda akan merasakan betapa leluasanya kaki Anda terletak dan posisi jok mobil yang ergonomis membuat sebuah kenyaman tertentu di punggung Anda. Selain itu, suara mesin yang halus dan sirkulasi udara yang terencana akan membuat kesan yang berbeda, seakan-akan membuat Anda terhipnotis dan kembali ke haribaan pulau kapuk. Apalagi kalau Anda harus berangkat ke bandara sebelum Shubuh (Wajar!!!).

Jadi, buat para pihak yang meng-claim mampu merancang dan membuat mobil, Anda sebaiknya berfikir untuk membuat standard yang menunjukkan kualitas produk Anda. Kalau cuma sekedar membuat “mesin bubut” yang mampu menggerakkan 4 roda, sebaiknya Anda mempertimbangkan ulang claim Anda.

Kembali ke Taxi. Berhubung tujuan penggunaan Taxi ini untuk keperluan kantor, maka kantor berkewajiban mengembalikan uang yang saya keluarkan untuk biaya taxi ini. Buktinya apa? Tentu saja kuitansi atau sebut saja bon.

Saya berkali-kali bertransaksi dalam pembayaran ongkos taxi sejenis ini setahun belakangan ini. Tapi, ketika Saya hanya memulai percakapan:

“Pak, tolong bon-nya”.

Maka, jawaban sang sopir: “Ini pak bon-nya” (dengan nominal uang yang kosong setelah ditandatangani)

Saya tanya: “Kok kosong, Pak. Tolong isikan dulu nominalnya”

Sang Sopir: “Mau diisi berapa, Pak?”

Saya jawab: “Lah, itukan ada bilangannya di argo, jangan lupa tambahkan ongkos tol-nya ya, Pak. Oiya, tambahkan juga uang capek bapak udah jemput saya pagi buta gini. Nanti saya bayar segitu”

Sang Sopir: — melongok atau bengong

Dialog seperti itu berulang-ulang dengan gaya yang berbeda-beda apabila saya memulai dengan “Pak, tolong bon-nya”.

Sampai akhirnya, saya bosan dengan dialog seperti dan keluar pernyataan singkat yang selalu saya gunakan beberapa bulan belakangan ini.

“Pak, tolong bon-nya, gak pake korupsi, saya gak mau masuk neraka!” (sambil tertawa kecil)

Pernyataan ini ternyata memberikan beberapa jenis reaksi dari beberapa sopir taksi.

  1. Tertawa kecil dan senyum
  2. Berkata: “wah, ternyata, masih ada ya, pak”.. sambil tersenyum
  3. Diam dan jengkel. Mungkin merasa tidak dapat jatah ya? Hehe..

Akan tetapi, yang menggelitik rasa ingin tahu saya adalah jenis reaksi nomor 2; “wah, ternyata, masih ada ya, pak”.. Betapa adalah menjadi sebuah kebiasaan mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Sebenarnya, sudah ada beberapa instansi atau perusahaan yang membuat strategi baru untuk menutup kemungkinan “main” ini. Kalau tidak salah, namanya sejenis voucher. Pada dasarnya, si penumpang membawa sebuah voucher atau semacam kertas berkode dari perusahaan dari tempat ia bekerja. Nah, dengan kode tersebut, sang perusahaan taxi tinggal hanya perlu meng-invoice atau menagih nilai service yang taxi lakukan langsung pada perusahaan yang bersangkutan secara elektronis.

Solusi kedua adalah “Ingat mati, hidup hanya sementara”..

Salam

Risvan Dirza

(catatan kaki pengelana tanpa pendengar)